
Jam sudah menunjukkan pukul sembilan malam, tapi Ji belum juga menemui Zi di dalam kamar.
Membuat Zi langsung menghubunginya, karena sejak tadi siang tidak ada kabar sama sekali.
Namun, sudah beberapa kali Zi menghubungi Ji, tapi ponselnya tidak di angkat.
Dan itu membuat Zi merasa cemas, dengan keadaan sang suami, apa lagi setelah ia tahu, Ji belum juga kembali, setelah ia menanyakan petugas hotel.
"Ya Tuhan, ke mana dia," ucap Zi sambil menutup sambungan ponselnya. "Apa aku harus menghubungi Coki untuk menanyakan keberadaan Ji, siapa tahu dia mengetahui dimana dia,"
Namun, belum juga Zi menghubungi Coki, dan baru saja ada niat untuk menghubunginya.
Tiba-tiba Coki sudah menghubungi ponselnya, tentu saja dengan segera Zi mengangkat sambungan ponselnya.
"Hai Cok, apa kamu tahu dimana keberadaan Ji?" tanya Zi langsung lewat sambungan ponselnya.
"Tidak, apa dia belum kembali?" tanya balik Coki, tentu dari sambungan ponselnya.
"Belum,"
"Katakan padaku, apa kamu memerlukan bantuanku?"
"Iya,"
"Baiklah, aku akan menuju hotel tempatmu menginap, tunggu aku di lobi," pinta Coki dan langsung menutup sambungan ponselnya.
Zi menatap ponselnya, ketika Coki mengakhiri pembicaraan, padahal ia belum selesai bicara.
"Ish, aku belum juga selesai bicara, tapi sudah di matikan. Aku kan, hanya ingin minta tolong untuk menghubungi Ji, kenapa sampai sekarang dia belum juga kembali, siapa tahu, dengan Coki menghubungi, dia akan mengangkat sambungan ponselnya," ucap Zi yang langsung menjatuhkan tubuhnya di atas ranjang.
__ADS_1
*
*
*
Akhirnya Zi menemui Coki di lobi hotel tempatnya beberapa hari akan menginap di negara tersebut.
Padahal awalnya ia enggan untuk menemui sahabat Ji sang suami. Tapi akhirnya Zi pergi menemuinya, karena Coki tak ada hentinya menghubungi ponselnya.
"Dimana Ji?" tanya Zi langsung pada Coki yang sedang duduk menunggunya di sofa tunggu yang ada di hotel tersebut.
"Aku tidak tahu, tadi aku sudah menghubungi, tapi panggilan aku di tolak oleh Ji," jawab Coki berbohong, padahal ia tahu Ji sang sahabat sedang bersama dengan Bela, hingga ia terus menghubungi Zi, agar bisa menemuinya, supaya istri dari sahabatnya tersebut tidak kesepian.
"Kira-kira ke mana dia ya, Cok?"
"Ke mana?"
"Entahlah, kita jalan saja dulu, bagaimana?" ajak Coki.
Dengan pertimbangan yang cukup matang, akhirnya Zi mengiyakan ajakan dari Coki, karena ia butuh teman untuk menemaninya di negara tersebut.
*
*
*
Setelah berkeliling untuk mencari keberadaan Ji, akhirnya Coki memutuskan untuk menyudahi pencariannya, dan mengajak Zi ke sebuah kafe mewah, yang letaknya tidak jauh dari menara eifel, ikon negara tersentuh, karena tidak menemukan kebenaran Ji.
__ADS_1
Namun, baru saja ingin memasuki kafe tersebut, langkah Zi terhenti, membuat Coki pun, mau tak mau juga menghentikan laju langkahnya.
"Zi ada apa?"
"Itu dia orangnya yang sedang kita cari," ucap Zi, dengan tatapan tertuju pada Ji sang suami dan juga Bela sudah berapa di dalam kafe tersebut.
Coki pun langsung menarik salah satu tangan Zi, dan langsung membawanya ke dalam mobil miliknya, ketika ia sekarang tahu sang sahabat sedang bersamaan dengan Bela di dalam kafe.
Dan Coki tidak ingin Zi mengetahui, jika Ji masih bersama Bela, tanpa ia tahu, Zi tidak mempermasalahkan jika Ji masih menjalin hubungan dengan Bela.
"Pantas sedang bersama kekasihnya," ucap Zi ketika sudah masuk ke dalam mobil milik Coki.
Tentu saja Coki yang sudah duduk di bangku pengemudi, langsung menoleh pada Zi sambil menautkan keningnya.
"Jadi kamu melihat Ji, tadi bersama siapa?" tanya Coki penasaran.
"Tentu saja tahu, dia Bela kekasih Ji, hingga saat ini pun mereka masih berhubungan,"
Coki benar-benar tercengang mendengar pernyataan dari Zi. "Kamu tidak cemburu melihat mereka?"
"Tentu saja tidak, untuk apa cemburu,"
"Apa aku tidak salah dengar?" tanya Coki, karena merasa tidak mungkin, Zi melihat Ji dan Bela, tidak merasa cemburu.
"Tentu saja tidak, untuk apa aku cemburu,"
"Tidak mungkin!"
Bersambung............
__ADS_1