
Devan malam itu tidak bisa tidur sama sekali. Karena menahan hastarnya yang sejak tadi pagi tidak tersalurkan, apalagi saat ini istrinya memakai baju saringan tahu, memperlihatkan lekuk tubuh istrinya yang nyaris sempurna itu.
"Jangan pernah menyentuhku lagi! Jika kamu belum sadar dengan kesalahanmu!" tegas Raya, saat dirinya akan menyentuh tubuh istrinya itu.
"Raya, aku tidak berselingkuh, kamu harusnya paham," ucap Devan dengan lesu, sembari menatap golok saktinya yang bersembunyi di balik boxer-nya itu.
"Mata kamu yang berselingkuh!! Awas saja kalau kamu berani menyentuhku sedikit saja, aku akan pergi meninggalkanmu!" ancam Raya lagi dan menatap tajam suaminya. "Dan jangan pernah lagi kedua mata ini memandang wanita lain selain istrimu ini! Jika itu terjadi, aku akan mengeluarkan dua matamu itu dari tempatnnya!" ancam Raya, membuat Devan bergidik mengeri dan juga sangat takut. Kenapa istrinya berubah menjadi psikopat? batin Devan.
"Iya, sayang. Aku tidak akan pernah melakukan kesalahan yang sama lagi," jawab Devan memelas kepada istrinya.
"Jadi boleh 'kan minta anu sekarang?" tanya Devan, masih memelas.
"Tidak boleh!" jawab Raya dengan tegas, lalu menarik selimut sampai batas lehernya, menutupi seluruh tubuhnya.
"Huh!" Devan menghembuskan nafasnya kasar, dan ikut berbaring juga di atas tempat tidur, sembari menatap istrinya yang terpejam. Dalam hati ia menyesal karena tidak bisa menahan diri saat melihat wanita cantik yang ada di hadapannya. Sepatutnya ia bersyukur karena sudah mempunyai istri yang cantik, dan pengertian seperti Raya.
*
__ADS_1
*
*
Disisi lain, Jeff saat ini sedang berada di ruang pribadinya.
Ceklek
Pintu terbuka dari luar, Safira memasuki ruangan pribadi suaminya sembari membawa secangkir kopi.
"Belum selesai pekerjaanya?" tanya Safira berjalan mendekati suaminya.
"Sebentar lagi, Sayang. Kamu juga belum tidur?" tanya Jeff sembari menatap wajah istrinya yang semakin bersinar karena kehamilannya. Aura ibu hamil itu semakin memikat, terkadang Jeff khawatir jika membiarkan Safira keluar rumah sendirian, takut jika istrinya di goda oleh pria lain.
TAK
Safira meletakkan secangkir kopi itu di atas meja kerja suaminya. Kemudian berjalan mengitari meja dan kursi Jeff, seraya membalik kursi yang sedang di duduki Jeff itu menghadapnya.
__ADS_1
"Jangan memancingku, Honey," ucap Jeff sembari memijit pelipisnya, saat Safira duduk di atas pangkuannya sembari mengelus dada bidangnya itu.
"Siapa yang memancingmu? Aku hanya ingin memberi umpan kepada ikan kakap," jawab Safira, yang kini sudah mengendus leher Jeff dengan gerakan sensual.
Jeff menggeram tertahan sembari memejamkan matanya dengan erat, karena perbuatan istri kecilnya yang membuatnya terbakar gairah.
"Makanya sudahi pekerjaanmu, istrimu ini juga butuh kehangatan," bisik Safira, di dekat telinga suaminya, meninggalkan sensasi luar biasa di sekujur tubuh Jeff.
"Hem, jadi kamu butuh kehangatan dan juga belaian?" tanya Jeff, menyeringai.
"He-em," jawab Safira, sembari membuka satu persatu kancing piyama suaminya. Jari-jari lentiknya mengusap lembut dada bidang yang keras dan kekar itu. Setelah di rasa suaminya sudah sangat bergairah. Safira beranjak dari pangkuan Jeff.
Jeff yang sedang menikmati sentuhan suaminya kini merasa kecewa karena Safira mengehentikan aksinya.
"Aku tunggu di kamar," ucap Safira sembari mengerling nakal.
"Dasar kucing nakal!" geram Jeff, dan mengikuti langkah istrinya dari belakang.
__ADS_1
Vote dan like ya, jangan lupa kasih hadiah ya bestie❤❤