Menggenggam Rindu (Sebuah Penantian)

Menggenggam Rindu (Sebuah Penantian)
Jery ingin berkunjung


__ADS_3

WARNING!!! Pada seneng ‘kan kalean? Kalau dapat peringatan begitu? Emak, mau Crazy up ya!


Bayar pakai like, Vote dan juga sajen, kembang dan kopi, awas kalau enggak di kasih, tak slepet kalian satu-satu.


Jeff melepaskan pagutannya, lalu mengusap bibir Safira yang basah karena saliva-nya. Ia menatap wajah Safira dengan dalam. Kemudian keduanya saling mengulas senyum, dan menempelkan bibir mereka lagi. Namun kali ini ciuman mereka tidak seperti yang pertama, kali ini ciuman itu di sertai gairah dan semakin menuntut. Saling ******* dan membelit lidah.


Safira yang tadinya berada di pelukan Jeff, kini sudah berada di bawah kungkungan Jeff, dengan bibir yang saling bertaut. “Emph.” Safira melenguh ketika, Jeff meremat dua gunung kembarnya bergantian.


“Jeff ... ah ...” Safira mendongakkan kepala, seraya melenguh enak, saat ciuman itu berpindah ke leher putihnya.


Jeff mencium, mengendus, menjilat leher Safira dengan penuh nafssu dan gairah. Tidak lupa, ia meninggalkan jejak kepemilikannya di sana.

__ADS_1


Kemudian, ciumannya itu kini semakin turun lagi, berhenti tepat di gunung kembar yang masih berbalut kemeja berwarna tosca.


Jeff menciumi dan menekan pucuk dada itu dengan gerakan yang sesual, membuat Safira semakin melenguh dan mendesah tidak tak karuan.


“Jeff, hentikan.” Safira sepertinya sudah kembali sadar, akan tetapi Jeff tidak mendengarkannya, pria itu sudah seperti harimau yang kelaparan.


“Jery lapar sayang, dia merindukan rumahnya,” ucap Jeff, sembari melepaskan satu persatu kancing kemeja Safira, hingga terbelah menjadi dua, dan terpampanglah gunung kembar yang menjulang tinggi yang masih terbungkus kain busa dan berenda itu.


Setelah kemeja Safira terbuka, kini tangan kekarnya beralih, mengangkat rok span Safira sampai pinggang, lalu menurunkan underware Safira dengan satu kali tarikan saja, underware tersebut sudah lolos dari kedua kaki Safira yang jenjang dan indah.


“Jery bilang tidak sanggup lagi jika harus menahannya, boleh ya. Jery hanya ingin mengintip saja,” bujuk Jeff sembari, membuka kedua kaki Safira dengan lebar, menundukkan kepalanya, kemudian mencium kedua paha Safira dengan penuh kelembutan dan sensual, ciumannya semakin maju ke depan, tepat di depan rumah Jery yang sangat wangi dan juga terlihat merekah dan menggiurkan.

__ADS_1


“Ahh ...” Safira menahan nafas, dan sembari meremat kedua sisi bantal yang ia gunakan, saat merasakan kenikmatan yang pertama kali ia rasakan.


“Jeff ... ahh ... eughh ...” Safira menggigit bibir bawahnya dan terus mendesaah, seraya menekan kepala Jeff yang ada di sela pahanya. Kenikmatan yang ada di bagian intinya itu, kini menjalar ke seluruh persendian tubuhnya, hingga sampai ke relung hatinya. Ini salah, akan tetapi, kenikmatan itu sulit untuk di tolak, apalagi tubuh dan otaknya tidak sinkrons.


Kedua tangan Jeff menahan paha Safira yang ingin mengatup, bahkan ia mengangkat bokong Safira agar dia bisa menghisap lebih dalam lagi.


“Jeff ...” pekik Safira, tubuhnya bergetar hebat saat merasakan kenikmatan yang tiada tara. Ia mengejan saat gelombang kenikmatan itu menghantam dirinya.


Luluh lantak jiwanya, nafasnya terengah, dadanya naik turun seiring dengan nafasnya yang memburu. “Jeff, aku pipis,” tubuh Safira melemas, bagian bawahnya berkedut, inilah yang dinantikan oleh Jeff, cairan kenikmatan Safira yang langsung ia tampung di dalam mulutnya, dan menelannya habis tidak tersisa.


“Rasamu sangat manis,” ucap Jeff, sembari mengusap sudut bibirnya dengan gerakan sesual, kemudian ia menegakkan badannya, seraya membuka seluruh pakaiannya.

__ADS_1


“Jery sudah sembuh, dan kangen sama rumahnya, bersiaplah Si Jery akan berkunjung,” ucap Jeff, seraya mengungkung tubuh Safira.


Panas .... panas ....🥵🥵🤣


__ADS_2