Menggenggam Rindu (Sebuah Penantian)

Menggenggam Rindu (Sebuah Penantian)
Morning Sickness


__ADS_3

Setelah melakukan banyak bertimbangan, akhirnya Jeff memutuskan untuk mandi air dingin untuk menenangkan Si Jery yang sudah menganggukkan kepalanya berulang kali.


Setelah setengah jam membersihkan diri sekaligus menenangkan si Jery, Jeff keluar dari kamar mandi hanya menggunakan boxer berwarna putih yang menutupi asetnya itu.



Anggap saja begini ya. 🤣🙈


Langkah Jeff terhenti di depan pintu kamar mandi saat melihat istrinya duduk di tepian temopat tidur dengan gaya yang sangat menggoda.


GLEK


Jeff menelan ludahnya dengan kasar, istrinya malam itu terlihat sexy dan menggairahkan, tubuh sintal Safira terbalut kain dan memperlihatkan dua gunung kembarnya yang tidak berpenghalang kain busa.


"Sayang?" panggil Jeff, yang masih berdiri kaku di kamar mandi.


"Ya, Sayang," jawab Safira sembari menggigit manja bibir bawahnya, lalu menggerakkan ujung jarinya, bertanda jika Jeff harus mendekat ke arahnya.


Jeff perlahan melangkahkan kakinya dan berhenti tepat di hadapan istrinya itu. "Kamu sangat sexy," ucap Jeff, serak, lalu menundukkan kepalanya, seraya mendongakkan wajah Safira dan mengecup bibir Safira dengan dalam dan mesra.


Safira memejamkan matanya, lalu menyesap bibir suaminya itu atas bawah berantian dengan lembut dan penuh perasaan.


"Kenapa malam ini kamu sangat menggoda dan juga sangat menggairahkan?" tanya Jeff, setalah melepaskan ciuman itu, kemudian ia mengegakkan diri sembari berkacak pinggang, memindah wajah cantik istrinya yang sudah sangat bergairah.


"Kenapa? Bukankah aku sudah bilang jika malam ini akan memberikan servis yang memuaskan untukmu?" jawab Safira sembari mengangkat kedua tangannya dan meletakkan di sisi kanan dan kiri pinggang Jeff, dan salah satu tangannya merambat turun menyentuh Si Jery yang sudah sangat menegang dan minta untuk di puaskan.


"Ouhh ... shhhh ..." Jeff mendesih nikmat, ketika Safira menyentuh dan mengurut Si Jery yang masih tertutup kain itu. Tubuh Jeff semakin terbakar api gairah, terasa panas menjalar ke seluruh aliran darahnya. Rahangnya mengeras, dan mendongkkan kepalanya ketika Safira semakin cepat mengurut Si Jery.


Jeff sudah tidak tahan, ia dengan cepat meloloskan boxer yang menutupi asetnya itu. Dan tersembulah Si Jery yang sudah sudah berdiri tegak seperti tiang listrik.

__ADS_1


Safira menelan ludahnya kasar, saat melihat penampakan Si Jery yang begitu gagah dan berurat, sama seperti pemiliknya yang tidak kalah gagah. Bagian intinya juga sudah berkedut dan terasa basah, ia sudah tidak sabar di masuki Si Jery yang super besar dan berurat itu, akan tetapi ia harus menahannya lebih dulu.


"Jeff, sebelum melakukan ritual malam panas kita, aku ingin memberikan kejutan untukmu," ucaop Safira, sembari mengelus dan mengurtu Si Jery dengan tangan kanannya.


"Aku sudah tidak tahan sayang. Ayolah, kita langsung ke intinya," ucap Jeff, sembari mengerang lalu melepaskan tangan Safira yang sedang memijat Si Jery, kemudian ia mendorong tubuh Safira hingga terlentang di atas ranjang, lalu segera menindihnya dan mencium bibir Safira dengan rakus dan sangat menuntut.


"Ah ... Jeff ... dengarkan aku dulu ..." ucap Safira dengan susah payah saat suaminya itu seperti hewan buas yang sedang mencabik-cabik lawannya.


"Nanti saja, Honey, Si Jery sudah sangat kelaparan," ucap Jeff, seraya menegakkan punggungnya lalu merobek lingerie yang di kenakan istrinya menjadi dua bagian dan menyisakan garis robekan yang tidak beraturan.


"Jeff, Sayang! Ah ..." Safirra menggelinjang saat Jeff menyesap dua pucuk dadanya bergantian dengan sangat rakus. "Ah, Jeff, pelan-pelan, nanti kamu menyakitinya," ucap Safira di sela desahannya saat suaminya akan memasuki bagian intinya.


Jeff menghentikan aksinya saat mendengar perkataan istrinya, ia menatap wajah Safira dengan dalam dan mengerutkan kedua alisnya. "Menyakitinya? Siapa?" tanya Jeff.


Safira tersenyum lalu, menarik salah satu tangan Jeff yang menjadi tumpuan agar tidak menindingnya, kemudian mengarahkan ke perutnya yang masih rata.


"Dia, kamu nanti menyakitir dia, Daddy," jawab Safira, dan menirukan suara anak kecil saat menyebut kata 'Daddy'.


"Sa-sayang ... apakah ada Jeff junior di sini?" tanya Jeff dengan terbata, seraya mengusap perut Safira dengan gerakan yang sangat lembut.


Safira mengangguk sebagai jawaban, dengan kedua mata yang berkaca-kaca. Tubuh Jeff bergetar hebat, si jery yang sudah menegang sempurna kini langsung mleyot, kemudian ia menggulingkan tubuhnya ke samping Istrinya, seraya mengambil bantal untuk menutupi wajahnya. Terdengar suara isak tangis lirih yang tenggelam dalam bantal tersebut.


"Sayang, kenapa menangis? Apakah kamu tidak suka dengan kejutannya?" tanya Safira dengan kedua mata yang mengembun, sembari menggoyangkan tangan suaminya.


Jeff meleparkan bantalnya, lalu mengusap kedua matanya yang basah. Kemudian memeluk tubuh istrinya dengan sangat erat dan menciumi pucuk kepala Safira bertubi-tubi, sebagai ungkapan perasaannya yang sangat bahagia. "Aku sangat senang dengan kejutannya, bukan senang saja tapi juga sangat bahagia, ini adalah kejutan terindah selama d hidupku, terima kasih sayang," ucap Jeff, terisak lagi, lalu mengurai pelukannya dan menatap wajah Safira dengan lembut, lalu melabuhkan kecupan hangat di seluruh permukaan wajah istrinya dan berakhir kecupan mesra di bibir istrinya dengan durasi yang cukup lama.


"Aku berjanji akan selalu menjaga dan melindungi kalian dengan seluruh jiwa dan ragaku," ucap Jeff, kemudian memeluk istrinya lagi dengan erat.


Hatinya menghangat dan juga sangat bahagai mendengar istrinya mengandung benihnya. Jeff, tidak menyangka jika akan di beri kepercayaan secepat ini. Begitu pula dengan Safira.

__ADS_1


"Mami dan Papi sudah tahu?" tanya Jeff, smebari mengelus punggung polos istrinya itu.


"Belum," jawab Safira, mendongak dan mengecup dagu Jeff yang di tumbuhi bulu lebat itu dengan mesra.


"Kita akan memberika kejutan untuk mereka," jawab Jeff dan di angguki Safira.


Untuk sesaat mereka saling terdiam dalam pelukan hangat, menikmati irama detak jantung yang bersahutan serta menikmati kebahagiaan juga kehangatan yang telah tercipta.


"Sayang, nggak jadi anu?" tanya Safira, sembari membelai Si Jery yang terkulai lemas dengan gerakan lembut.


"Tidak jadi, besok saja, karena aku takut melukainya, kita tidur saja ya," jawab Jeff, sembari mengusap punggung polos istrinya itu. Safira mengangguk sebagai jawaban, lalu memeluk erat perut sixpack suaminya itu dengan erat.


*


*


"Huekk ..."


Safira membuka paksa kedua matanya, saat mendengar suara orang muntah dari dalam kamar mandi. Kemudian ia menatap sebelahnya, dan suaminya tidak ada di sana.


"Jeff ..." Safira beranjak dan menuju kamar mandi, dengan tubuh yang masih polos.


"Jeff, are you oke?" tanya Safira saat melihat suaminya menunduk di wastafel, memuntahkan isi perutnya.


"I'm oke, hanya saja perutku bergejolak, mungkin masuk angin," jawab Jeff setelah selesai memuntahkan isi perutnya.


"Apakah kamu mengalami morning sickness?" tebak Safira, membuat Jeff mengernyit heran, karena tahu istilah itu.


"Oh My God!" Jeff mengusap wajahnya dengan kasar, sedangkan Safira terkikik geli melihatnya.

__ADS_1


Vote ya Vote pokoknya Vote!!!!


__ADS_2