
Jeff duduk di balik kemudi mobil, sedangkan Ryan duduk di bangku penumpang, tepat di samping Jeff.
Ryan duduk santai sambil mengisi senjata apinya dengan peluru, ia membawa itu untuk mengantisipasi jika musuh melakukan perlawanan.
Krek
"Apa kamu mau coba peluru ini menembus jantungmu?" tanya Ryan, sembari menodongkan senjata apinya ke arah Jeff.
"Ryan! Jangan macam-macam!" ucap Jeff, sudah lama dirinya tidak bergelut dengan senjata api, membuatnya sedikit takut.
Ryan tersenyum miring, lalu menurunkan senjata apinya. "Ternyata kamu masih punya rasa takut juga ya!" cibir Ryan.
Jeff memebenarkan posisi duduknya agar lebih nyaman, berdekatan dengan Ryan dalam kondisi seperti ini membuatnya panas dingin. Bagaimana tidak? Jika Ryan memegang dua senjata api di tangannya. Dan bisa saja pria itu menghabisinya kapan saja, karena masih marah dengannya.
"Aku tidak takut!" Jeff menyanggah perkataan Ryan. "Hanya saja jika nanti aku mati, Safira dan anakku bagaimana?" ucap Jeff. Ia ingin berterus terang kepada Ryan. Walaupun akhirnya nanti ia akan di kulit hidup-hidup oleh Ryan.
"What?! Anak?" Ryan memicingkan matanya.
__ADS_1
Jeff mengangguk pelan. "Aku sudah melakukannya dengan Safira beberapa hari yang lalu," jelas Jeff.
Ryan melotot sempurna, lalu menodongkan senjata apinya ke pelipis Jeff dengan penuh amarah. "Kamu ini benar-benar seorang bajingan! Beraninya kamu merusak masa depan adik iparku!"
"Ya, aku memang bajingan! Lalu bukankah kita ini sama? Dulu, kamu mendapatkan Crystal juga dengan cara yang menjijikkan bukan? Heum, bahkan kamu mengumpankan istrimu sendiri kepadaku hanya untuk menjalankan missi," ucap Jeff.
"Sialan!" Dan berbagai umpatan kasar lainnya keluar dari mulut Ryan dan ditunjukkan kepada Jeff. Ryan menjadi teringat masa lalunya saat mengambil kesucian Crystal saat menjalankan missi-nya untuk menangkap Jeff.
Ryan menurunkan senjata apinya lagi. "Ya, kita memang sama-sama bajingan. Tapi, kami dulu melakukannya atas dasar saling suka. Dan kamu pasti yang memaksa Safira 'kan?" tebak Ryan, sembari melayangkan bogem mentah ke wajah Jeff.
"Shitt!!!" umpat Jeff, saat mendapat bogem itu, dan mobil yang ia kendarai sampai oleng dan hampir menabrak pembatas jalan.
Ryan tersenyum puas melihatnya, apalagi saat melihat ada darah segar mengalir dari sudut bibir Jeff. "Itu belum seberapa!" geram Ryan.
Jeff membenarkan posisi duduknya, sembari menggelengkan kepalanya berulang kali, telinganya berdengung karena efek dari pukulan Ryan. Ia mengusap sudut bibirnya yang terasa perih. Kemudian ia melirik Ryan, tanpa niat membalas sama sekali.
*
__ADS_1
*
*
Mobil yang di kendarai Jeff sudah sampai di halaman rumah Aries dan Cindy. Kedua pria itu keluar dari mobil dan menuju pintu rumah yang terbuka lebar. Tanpa banyak kata, Jeff dan Ryan segera memasuki rumag tersebut.
Mata tajam Ryan mengendar ke setiap sudut rumah tersebut. Mengisyaratkan Jeff agar jalan dengan sangat pelan saat melangkah semakin masuk ke rumah tersebut.
Namun langkahnya terhenti saat melihat Aries menuruni tangga. Aries tampak terkejut melihat kehadiran Ryan dan Jeff, namun sepertinya pria itu berusaha untuk bersikap biasa.
"Oh, ada tamu tidak di undang ternyata," ucap Aries, seraya mengusap tengkuknya.
Ryan menatap datar Aries, ia sangat geram sekali dengan pria tersebut dan tidak menyangka jika Aries bisa berbuat seperti itu.
"Aku tidak perlu berbasa-basi lagi! Aries yang aku kenal dulu sangat baik, tapi ternyata ... ." Ryan sengaja menggantung ucapannya, seraya tersenyum setan.
Jangan lupa like-nya ya❤❤
__ADS_1