
Yuhu, hari ini Emak mau Crazy up jangan lupa beri dukungan dengan cara kasih Vote, like, dan juga kembang dan kopi sedrum. Terima kasih bestie❤❤
“Ada apa, Sayang?” tanya Jeff sekali lagi dengan raut wajah yang bingung ketika melihat istrinya diam saja.
“Jeff, apakah dia sudah tumbuh di sini?” tanya Safira, menatap Jeff lalu mengusap perutnya lagi dengan lembut.
“Apa maksudnya? Apakah Jeff junior sudah ada di dalam sini?” tanya Jeff dengan perasaan tidak karuan. Benarkah benihnya sudah berhasil tumbuh di rahim istrinya? Jika iya, Si Jery patut di acungi jempol karena Top Cer.
Safira mengangguk sebagai jawaban. “Tapi, belum pasti, kita harus mengeceknya untuk memastikannya,” jawab Safira.
“Ya, sudah tunggu apa lagi. Ayo, kita ke rumah sakit,” ucap Jeff sangat antusias dan beranjak dari duduknya.
“Tunggu dulu, kita tidak perlu terburu-buru seperti ini. A-aku takut hasilnya mengecewakan nantinya,” ucap Safira pelan, seraya menarik tangan suaminya agar duduk kembali di tempatnya. Ia tidak ingin mengecewakan, apalagi melihat wajah Jeff yang sudah terlihat sangat berbinar.
“Tapi--”
“Jeff, habiskan makanannya dulu, habis itu kita baru ke rumah sakit,” potong Safira, dan di angguki Jeff karena tidak bisa membantah ucapan istri cantiknya. Dan mereka melanjutkan makan siang, mereka yang tertunda.
Di sisi lain, Maxim dan Cindy baru memasuki restoran jepang yang sama dengan pengantin baru itu.
“Semua meja penuh,” ucap Cindy, sembari celingukan menatap setiap sudut restoran tersebut yang terlihat penuh. Banyak pekerja kantoran yang makan siang di sana.
Mata Cindy memicing ketika melihat dua orang yang ia kenal.
“Jeff, Safira,” ucap Cindy pelan, namun masih di dengar oleh Maxim. Dan pria tersebut langsung menatap di mana kedua mata Cindy mengarah.
Max tersenyum miring, dan langsung menarik tangan Cindy menuju meja Safira dan Jeff.
“Max! Apa kau gila!” maki Cindy tertahan karena ia tidak ingin membuat keributan di restoran tersebut.
“Kita makan siang bersama mereka,” ucap Maxim tidak tahu malu, sembari menujuk Safira.
__ADS_1
“Big No.! Aku tidak punya muka berhadapan dengan mereka berdua, please!” ucap Cindy, seraya mengentakkan tangan Maxim dengan kuat.
“Bukan urusanku! Lagi pula aku ada perlu dengan mereka,” jawab Maxim dan terus menarik tangan Cindy lagi dengan paksa.
“Hai, selamat Siang, Tuan Jeff dan juga Nona Safira,” sapa Maxim dengan ramah dan di sertai senyuman lebar. Cindy langsung bersembunyi di balik punggung lebar pria itu. Ia merasa malu dan juga takut bertemu dengan Safira.
Safira dan Jeff yang sedang menikmati makan siangnya pun mendongak bersamaan, seraya mendengus kesal dan meletakkan sumpit yang ada di tangan kanan mereka dengan perasaan kesal.
Dengan tidak tahu malunya, Maxim langsung duduk di hadapan pengantin baru itu, sedangkan Cindy sudah ingin lari dari sana, akan tetapi tangannya di tarik Maxim.
“Mau kemana? Duduk!” tegas Maxim kepada Cindy.
Safira menatap sepasang manusia tidak tahu diri itu dengan perasaan kesal luar biasa.
“Ayo, kita pergi saja dari sini,” ucap Safira kepada suaminya. Jeff beranjak dan membantu Safira berdiri akan tetapi gerakannya terhenti saat mendengar ucapan Max yang membuat Jeff darah tinggi.
"Bagimana pengajuan kerja sama yang aku berikan kepadamu? Kenapa kamu tidak memberikan kabar? Apakah kamu ragu dengan perusahaanku? Dan aku yakin jika kamu berkerja sama denganku, kamu akan mendapat keuntungan yang banyak," cerocos Maxim, dan sesekali menatap wajah Safira yang terlihat semakin cantik jika sedang kesal.
"Perusahaan kami tidak butuh bekerja sama dengan Perusahaan kecil kamu!" tegas Jeff dengan suara yang terdengar datar dan juga sangat dingin.
Merasa terhina tentunya, Maxim mengepalkan salah satu telapak tangannya dengan erat.
"Jangan di hiraukan, Sayang. Lebih baik kita pergi dari sini, muak berhadapan dengan manusia tidak tahu malu!" ucap Safira sembari melirik malas Maxim dan juga Cindy bergantian.
Perkataan Safira, begitu menghujam dada Cindy, terasa sakit dan sesak, hingga membuatnya kesulitan untuk bernafas. Lidahnya terasa kelu, ingin berkata 'maaf' akan tetapi kata-kata itu seolah tertahan di ujung lidahnya.
Safira dan Jeff segera pergi meninggalkan restoran tersebut dengan perasaan yang jengkel, bahkan mereka sampai lupa jika harus pergi ke rumah sakit untuk memeriksa rahim Safira.
"Aku pulang Jeff," ucap Safira kepada Jeff, saat mereka sudah berada di depan kantor.
"He-em, hati-hati. Sepertinya aku akan pulang malam," jawab Jeff, dan di angguki Safira yang mengerti kondisi Safira.
__ADS_1
Jeff mengantarkan Safira sampai ke parkiran mobil dengan tangan yang saling bertaut mesra.
"Jangan pikirkan tentang pria tadi," ucap Jeff saat sudah sampai di parkiran mobil, tepatnya mereka berdiri di samping mobil Safira.
"Tidak," jawab Safira seraya tersenyum tulus, padahal di dalam hati berkecamuk.
"Oke, berikan aku satu ciuman," ucap Jeff lagi, sembari mengetuk bibirnya dengan jari telunjuknya.
Safira tersenyum simpul, tanpa di minta dua kali, ia menarik dasi suaminya yang menjuntai itu, hingga Jeff menunduk ke arahnya.
CUP
Satu ciuman hangat mendarat di permukaan bibir Jeff yang tebal dan Sexy itu. Jeff tersenyum di sela ciumanya, lalu menekan tengkuk Safira untuk memperdalam ciuman tersebut. Kedua larut dalam ciuman hangat yang memabukkan itu, saling menyesap, bertukat saliva-nya, membelit lidah, hingga ciuman itu terlepas saat mereka merasakan pasokan oksigen di paru-paru mereka menipis.
Keduanya saling menempelkan kening, sambil mengatur nafas yang tersengal. Jeff meraih pinggang Safira agar semakin merapat ke tubuhnya. "Sayang, Jery lapar," ucap Jeff, sembari menekankan Si Jery yang sudah tegak berdiri ke perut Safira.
"Ck! Jery puasa dulu sampai nanti malam," ucap Safira, dengan nakalnya meremat Si Jery dengan gemas, membuat Jeff mengerang tertahan. Kemudian Safira mendorong dada bidang Jeff agar menjauh darinya, dan segera masuk ke dalam mobilnya.
"Sayang, kamu menyiksaku!" kesal Jeff, dan Safira menjulurkan lidahnya, meledek suaminya. Kemudian Safira menyalakan mesin mobilny dan segera melajukan mobilnya itu meninggalkan suaminya yang ada di area parkir tersebut.
*
*
Di sisi lain, Cindy sedang merasa sedih luar biasa. "Ini semua karenamu yang tidak tahu malu!" umpat Cindy kepada Maxim. Ya ... mereka berdua masih berada di restoran untuk makan siang bersama. Tidak, tepatnya hanya Maxim saja yang makan, karena Cindy kehilangan nafsu makannya.
"Jangan banyak omong! Cepat habiskan makananmu!" ucap Maxim tanpa beban sama sekali.
"Apakah kamu ini tidak punya otak! Apakah kamu ini tidak punya malu?!" Cindy tidak habis pikir dengan sikap Maxim.
"Apa peduliku," jawab Maxim lagi dengan nada santai, dan terus melanjutkan makannya.
__ADS_1
Kesel nggak sih sama sikap Maxim? Kyaknya dia perlu di panaskan di atas kompor deh🤣🤣