
Jeff menatap nanar Safira, saat gadis tersebut menepis tangannya dengan kasar.
"Aku mau pulang! Jangan menghalangi aku!" ketus Safira seraya beranjak dari tempat tidur pasien itu.
"Sabar, tunggu Dokter dulu," cegah Jeff, menahan tubuh Safira yang akan keluar dari ruangan pasien tersebut.
"Aku tidak butuh Dokter!" sentak Safira, menatap tajam Jeff dengan penuh emosi.
"Please, keadaanmu tidak baik-baik saja," ucap Jeff, dengan nada yang memohon, ia mencemaskan kondisi Safira, apalagi wajah gadis itu terlihat sangat pucat.
Safira tersenyum miris mendengarnya. "Keadaanku memang selalu buruk! Tidak ada yang perlu dikhawatirkan, aku sudah terbiasa hidup seperti ini!" ucap Safira dengan penuh sesak di dalam dada.
Perkataan Safira, seperti batu besar yang menghantam dada Jeff. Pria itu benar-benar merasa bersalah dengan kondisi Safira saat ini. "Aku peduli denganmu, Fir. Aku mohon jangan seperti ini, jangan siksa dirimu lagi," ucap Jeff seraya menarik tangan Safira dengan penuh kelembutan.
Safira segera menarik tangannya dari genggaman Jeff. Ia menatap Jeff penuh dengan kebencian. Tidak sadarkan pria bajingan ini yang sudah menyakiti dirinya dan sudah meremukkan hati dan juga jiwanya?
__ADS_1
"Aku mohon berikan aku kesempatan sekali lagi untuk memperbaiki semua ini. Maafkan pria bajingan dan biadap ini, Fir. Kamu boleh menghukum aku. Tapi, aku mohon jangan pernah menjauh dariku. Aku mencintaimu, Fir. Sangat mencintaimu." Akhirnya kata-kata yang sempat tertahan di ujung lidahnya itu terucap dengan lancar. Jeff menatap dalam Safira dengan penuh kerinduan, cinta, kasih sayang, dan juga kesungguhan. Ya, pria itu mengatakan yang sejujurnya, ia ingin mengulang semua dari awal lagi, walau ia tahu ini tidak akan mudah untuk Safira. Gadis itu tidak akan mudah memaafkan dirinya begitu saja.
Safira tidak kuasa menahan air matanya. Kenapa lagi-lagi ego-nya menguasai hatinya. Ia ingin berkata, 'Iya, aku maafkan kamu. Mari kita jalani semua ini dari awal lagi.' Tapi, semua kata-kata itu tertahan oleh ke-egoisannya.
Jeff menghapus air mata Safira yang membasahi pipi mulus itu dengan penuh kelembutan. "Jangan menangis lagi. Air matamu sangat berharga, jika hanya untuk menangisi pria bajingan sepertiku. Tidak apa, jika kamu belum bisa memaafkan aku," ucap Jeff dengan lembut. Ia akan memulainya dengan perlahan-lahan untuk mengambil hati Safira lagi.
"Aku ingin pulang," lirih Safira seperti bergumam, namun Jeff masih mendengarnya dengan jelas.
"Baiklah, aku akan memanggil perawat untuk memeriksa kondisimu," ucap Jeff, seraya menekan tombol darurat di atas tempat tidur pasien. Tidak berselang lama, ada perawat memasuki kamar pasien tersebut.
"Baik, Tuan," jawab Perawat tersebut, dan mendekati Safira yang masih berdiri di dekat tempat tidur pasien.
"Wait! Sejak kapan kita menikah? Istri?" tanya Safira, sembari menatap Jeff dengan nyalang.
Jeff mengusap tengkuknya dengan resah, ia menjadi salah tingkah sendiri.
__ADS_1
"Apakah efek obat penenang bisa membuat orang lupa ingatan?" ucap Perawat yang ada di dekat Safira. "Silahkan rebahkan diri Anda, Nona," lanjut Perawat tersebut, Safira pun menurutinya. Kemudian Perawat tersebut mulai memeriksa kondisi Safira.
"Kondisi Nona belum stabil, tapi tidak apa jika harus pulang sekarang. Yang terpenting, obatnya harus rutin di minum, ya," ucap Perawat tersebut.
"Untuk Tuan Jeff, pastikan istri Anda harus rutin meminum obatnya," ucapnya kepada Jeff.
"Suster, dia itu bukan suamiku!" tegas Safira, dengan perasaan kesal.
"Benarkah?" Perawat tersebut tercengang mendengarnya. "Tapi, kalian memakai cincin yang sama. Kami pikir, kalian sudah menikah," jelas Perawat tersebut.
"Maafkan kami, Nona. Kami sepertinya salah paham," ucap Perawat tersebut tidak enak hati.
Safira mengangguk pelan sebagai jawaban.
Like mana likenya?! Jangan bosen di ingatkan terus ya, karena satu like dari kalian sangat berarti untuk Emak❤
__ADS_1