
Sementara itu di tempat lain, Zi begitu senang dengan kedatangan Coki, tanpa ia sadari ketika baru keluar dari dalam ruang kerjanya, dan melihat Coki sedang duduk di sebuah sofa yang ada di dalam butik miliknya. Ia segera menghampiri Coki lalu memeluknya dengan sangat erat, ketika Coki sudah berdiri dari duduknya.
Membuat Coki balik memeluk tubuh Zi, gadis yang telah mencuri hatinya, sudah sejak lama.
Tentu saja sejak lama, sebelum ia pindah ke Perancis dan menetap disana, ia yang notabennya murid baru di sebuah sekolah menengah atas, dimana dulu Zi bersekolah, ia sudah mengagumi sosok Zi, gadis yang sangat berbeda dengan gadis-gadis lainnya, dan masih melekat di ingatan Coki, ia dulu sering membuntuti Zi saat di sekolah, hingga ia sempat di tuduh akan melakukan hal yang tidak-tidak, padahal ia hanya ingin melihat Zi, karena ia ingat, dulu Ji anti dengan yang namanya pria, hingga ia takut untuk mendekatinya.
Mendapati Zi memeluknya dengan tiba-tiba, tentu saja hatinya merasa sangat bahagia, meskipun ia tahu yang sedang di peluknya adalah istri dari sang sahabat.
Setelah beberapa saat Zi memeluk Coki, kini ia melepas pelukannya, lalu menatap pada pria yang sangat baik menurut Zi.
"Aku tidak salah lihat kan, kamu benar Coki?" tanya Zi yang masih belum percaya, jika pria yang baru saja dipeluknya adalah Coki.
"Tentu saja tidak, aku Coki, Zi," balas Coki sambil mengukir senyum. "Bagaimana kabarmu?"
"Aku baik-baik saja, tapi aku kesal padamu," kata Zi, sambil melipat kedua tangannya, dan menatap pada Coki dengan tatapan tajam.
"Kesal padaku?" tanya Coki, yang langsung memalingkan wajahnya, ketika kedua matanya bertemu dengan kedua mata Zi, yang membuat jantungnya berdebar.
"Iya,"
"Kenapa?"
"Kamu bilang akan menghubungi aku, tapi apa? Kamu tidak pernah menghubungi aku, dan aku coba menghubungi kamu, tapi ponsel kamu mati. Sebenarnya apa yang Kamu inginkan, hah?!"
__ADS_1
Mendengar pernyataan dari Zi, membuat Coki tersenyum, entah mengapa hatinya merasa bahagia hanya mendengar ucapan Zi barusan.
"Ish, menyebalkan, kenapa kamu tersenyum sih, kan senyum kamu manis,"
Dan, senyum di kedua sudut bibir Coki tidak pernah memudar, apa lagi mendengar Zi mengatakan jika senyumnya manis.
"Ish, senyum-senyum mulu, jawab, kenapa kamu tidak menghubungi aku, Cok?!"
"Karena aku ingin menemui kamu secara langsung seperti ini, dan jangan tanya aku tahu kamu di sini dari mana," jawab Coki. "Apa kamu merindukan aku?"
"Tidak, untuk apa," jawab Zi benar adanya.
"Tapi kenapa kamu begitu cemas?"
Mendengar apa yang dikatakan oleh Zi, membuat Coki langsung menautkan keningnya. "Berjualan bakpia? Siapa?"
"Kamu, kata Ji, di luar negeri kamu jualan bakpia, tapi aku salut loh, dari jualan bakpia kamu punya mobil yang harganya sangat mahal,"
Coki terus mencerna ucapan dari Zi, dan ia berpikir Ji berbohong pada Zi tentang pekerjaannya di luar negeri. Kemudian ia tersenyum pada Zi. "Mobil yang kamu katakan barusan adalah mobil bos aku, dan aku hanya pegawainya yang bertugas menjual bakpia," bohong Coki, dan mengiyakan apa yang tadi Zi katakan.
Zi mengangguk anggukkan kepalanya mendengar penjelasan dari Coki. "Oh begitu ceritanya,"
"Iya, apa kamu tidak malu setelah kamu tahu aku hanya penjual bakpia?" tanya Coki penasaran.
__ADS_1
"Untuk apa malu, semua orang punya pekerjaannya masing-masing kan, yang penting pekerjaan itu halal,"
Mendengar jawaban Zi, membuat Coki merasa bersalah, karena selama ini pekerjaan yang di kerjakannya berbanding terbalik dengan kata halal.
"Eh iya, Cok. Kamu sedang cuti, hingga kamu bisa datang menemui aku?"
"Tidak, aku sudah berhenti bekerja disana, dan aku akan menetap disini,"
"Benarkah?" tanya Zi begitu antusias.
Coki hanya menganggukkan kepalanya sambil mengukir senyum.
"Baiklah, jika kamu belum mendapat pekerjaan, katakan padaku, aku akan membantu kamu agar cepat mendapat pekerjaan,"
"Benarkah?"
"Tentu, atau kamu mau jadi supir aku, kebetulan supir aku seminggu lagi kontraknya habis,"
"Boleh," jawab Coki singkat, tentu saja ia tidak akan menolak tawaran dari Zi, yang sangat berarti baginya, karena ia bisa selalu dekat dengan gadis yang sudah menarik hatinya.
"Tidak akan, karena aku tidak akan pernah mengijinkan Coki menjadi supir kamu!" sahut Ji yang tiba-tiba sudah masuk ke dalam butik lalu mendekati sang istri dan Coki.
Bersambung.....................
__ADS_1