
Cindy menegang ketika melihat seorang pria tampan memasuki ruangannya.
"Kau!!" Cindy membulatkan matanya dengan lebar saat melihat Maxim berdiri di dekat pintu, menatapnya sinis seraya memasukkan kedua tangannya di kantong celananya.
"Kaget ya?" Maxim menyeringai tipis, berjalan mendekati Cindy yang duduk di balik meja kerjanya.
"Ya, a-aku sedikit kaget," jawab Cindy dengan terbata, seraya bangkit dari duduknya dan mempersilahkan Maxim duduk di kursi yang berseberangan dengannya.
"Well! Aku kemari untuk bertanya suatu hal kepadamu," ucap Maxim saat sudah duduk di kursi, menatap Cindy dengan lekat.
"Be-bertanya apa?" tanya Cindy yang kini sudah duduk kembali membalas tatapan Maxim.
"Mengenai Jeff Smith, kenapa mereka menikah? Bukankah hubungan mereka sudah berakhir?!" tanya Max dengan nada yang kesal.
__ADS_1
"Aku tidak tahu, kenapa kamu bertanya kepadaku!" balas Cindy tidak kalah kesal, namun di balik itu semua ia juga terkejut saat mendengar jika Safira dan Jeff menikah, tapi sebisa mungkin dirinya menutupi rasa terkejutnya itu. "Lagi pula jika takdir mereka berjodoh, walau pun mereka berpisah lama atau pun ratusan tahun sekali pun mereka akan bersatu!" lanjut Cindy.
"Ck! Ini semua gara-gara kamu!" Max menuding wajah Cindy dengan perasaan kesal.
"Hei! Kenapa harus aku?" Cindy menunjuk dirinya sendiri, dengan bingung.
"Iya, jika kamu saat itu tidak mempertemukan aku dengan Safira, aku tidak akan segila ini! Aku jatuh cinta kepadanya pada pandangan pertama. Dan yang membuatku gila lagi adalah saat melihat Bukit kembarnya yang bulat dan menantang, juga lekuk tubuhnya sangat sempurna, dan sialnya dia sudah menikah dengan Jeff. Kamu harus membantuku untuk mendapatkan Safira!" tegas Max kepada Cindy.
"Apa kamu gila! Dasar otak mesum!" Cindy menggulung salah satu map yang ada di atas mejanya, lalu memukulkannya ke kepala Max berulang kali.
"Aku tidak akan melakukan kesalahan yang kedua kalinya! Apakah kamu tahu jika sebenarnya aku ...." selanjutnya Cindy menceritakan kisah hidupnya yang sengsara itu kepada Maxim, sahabatnya sekaligus partner bisnisnya.
"Kamu pikir aku peduli dengan kisah hidupmu yang tragis itu?! Kamu gila karna cinta bajingan itu, hingga di butakan cinta jadi nikmatilah hasil dari perbuatanmu sendiri!" jawab Max, tanpa berempati sama sekali kepada Cindy.
"Dan kamu pikir perbuatanmu ingin merebut Safira itu baik? Hei! Berkaca pada dirimu sendiri sebelum kamu mengataiku, sialan!" maki Cindy dengan menggebu.
__ADS_1
Max menyunggingkan senyuman miring, terkekeh dengan perkataan Cindy. "Aku sekarang lebih tertantang dengan istri orang. Istri orang itu lebih menggoda dari pada perawan," jawab Maxim dengan santai.
Cindy menggeleng pelan pelan sebagai jawab, tidak habis pikir dengan sahabatnya itu. "Aku rasa otakmu harus di bawa ke ketok magic!" ucap Cindy kesal.
"Dan kamu juga sama halnya, jika kamu menderita dengan pernikahanmu, kenapa kamu tidak melepaskan lelaki biadab itu?!" tanya Max, sembil geleng-geleng kepala.
"Aku sudh terjerat olehnya, dan dia tidak akan melepaskan aku begitu saja," jawab Cindy dengan tatapan penuh luka.
"Yes, hidup itu pilihan, kamu memilih menikah dan menjebaknya juga pilihanmu sendiri 'kan?" balas Max, turut prihatin dengan nasib temannya ini.
"Ya, kamu benar, Max. Hidup itu adalah pilihan, dan aku menyesali pilihanku sendiri, aku terlalu buta aka cinta yang semu," ucap Cindy dengan mata yang berkaca-kaca.
"Yeah, kamu tinggal menikmati saja pilihan hidupmu itu," jawab Max, terdengar sangat menyebalkan.
Terima kasih semuanya, jangan lupa folloe Ig Emak @thalindalena
__ADS_1