Menggenggam Rindu (Sebuah Penantian)

Menggenggam Rindu (Sebuah Penantian)
Hanya Dia


__ADS_3

Hari sudah berganti. Safira sudah bersiap dengan pakaian kerjanya. Safira terlihat sangat cantik. Kemeja berwarna tosca melekat di tubuh rampingnya, dan di padukan dengan rok sepan di bawah lutut. Senyum terus melengkung di bibir manisnya. Biasanya ia akan ogah-ogahan saat akan berangkat berkerja, namun kali ini berbeda, ia merasa senang dan juga bahagia.


“Ternyata berdamai dengan hati itu membuatku merasa tenang,” gumam Safira, sembari menatap dirinya di pantulan cermin yang ada di hadapannya. Ia baru saja selesai memoles wajahnya dengan make-up tipis, terlihat semakin sangat cantik. Lalu ia meraih sisir untuk menyisir rambutnya yang panjang dan indah. Setelah selesai, ia segera beranjak dari kamarnya, menuju ruang makan.


“Morning,” sapa Safira kepada Devan dan Raya yang sudah menunggunya di meja makan.


Devan dan Raya, saling pandang ketika melihat putri mereka ceria dan bahagia.


“Apakah kamu habis menang lotre?” tanya Devan kepada Safira.


“Lebih dari lotre,” jawab Safira, sembari mengulas senyum bahagia.


“Wah, benarkah? Dan kenapa kamu memakai pakaian kerja? Bukankah kamu sudah resign?” Raya menimpali sekaligus bertanya kepada putrinya yang sedang mengoleskan selai stroberri ke permukaan roti tawar.


Lagi-lagi Safira hanya menjawab dengan senyuman, lalu menujukkan jadi manisnya yang melekat cincin berlian yang terlihat sederhana namun sangat elegan.


“Woah!” pekik Raya terkejut seraya menutup mulutnya. “Papi, itu ‘kan cincin yang minta kemarin. Hanya ada dua di Indonesia, limited edition,” seru Raya, lalu beranjak, berpindah duduk di samping putrinya yang duduk berseberangan dengannya.


Devan turut terkejut, matanya juga membulat sempurna, saat melihat putrinya memakai cincin super mahal dan nilainya sampai ratusan juta.


“Ini cincin seharga mobil Pajero, Fira! Dari mana kamu mendapatkan cincin semahal ini? Oh, ya ampun, Mami ingin lihat.” Raya sangat antusias, seraya meneliti cincin yang melingkar di jari manis Safira.


“Aku mendapatkannya dari Jeff,” jawab Safira dengan jujur. “Dan Mami tidak boleh melepaskannya! Ini milikku!” kesalnya, sembari menarik tangannya, saat ibunya berusaha melepaskan cincin itu dari jari manisnya.


“Ish, pelit! Jadi kamu sudah baikkan dengan Jeff? Pria bajingan itu? Hais, murah sekali kamu, hanya di beri cincin murahan seperti ini, langsung luluh!” ucap Raya dengan kesal dan tidak berfilter.


Devan melihat kedua wanita yang di cintainya sedang bertengkar pun hanya menggeleng pelan.


“What! Mami bilang apa tadi? Aku murahan?” pekik Safira, tidak percaya dengan perkataan ibunya.

__ADS_1


“Iya, seharusnya kamu jangan luluh di beri cincin itu saja. Kamu harusnya bisa mendapatkan hal yang lebih berharga dari ini,” ucap Raya, sembari menunjuk cincin Safira


.


“Jangan khawatir, Mam, sebentar lagi, semua aset Jeff pindah ke tanganku,” jawab Safira.


“Benarkah? Bagus itu, seorang wanita harus bisa mengusai segalanya, biar pria tidak bisa berkutik dan tidak main serong di luar sana!” jawab Raya, seraya melirik suaminya dengan tajam.


“Eh! Kenapa kamu melirikku seperti itu?” Devan menjadi salah tingkah, sembari menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


“Kemarin enak ya, makan siang bersama sekretaris yang bohai!” sindir Raya dengan tajam, membuat Devan kesulitan untuk bernafas.


“Mami tahu dari mana?” tanya Devan dengan wajah yang terlihat pias.


“Mata-mataku ini banyak! Segala tingkah lakumu di luar sana, aku tahu! Jangan sampai aku kehilangan kesabaran dan berakhir memotong terong gantungmu itu!” ucap Raya penuh penekanan dan menatap tajam Devan.


Sontak saja, Devan langsung membekap dede gantengnya, sembari merapatkan pahanya, sambil meringis ngilu membayangkannya.


“Kalau Kak Ryan tahu kelakuan Papi, kepala Papi akan di tembak!” lanjut Safira, membuat Devan semakin tersudut.


“Nanti malam tidur di luar sampai 1 minggu!” Raya memberikan hukuman kepada suaminya.


Devan hanya pasrah saja, mendapatkan hukuman dari istrinya. Dirinya memang salah, tidak bisa melihat gadis yang bening sedikit.


“Dan aku akan memecat sekretaris-mu itu dan akan mencarikan sekretaris yang baru!” putus Raya, dan lagi-lagi Devan pasrah dengan keputusan istrinya.


“Aku saja yang mencarikan sekretaris baru untuk Papi.” Safira menimpali, lalu segera pergi dari ruangan makan itu dengan perasaan kesal.


“Semua pria sama saja!” ucap Safira sedikit keras, dan penuh penekanan.

__ADS_1


*


*


Safira mengendarai mobilnya dengan perasaan yang teramat kesal, memikirkan Papinya yang sepertinya memasuki puber ketiga.


Tidak berselang lama, ia sudah sampai di perusahaan Jeff. Ia segera turun dari dalam mobil dan memasuki gedung megah dan menjulang itu dengan langkah yang santai. Ia menebar senyuman, kepada semua karyawan yang menyapanya, termasuk karyawan pria.


Sampai di ruangannya, ia sudah melihat Jeff sudah duduk di kursi kerja, sembari menatapnya sebal dan menyilangkan kedua tangan di dada.


Safira yang melihatnya pun mengerut heran, seraya berjalan pelan menghampiri Jeff. “Why?” tanya Safira. Jantungnya kini berdetak dengan cepat, bukan karena, merasa takut dan sakit hati seperti hari-hari sebelumnya saat bertemu dengan Jeff, akan tetapi ia merasakan debaran cinta yang membuncah di dalam dada.


“Kemari!” titah Jeff dengan tegas. Kemudian ia menarik tangan Safira saat gadis itu sudah berada di dekatnya. Hingga membuat Safir jatuh di atas pangkuan Jeff.


Jeff langsung mengunci pergerakan Safira, melingkarkan kedua tangannya di pinggang Safira dengan erat. “Berani sekali kamu tersenyum kepada pria lain!” ucap Jeff, seraya menggigit hidung mancung Safira dengan gemas.


Safira tergelak di buatnya karena merasa geli, kemudian ia mengalungkan kedua tangannya di leher Jeff yang kokoh itu, seraya mencium rahang tegas Jeff yang ditumbuhi bulu-bulu kasar itu dengan lembut. “Aku tersenyum dengan pria lain? Kapan?” tanya Safira, seraya memperlihatkan senyuman manis kepada Jeff.


Jeff yang melihat senyuman manis dan merekah di bibir Safira pun tidak tahan untuk tidak mencium bibir yang sudah menjadi candunya itu.


Jeff melabuhkan ciuman mesra, dan Safira pun membalas ciuman itu dengan hati yang berbunga. Mereka saling berciuman dengan penuh kelembutan, saling menyesap dan meluumat tanpa ada hasrat, mereka hanya menyalurkan kasih sayang dan cinta mereka.


“Sebuah penantian yang selama ini aku harapkan akhirnya perlahan akan terwujud. Aku mencintainya tanpa syarat, aku mencintai dia sepenuh hatiku. Sebuah rindu yang selama ini aku genggam sendiri, akhirnya telah terobati dengan sebuah cinta yang begitu besar yang telah dia berikan kepadaku. Hanya dia yang aku inginkan, hanya dia yang ada di dalam hatiku. Hanya dia yang mampu membuat hati ini bergetar karena rasa cinta. Aku benar-benar sangat mencintainya. Semoga setelah ini tidak ada cobaan lagi yang menghalangi perjalanan kisah cinta kami.” batin Safira, disela ciumannya.


*


*


*

__ADS_1


Jangan lupa berikan like, komentar, vote, dan hadiah, biar Mak semakin semangat melanjutkan ceritanya.


Berikan hadiah yang banyak, karena Give away beberapa hari lagi akan segera di mulai. Love you semuanya ❤❤❤


__ADS_2