
Setelah berada di rumah sakit dua hari, dan setelah dokter mengatakan jika Safira sudah pulih, maka hari itu juga Safira dan Baby Q sudah di izinkan pulang oleh Dokter.
Kepulangan Safira dan Baby Q di sambut meriah oleh keluarganya, dan banyak yang memberikan kado untuk Baby Q yang baru lahir dua hari itu.
“Terima kasih semuanya karena sudah menyambut Baby Q,” ucap Safira kepada seluruh keluarganya yang sudah menyempatkan waktu di sela kesibukan mereka.
“Ish, tidak perlu mengucapkan terima kasih, kami senang dengan kehadiran Baby Q yang gembul dan cantik itu, bikin gemas,” ucap Jeje kepada cucunya yang sudah resmi sudah menjadi seorang ibu.
Jeje rasanya ingin menggigit dan meremas pipi Baby Q yang tembem seperti bakpau itu.
“Mommy yang terbaik,” ucap Safira, lalu memeluk Jeje dengan erat.
“Jadi cuma Mommy Jeje saja yang baik? Kami tidak?” Raya dan Crystal bersedekap di dada sembari menatap kesal Safira.
“Karena aku adalah yang terbaik di antara yang paling baik,” ucap Jeje membanggakan dirinya sendiri, sembari memelet kan lidahnya ke arah Raya dan Crystal.
“Mommy!” kesal Raya dan Crystal bersamaan, gregetan dengan sikap Jeje.
__ADS_1
“Kalian adalah wanita-wanita yang terbaik dan akan selalu menjadi terbaik,” sela Safira sembari melebarkan senyumannya
.
“Nah, itu baru benar,” ucap Crystal sembari tersenyum puas.
*
*
*
Safira sudah berada di dalam kamar sembari menyusui putrinya sedangkan Jeff saat ini sedang berada di ruang pribadinya, karena ada pekerjaan yang harus segera di selesaikan sebelum mengambil cuti kerja selama satu minggu.
Safira sudah bisa berjalan seperti biasanya hanya saja tidak bisa terlalu cepat dan harus lebih ekstra hati-hati lagi karena bagian intinya masih terasa sakit karena melahirkan Baby Q.
“Anak Mommy sudah kenyang,” ucap Safira, terkekeh pelan, ketika putrinya melepaskan pucuk dadanya, sedangkan bibir mungil Baby Q masih bergerak seolah sedang menyusu, dan kedua matanya yang sudah terpejam.
__ADS_1
Di sisi lain Devan sudah berada di dalam kamar bersama Raya yang siap untuk di eksekusi malam itu juga.
“Pasti malam ini aku akan jadi tempe penyet,” batin Raya sangat absurd, ia sudah membayangkan betapa beringasnya suaminya itu yang akan berbuka puasa.
“Kamu sudah siap?” tanya Devan, sembari membuka piyama-nya dan melemparkannya di atas sofa dengan asal, tidak lupa ia juga melepaskan boxer-nya, dan memperlihatkan senjatanya sudah tegak dan mengacung tinggi, membuat Raya menelan ludahnya berulang kali, sudah lama ia tidak melihat dan merasakan golok sakti suaminya yang sudah lama tidak di asah.
“Kenapa terpesona ya? Dia semakin tajam dan juga akan semakin beringas,” ucap Devan sembari menggenggam golok saktinya seraya mengurutnya pelan.
“Dev ...” Raya sepertinya sudah merasa panas dingin saat melihat tindakan suaminya itu.
“Apa? Kamu sudah tergoda?” tanya Devan sembari menggigit bibir bawahnya dengan gaya yang sangat sensual.
Raya mendekati Devan, lalu mengusap dada bidang suaminya yang masih terlihat kekar dan kencang walau usia Devan sudah tidak muda lagi, namun staminanya seperti Superman begitu kuat dan memuaskan.
"Tepatnya sudah tidak sabar di sentuh oleh suamiku yang tampan dan gagah perkasa ini," ucap Raya sembari maraih tangan suaminya dan mengarahkannya ke daerah sensitifnya.
***
__ADS_1
Mau tamat saja ya, pada nggak mau kasih Vote😭😭