
Jeff semakin tidak terkendali, ia sudah tidak tahan lagi. Si Jery sudah meronta-ronta ingin segera di keluarkan dan juga ingin segera di puaskan.
"Jeff hentikan!" Safira melapaskan ciuman itu dengan paksa, nafasnya terengah-engah, lalu menarik tangan Jeff yang sudah membelai lembahnya yang basah.
"Kenapa?" tanya Jeff dengan tatapan sayu dan suara yang sangat berat.
"Kita tidak boleh melakukannya. Kita tidak boleh melakukan kesalahan yang sama, cukup malam itu saja," ucap Safira, seraya mengusap rahang tegas yang di tumbuhi bulu-bulu halus itu dengan penuh kelembutan.
Jeff memejamkan matanya erat, akala sehatnya mulai kembali lagi. Lalu ia merengkuh tubuh Safira dengan erat. "Maaf, hampir saja," ucap Jeff penuh sesal.
Kemudian Safira turun dari pangkuan Jeff sembari menutupi bagian dadanya yang terpapang sempurna. Jeff tersenyum melihatnya, banyak jejak pendakian yang ia tinggalkan di dua bukit kembar yang putih dan mulus itu.
"Ambilkan Dress dan juga Bra-ku," pinta Safira kepada Jeff yang masih saja menatapnya tidak berkedip.
"Jeff!!!"
"Iya, Sayang," jawab Jeff, seraya memasukkan salah satu tangannya ke dalam celananya, membenarkan posisi Si Jery yang terasa miring.
"Astaga Jeff!" kesal Safira melihat kelakuan Jeff yang tidak malu sama sekali di hadapannya.
__ADS_1
Jeff tersenyum tengil, lalu beranjak mengambil Dress dan juga Bra milik kekasihnya.
"Nah, pakailah. Pulang dari sini kita menikah ya," ucap Jeff, sembari menyerahkan pakaian Safira, dengan cepat Safira menerimanya dan segera memakainya.
"Kamu pikir semudah itu?" tanya Safira
"Tentu saja mudah, apa lagi yang aku butuhkan? Restu dari Papi, Mami, Crystal dan juga Ryan sudah aku dapatkan," jawab Jeff dengan percaya diri.
"Kamu melupakan dua orang yang paling penting dalam hidupku," ucap Safira, sembari menyisir rambutnya dengan lima jarinya.
"Siapa?" tanya Jeff.
"Daddy Xander dan Mommy Jeje," jawab Safira seraya mengulum senyum..
Glek
Jeff menelan ludahnya dengan kasar, saat mendengar ucapan Safira. Ini akan sulit baginya untuk mendapatkan restu dari Xander dan Jeje, mengingat kedua orang itu sudah sangat membencinya.
"Kenapa wajahmu jadi pucat begitu? Apakah kamu takut?" ledek Safira.
__ADS_1
"Ta-takut? Te-tentu saja tidak," sangkal Jeff dengan terbata.
"Bagus kalau begitu," jawab Safira seraya tersenyum penuh arti.
Jeff menenggakkan posisi duduknya, entah kenapa ia menjadi sanggat gugup dan jantungnya berdetak tidak karuan. "Ya, Tuhan, beri aku kemudahan untuk menghalalkan Safira." Doa Jeff di dalam hati.
Jeff segera melakukan mobilnya, mengantarkan Safira pulang ke rumah. "Besok kamu harus masuk kerja," ucap Jeff, kepada kekasihnya
"Aku 'kan sudah resign," jawab Safira, seraya menoleh ke arah Jeff yang sedang fokus menyetir.
"Sayang ... Please ..." Pinta Jeff, memohon, lalu menggenggam tangan Safira dengan penuh kelembutan.
"Apa yang akan aku dapatkan?" tanya Safira, seraya menatap wajah tampan Jeff.
"Apa pun yang kamu inginkan? Segalanya akan aku berikan kepadamu. Termasuk aset dan hartaku akan aku berikan kepadamu, yang penting kamu tidak pergi menjauh dariku." Ucapan Jeff terdengar seperti bualan, akan tetapi, ia mengatakannya dengan kesungguhan.
"Oh, bagus itu. Karena aku tidak hanya butuh kata cinta saja, aku juga butuh uang untuk bertahan hidup," ucap Safira apa adanya.
Benar begitu 'kan? Wanita tidak hanya ingin kata cinta, tapi sekarang uang adalah lebih dari segalanya, bukan matrealistis akan tetapi realistis.
__ADS_1
"Apa pun untukmu, Sayang," ucap Jeff, sembari mengecup punggung tangan Safira dengan mesra, tanpa menatap Safira, karena saat ini sedang fokus menyetir mobil.
Jangan lupa kasih Vote, like dan sawerannya💃💃❤