
Seorang pria yang sudah tidak muda lagi, namun masih terlihat sangat tampan dan gagah, menatap tajam pria muda yang duduk di hadapannya. Tatapannya beralih pada seorang gadis yang terlihat menundukkan kepalanya.
Aura di ruangan tersebut terasa mencekam, sangat menakutkan.
"Punya nyawa berapa kamu berani menemuiku?" tanyanya dengan nada yang tegas, terdengar dingin dan sangat datar.
"Daddy‐"
"Diam! Daddy tidak berbicara denganmu tapi dengan pria bajiangan ini!" setaknya dengan yang sengit.
"Tapi-"
"Keluar kamu!!!" sentak Xander pada Safira, dengan suara yang menggelegar, sorot mata yang tajam seperti ingin menguliti lawannya.
Safira langsung terkesiap lantaran terkejut, karena baru kali ini Xander membentaknya. Tubuhnya menjadi bergetar ketakutan.
"Kamu keluar dulu ya, kamu percayakan semua kepadaku," ucap Jeff, kepada Safira sembari memegang tangan kekasihnya dengan sangat lembut.
Safira menatap Jeff dengan perasaan cemaa dan juga takut, kemudian ia menggeleng pelan, bertanda ia tidak setuju dengan saran Jeff. "Aku tetap stay," jawab Safira kekeuh.
__ADS_1
"Sayang, please," mohon Jeff kepada Safira.
"Drama!" cibir Xander dengan nada yang keras. Ia rasanya sudah muak dengan pria yang ada di hadapannya ini. Rasanya ia ingin menghabisi pria yang ada di dapannya saat ini juga.
Akhirnya Safira memutuskan keluar dari ruangan tersebut, setelah Jeff berhasil meyakinkan dirinya.
*
*
*
"Mommy-"
"Mommy ingin sekali mencubit ginjal kamu! Gemes tahu nggak!" Jeje berucap dengan nada kesal, dan menggeram.
"Mom, aku bisa jelaskan semua. Kenapa aku bisa kembali lagi kepada Jeff," ucap Safira dengan suara pelan.
"Apa yang ingin kamu jelaskan! Dengar ya, Jeff itu pria brengsek yang sangat tidak baik buat kamu! Dan 10 tahun kamu terlalu dibodohi oleh cinta!" kesal Jeje sembari menunjuk wajah Safira karena sudah terlampau kesal.
__ADS_1
Safira terdiam, semakin menundukkan kepalanya. Ia tahu, jika semua ini tidak akan mudah untuk dirinya dan juga Jeff. Ia tahu jika tidak akan mudah meyakinkan dan mendapatkan kepercayaan dari dua orang yang penting dalam hidupnya itu.
"Mommy, dengarkan penjelasan aku. Kali ini saja," mohon Safira.
"5 menit!" tegas Jeje dengan raut wajah jengkel, seraya memperlihatkan lima jarinya.
Tentu mendapat kesempatan bicara, Safira tidak menyia-nyiakan nya. Ia langsung menjelaskan semuanya kepada Jeje dengan cepat, jelas dan tidak ada yang terlewat sama sekali.
Jeje mendengarkannya dengan serius, dan sesekali menganggukkan kepalanya.
"Tetap saja dia pria bajingan yang sudah menyakiti hati kamu Fir!" Jeje membuka suara setelah Safira sudah selesai menjelaskan semuanya.
"Aku tahu, Mom. Tapi aku masih sangat mencitai dia. Salahkah jika aku memberika kesempatan kepada, dia? Bukankah Mommy selalu mengajarkan kepadaku untuk tidak menaruh dendam kepada siapa pun yang telah menyakiti hati kita? Bukankah Daddy juga pernah bilang, kalau setiap orang mempunyai kesempatan untuk memperbaiki diri?" ucap Safira dengan menggembu dan kedua matanya berkaca-kaca.
Jeje memijit pelipisnya, kepalanya mendadak terasa sangat pusing. "Ya, kamu benar, yang kami ajarkan semua kepadamu itu tentang semua kebaikan. Akan tetapi, ini berbeda, pria itu sudah sangat jelas telah menyakiti hati kamu. Ini juga tentang masa depan kamu! Pria yang sudah satu kali menyakiti, suatu saat nanti akan melakukan kesalahan yang sama, dan apakah kamu mau jika itu terjadi lagi kepadamu? Please, Safira! Berpikirlah secara rasional!!"
Hai, bestie? Maafkan aku kemarin tidak update, karena sedang terserang gejala malas😆
Jadi, kasih semangat buat emak, dengan cara like, komentar, vote dan kasih hadiah.🥰🥰😘
__ADS_1