Menggenggam Rindu (Sebuah Penantian)

Menggenggam Rindu (Sebuah Penantian)
Apa kamu memberikan restu?


__ADS_3

Cindy yang masih terbaring di atas tempat tidur, terkejut saat pintu kamar di buka dengan kasar. Ia menoleh dan kedua matanya membola sempurna saat melihat Aries berlumuran darah. Ia segera mendudukkan diri, dengan susah payah, ia segera menghampiri Airies.


"Apa yang terjadi?" tanya Cindy sangat cemas bercampur takut melihat darah yang sangat banyak dibadan Aries.


"Apa mata kamu buta?! Cepat ambilkan alat medis di kamar sebelah!" bentak Aries dengan kuat.


Cindy memejamkan matanya, saat mendapat bentakan itu, dan ia segera mengambil alat medis yang diminta oleh Aries.


"Aku harus apa?" tanya Cindy dengan nada yang bergetar, menahan tangis dan juga ketakutan. "Dan siapa yang melakukan smeua ini kemapda kamu?" tanya Cindy sembari mendudukkan diri di samping Aries sembari meletakkan alat medis di atas meja kamarnya.


"Diamlah! Ini semua gara-gara kamu!" bentak Aries lagi, sembari melepaskan kaosnya yang sudah berlumuran darah. Ia meringis sakit saat menggerakkan pundaknya.


Cindy menundukkan kepala dengan perasaan sedih, namun ia juga berfikir, apakah yang melakukan semua ini adalah Ryan? Jika iya, maka sebentar lagi, ia akan merasakan hal yang sama seperti Aries.


Aries sedang berjuang mengeluarkan peluru yang bersarang di pundaknya dengan pisau kecil yang steril. Ia menahan rasa sakit yang luar biasa yang mulai menjalar keseluruh tubuhnya.

__ADS_1


Sedangkan Cindy menatap Aries dengan perasaan yang sangat iba, hatinya tergerak untuk membantu Aries. Walaupun sering disakiti, akan tetapi Aries masih suaminya dan ia harus membantu suaminya di saat sedang susah atau sakit seperti ini.


"Biarkan aku membantumu untuk mengeluarkan peluru itu," ucap Cindy dengan tangan yang bergetar


"Tidak perlu!" sentak Aries. Kemudian ia berteriak keras saat berhasil mengeluarkan peluru itu. Tubuh Aries langsung lemas, seolah tenaganya terkuras habis, sedangkan Cindy dengan sigap membersihkan luka Aries dan membalutnya dengan kain kasa.


*


*


*


"Apakah kamu ingin membunuhnya baru puas? Yang ada kamu akan masuk penjara lagi. Harus bisa berdamai dengan hatimu, dan selanjutnya biar Tuhan saja memberikan hukuman kepada dia. Ingat hukum karma itu berlaku," jawab Ryan dengan tegas.


"Sekarang kamu fokus untuk meluluhkan hati Safira," lanjut Ryan dan di angguki oleh Jeff.

__ADS_1


Ryan benar, jika hukum karma masih berlaku. Dan Tuhan akan memberikan hukuman yang setimpal kepada orang yang sudah berbuat jahat.


"Jadi kamu memberikan aku restu?" tanya Jeff, seraya melirik Ryan yang sedang menyesap rokok.


"Terpaksa!" jawab Ryan ketus.


"Sial! Aku akan mengadukanmu kepada Crystal jika kamu masih merokok!" balas Jeff menyeringai licik.


"Bangsat! Coba saja kalau kamu berani, dan aku akan menembak kepalamu!" umpat Ryan, seraya mengangkat senjata apinya.


"Cih! Kamu mengancamku karena kamu takut sama istri 'kan? Dasar lemah!" cibir Jeff lagi, bibirnya berkedut menahan tawa, saat melihat eksperi wajah Ryan yang kesal.


"Aku bukannya lemah, tapi aku menghargainya istriku, karena aku sangat mencintainya. Dan kamu akan tahu nanti, jika tidur di luar itu sangat menyeramkan bagiku," jawab Ryan dengan jujur, karena ia tidak ingin di hukum oleh istrinya. Tidur di luar adalah hal yang paling menyeramkan bagi para suami.


"Ternyata di balik sifat arogan-mu ada sifat yang sangat lembut ya. Ah, kamu sangat menggemaskan," ucap Jeff sembari terkekeh geli.

__ADS_1


Sedangkan Ryan terus mengumpati Jeff dengan kasar. Jeff bukannya takut, malahan semakin menggoda Ryan.


Like dan sawerannya jangan lupa ya❤❤💃💃💃


__ADS_2