MENIKAH DENGAN GADIS POLOS

MENIKAH DENGAN GADIS POLOS
25


__ADS_3

"Oh maksud kamu, Coki sedang sibuk jualan bakpia disana, begitu Ji?" tanya Zi dengan pikirannya setelah tadi mendengar ucapan sang suami.


Ji menatap pada sang istri, tak lupa menggelengkan kepalanya. "Anggap saja begitu," jawab Ji. "Dasar oon!" gerutunya, lalu turun dari atas tempat tidur, tidak ingin lagi meladeni ucapan Zi, yang membuat kepalanya pusing.


"Keren ya, hanya jualan bakpia, Coki bisa punya mobil mewah," kata Zi, ketika mengingat, saat di negara Perancis, Coki selalu menggunakan mobil mewah saat bersamanya. "Kamu sendiri, kapan akan punya mobil mewah, Ji?"


"Apa mata kamu buta, hah?! Tidak lihat ada berapa mobil mewah di garasi, dan itu mobil aku, paham!"


"Tahu, itu mobil kamu. Tapi bukan kami yang beli, tapi papi iya kan, dan kamu tidak hebat seperti Coki,"


"Terserah padamu!" sahut Ji, malas untuk berdebat dengan sang istri, kemudian ia melangkahkan kakinya menuju arah kamar mandi.


Namun, baru saja ia melangkah, kini ia menghentikan langkah kakinya, lalu menoleh pada Zi yang masih berada di atas kasur. "Zi,"


"Apa?"


"Boleh minta tolong tidak,"


"Apa?"


"Ambil beberapa pakaian milikku, dan masukkan ke koper itu," perintah Ji sambil menunjuk koper miliknya yang semalam ia letakan tidak jauh dari pintu.


"Kamu bodoh Ji. Untuk apa memasukkan pakaian kamu ke koper itu, yang ada. Semua pakaian di dalam koper itu keluarkan, begitu," ujar Zi, karena koper tersebut, adalah koper yang kemarin di bawa sang suami ke luar negeri.


"Ikuti saja perintahku, buruan! Dua jam lagi pesawat yang akan aku naiki, segera lepas landas,"


"Pesawat? Memangnya kamu mau ke mana lagi?"

__ADS_1


Namun, Ji tidak jngin menjawab pertanyaan dari sang istri. Jika ia akan kembali ke negara Perancis, untuk menemui Bela sang kekasih yang masih berada disana.


"Heh, aku sedang bertanya padamu, Ji. Atau jangan-jangan kamu akan kembali ke Perancis untuk menemui Bela lagi," tebak Zi benar adanya.


"Jangan bilang papi dan juga mami, aku kembali ke sana karena Bela, mengerti!"


"Sip, tapi kalau kamu nanti bertemu Coki, suruh dia menghubungi aku, oke!"


"Aku sudah bilang padamu, dia bukan pria yang baik, Zi,"


"Kalau bicara tuh yang benar, dan bercermin sebelum bicara, kamu pikir kamu baik, dasar!" cibir Zi yang sudah turun dari tempat tidur, lalu melangkahkan kakinya ke arah kamar mandi.


"Mau ke mana kamu?"


"Berak," jawab Ji.


"Enak saja, tidak bisa,"


"Zi, aku sudah tidak tahan,"


"Aku juga, sebentar lagi mau..


Tuh kan, tidak percaya sih," ujar Zi yang langsung berlari menuju kamar mandi, setelah buang angin.


"Dasar jorok, mana ada pria yang akan suka padamu," kata Ji, dan terburu-buru keluar dari dalam kamar untuk pergi ke kamar mandi lain.


*

__ADS_1


*


*


Coki mengukir senyum pada wanita paruh baya yang sedang duduk di atas kursi roda. Ketika Coki baru saja masuk ke dalam sebuah kamar yang ada di mension mewah milik Lucas, tempatnya selama ini tinggal.


"Ma, bagaimana hari ini? Mama makan banyak kan?" tanya Coki, yang berlutut tepat di hadapan kursi roda yang sedang di duduki oleh sang mama, yang masih senantiasa berada di kursi roda tersebut, mungkin akan selamanya sang mama duduk di kursi roda, karena syaraf-syaraf di tubuhnya sebagian tidak berfungsi lagi, diakibatkan sakit keras yang dideritanya.


"Nyonya makan sangat banyak Tuan, dan beberapa kali menanyakan Tuan," malah perawat sang mama, yang menjawab pertanyaan.


Membuat Coki langsung menatap pada perawat tersebut. "Tinggalkan aku dan mama," perintahnya.


"Baik, Tuan,"


Setelah memastikan perawat sang mama sudah keluar dari dalam kamar, Coki kini meraih tangan sang mama lalu mencium punggung tangannya.


"Ma, aku ingin mengatakan sesuatu pada mama," ujar Coki, meskipun ia tahu, apa pun yang akan ia katakan, sang mama jarang meresponnya. "Aku menyukai seorang gadis,"


"Kejarlah,"


Coki langsung menatap pada sang mama, tidak percaya sang mama merespon perkataannya secepat ini, padahal biasanya ia akan mengatakan berkali-kali, agar sang mama mau merespon ucapannya. "Tapi, gadis itu sudah memiliki suami, Ma. Apa aku harus tetap mengejarnya?"


"Apa gadis yang sedang kamu bicarakan adalah Zi? Gadis yang seharusnya kamu bawa kehadapan Om?" tanya Lucas yang tiba-tiba sudah berada di dalam kamar tersebut.


Tentu saja kedatangan Lucas, membuat Coki terkejut, dan langsung menatap kearah. "Om, se... sejak kapan..."


"Sejak tadi," sambung Lucas memotong perkataan dari Coki. "Jika kamu tidak membawa gadis itu pada Om, kamu akan tahu akibatnya!" ancam Lucas sambil menatap pada mama Coki.

__ADS_1


Bersambung....................


__ADS_2