
Cindy menahan air matanya yang sudah akan terjun ke pipinya, ia tersenyum miris, lalu segera berdiri dari atas lantai. Ia berpikir, jika Crystal pasti sudah tahu tentang kejahatannya.
“Maafkan aku, Crys. Aku mohon maafkan aku.” Cindy menangkupkan kedua tangannya di dada, seraya menatap Crystal dengan nada memohon.
“Cih! Maaf kamu bilang?” Crystal tersenyum mengejek, sembari menggelengkan kepalanya berulang kali. Tidak habis pikir dengan wanita laknat yang ada di hadapannya ini.
“Setelah apa yang kamu perbuat ke Safira, dengan mudahnya kamu meminta maaf?!” Crystal mencibir Cindy tiada henti.
Ucapan Crystal begitu menohok di hati Cindy, wanita itu terpaku dan tidak mampu untuk membela diri atau pun mengelak, karena ia salah dan sangat berdosa karena sudah berbuat jahat.
“Katakan Crys, aku harus apa? Agar kamu memaafkan aku,” jawab Cindy menahan rasa sesak di dalam dada. Ia menatap di bola mata Crystal yang menatapnya dengan tajam, penuh kebencian dan kekecewaan. Oh, Tuhan, kenapa dulu dirinya sangat bodoh? Kenapa dulu ia tidak berpikir panjang, hanya karena sebuah cinta yang semu, ia rela melakukan apa pun demi pria yang di cintainya. Kini dirinya menyesal, karena semua orang terdekatnya telah membencinya.
“Kamu tidak perlu melakukan apa pun! Tapi, jangan pernah kamu menampakkan wajahmu di hadapan keluargaku! Aku sangat kecewa denganmu, Cin! Teman yang sudah aku anggap sebagai saudara sendiri ternyata serigala berbulu domba! Persahabatan kita putus sampai disini!” ucap Crystal sembari melepaskan gelang persahabatan mereka dan melemparkan ke arah Cindy.
__ADS_1
Setelah itu, ia segera pergi dari hadapan Cindy dengan perasaan sakit dan sesak luar biasa di dalam dada. Tanpa terasa air matanya mengalir deras membasahi pipinya. Bagaimana pun juga, ia merasa sedih dan juga menyesal karena sudah mengatakan kata-kata yang menyakitkan kepada Cindy, akan tetapi rasa sakit hati dan kecewa lebih dominan di hatinya.
Cindy tidak mampu menahan air matanya lagi, ia berjongkok, lalu memungut gelang yang teronggok di atas lantai dengan perasaan yang tidak karuan.
Crystal yang sudah berada di Coffe Shop, kini menangis sesegukan di pelukan suaminya. “Aku sedih dan juga kecewa,” ucap Crystal dengan suara seraknya. “Apakah aku sudah keterlaluan?” tanya Crystal kepada suaminya.
“Biarkan semua ini menjadi pelajaran untuk Cindy, sikapmu memang keterlaluan, akan tetapi dia lebih keterlaluan lagi karena sudah berani menjebak Safira,” jawab Ryan, seraya mengelus lengan istrinya dengan lembut.
*
*
*
__ADS_1
Sementara itu di Rumah Sakit di mana Jeff saat ini sedang di tangani di ruangan IGD, Safira tampak gelisah dan sangat takut jika Jeff mengalami cidera parah.
“Bagaimana keadaannya, Dok?” tanya Safira, saat Dokter yang menangani Jeff keluar dari ruangan tersebut.
“Tidak ada masalah yang serius, hanya luka kecil dan memar biasa,” jawab Dokter.
“Benarkah itu? Apakah tangan dan tulang rusuknya baik-baik saja?” tanya Safira yang masih memasang wajah yang sangat khawatir.
“Semua baik-baik saja, Nona. Tidak ada luka yang serius,” jawab Dokter lagi.
“Dan setelah ini pasien boleh pulang, tidak perlu rawat inap,” lanjut Dokter tersebut, segera pamit undur diri, untuk menangani pasien lain. Tidak lupa, Safira mengucapkan banyak terima kasih, sebelum Dokter tersebut berlalu.
Jangan lupa beri dukungannya untuk Emak, biar makin semangat
__ADS_1