Menggenggam Rindu (Sebuah Penantian)

Menggenggam Rindu (Sebuah Penantian)
Tidak Sabar


__ADS_3

Jeff melepaskan pagutannya, saat merasa Safira kehabisan nafas. Jeff menatap wajah cantik Safira yang semakin bersinar. Lalu mengusap bibir Safira yang basah dengan ibu jarinya. Kemudian ia mengecup bibir Safira sekilas.


Keduanya saling menatap penuh cinta dan saling melemparkan senyuman bahagia. “I Love You,” ucap Jeff dengan pelan dan penuh kelembutan, seraya menyelipkan anak rambut ke belakang telinga Safira.


“Mee too,” jawab Safira, tersenyum malu.


Jeff tersenyum lalu menggigit gemas pundak Safira, hingga membuat kekasihnya memekik sakit.


“Jeff!” Safira merengek manja, sembari memukul ada bidang Jeff.


Jeff tergelak, lalu memeluk erat tubuh kekasihnya, seraya menelusupkan wajahnya di ceruk leher Safira, dan menghirup aroma wangi tubuh Safira yang sangat ia rindukan.


“Aku sudah tidak sabar untuk menghalalkan kamu. Nanti siang, temani aku bertemu dengan Daddy Xander,” ucap Jeff yang masih berada di ceruk leher Safira.


“Apakah kamu sudah mempunyai mental yang kuat? Kamu tahu sendiri Daddy Xander itu seperti apa?” tanya Safira. Bukan ia meragukan keberanian Jeff, akan tetapi ia hanya takut jika Daddy Xander tidak menerima Jeff lagi.


“Aku sudah mempersiapkan semuanya. Dan aku akan menghadapi segala hal yang akan terjadi, walaupun itu akan terasa sulit dan juga berat. Karena aku memperjuangkan cintaku, dan juga calon ibu dari anak-anakku,” jawab Jeff dengan mantap, seraya mengangkat kepalanya. Menatap Safira dengan dalam, kemudian tersenyum lembut.


“Jeff, aku terharu,” ucap Safira berkaca-kaca. Hatinya menghangat saat mendengar ucapan Jeff yang sangat tulus dari lubuk hati yang terdalam.

__ADS_1


“Jangan menangis lagi karena aku,” ucap Jeff, seraya menangkup wajah cantik Safira, lalu mengecup seluruh wajah kekasihnya, dan terakhir mengecup bibir Safira dengan penuh cinta.


“Aku tidak menangis, hanya terharu,” jawab Safira, seraya beranjak dari pangkuan Jeff.


“Sudah siang, Pak. Dan waktunya untuk bekerja,” ucap Safira dengan bahasa formal.


“Ck!” Jeff berdecak kesal menanggapinya.


”Jangan memakai bahasa formal, Sayang!”


“Tapi, ini sudah jam kerja. Ayolah, pergi ke ruangan Bapak sendiri!” Safira menarik tangan Jeff, karena pria itu masih duduk di kursi kerjanya.


“Baiklah, berikan aku suplemen agar aku semangat kerja dan mencari uang yang banyak untuk calon istriku,” ucap Jeff, seraya mengetuk bibirnya dengan jari telunjuknya.


“Ck!” Jeff berdecak kesal lagi, sangat sulit meruntuhkan pertahanan Safira. Gadis itu sangat konsisten dalam bekerja.


Tidak ingin mencampurkan urusan pribadi dan urusan perkerjaan. Dengan malas, Jeff beranjak dari duduknya.


“Baiklah, Nyonya Bos,” jawab Jeff, saat akan melangkahkan kakinya menuju ruangannya, namun sebelum itu, ia mencuri ciuman dari bibir Safira.

__ADS_1


“Jeff!!” teriak Safira kesal, sedangkan Jeff tergelak sambil berjalan cepat menuju ruangannya.


Safira tersipu malu, saat Jeff sudah tidak terlihat lagi. Gadis itu menangkup wajahnya dengan perasaan yang bahagia. “Kenapa semakin tua, semakin menggemaskan sih?” gumam Safira, gemas dengan tingkah Jeff.


*


*


*


Waktu berlalu dengan cepat. Tepat jam 12 siang, Jeff dan Safir menuju kediaman keluarga Clark.


“Kenapa jantungku rasanya seperti mau copot ya?” ucap Safira, seraya mengusap dadanya berulang kali, lalu menarik nafas panjang dan di keluarkan dari mulut, dan ia melakukannya berulang kali, sampai ia merasa lebih tenang.


“Tenang dong. Aku saja biasa saja,” ucap Jeff dengan tenang, di iringi dengan senyuman manis.


“Aku merasa, akan di eksekusi mati,” ucap Safira lagi, berlebihan.


Gadis itu membayangkan amarah Daddy Xander yang sebentar lagi akan ia hadapi. Rasanya, Safira ingin balik arah saja, dan kawin lari saja dengan Jeff. Tapi, mana mungkin dirinya melakukan hal yang segila itu.

__ADS_1


Safira berlebihan deh, tapi salut sama Si Jery eh salah sama Jeff maksudnya.🤣


Jangan lupa like, vote, komentar, dan juga hadiah ya.


__ADS_2