MENIKAH DENGAN GADIS POLOS

MENIKAH DENGAN GADIS POLOS
24


__ADS_3

Akhirnya Zi mengikuti perintah dari Ji, pulang dari negara tersebut, keesokan harinya.


Tapi bukan karena ajakan sang suami saja yang membuat Zi mengikuti perintahnya, tapi juga karena Coki yang memintanya untuk pulang, dan ia berjanji anak secepatnya menemuinya di negaranya.


Mami Jane dan juga papi Jona begitu terkejut, karena anak dan menantunya sudah pulang dari trip bulan madu, padahal harusnya seminggu lagi mereka baru akan pulang.


"Kenapa kalian pulang cepat?" tanya mami Jane yang sedang berada di ruang tengah, lalu menghampiri keduanya yang baru masuk ke dalam rumah.


"Aku lelah Mi," ujar Zi tanpa menjawab pertanyaan dari mami mertuanya, lalu mendudukkan bokongnya di atas sofa yang ada di ruang tamu.


Karena tidak mendapat jawaban dari pertanyaannya, kini mami Jane menoleh pada sang putra, dimana Ji terus berjalan ingin menuju kamarnya. "Ji, kenapa..."


"Misi selesai," sambung Ji memotong perkataan dari sang mami, dan terus melangkahkan kakinya menuju kamarnya.


Tentu saja mendengar apa yang di katakan oleh sang putra, membuat mami Jane kini menoleh pada sang suami yang berada tidak jauh darinya, lalu mengukir senyum.


Dan kini mami Jane mengalihkan tatapannya pada Zi, yang sedang menyandarkan kepalanya di sandaran sofa, dan terlihat begitu lelah. "Zi,"


"Hem," hanya itu tanggapan dari Ji, sambil memejamkan matanya.


"Kamu pasti sangat lelah, istirahat sana," pinta mami Jane sambil mengukir senyum, karena terngiang ucapan sang putra, dan ia meyakini, jika Ji sudah menjebol gawang dari Zi, itu yang mami Jane tangkap dari perkataan Ji tadi yang mengatakan misi selesai.


"Baiklah, aku ke kamar dulu. selamat malam Mi, Pi," Zi pun langsung meninggalkan mami Jane dan juga papi Jona, menuju kamar yang selalu ia tempati.


Setelah kepergian Zi, mami Jane langsung mendekati sang suami, dengan senyum yang tidak pernah pudar. "Pi, dengar apa yang tadi Ji katakan kan? Putra kita mengatakan misi selesai, Pi,"


"Iya, papi mendengarnya, sayang,"


"Berarti mereka berdua sudah anu Pi,"

__ADS_1


"Sepertinya begitu, sayang,"


"Mami senang banget Pi, dan itu artinya tidak lama lagi kita akan mendengar kabar bahagia, semoga kita cepat di beri cucu dari Zi,"


"Amiin," hanya itu ucapan yang keluar dari bibir papi Jona untuk menimpali ucapan dari sang istri, lalu menarik pinggangnya dan memeluknya. "Mi,"


"Iya Pi, perasaan mami sedang senang tidak terkira,"


"Baguslah, jadi permainan kamu akan semakin hot,"


Mami Jane menoleh sambil memicingkan matanya menatap pada sang suami setelah mendengar apa yang dikatakannya.


"Jangan macam-macam, Pi," ucap Mami Jane paham betul maksud apa yang dikatakan oleh sang suami.


"Sudah seminggu ini belum di cas, yuk!"


"Cas saja di colokan listrik,"


"Ogah, dikira melahirkan gampang apa. Yuk!"


"Ke mana Mi?"


"Katanya mau ngecas,"


"Jadi mau?"


"Mau lah, siapa juga yang akan menolak,"


"Yes!"

__ADS_1


*


*


*


Semalam Zi akhirnya tidur di kamar Ji, karena kamar yang selalu ia tempati di rumah tersebut sudah kosong. Dan itu sengaja mami Jane dan juga papi Jona lakukan, agar keduanya tidak tidur terpisah lagi.


Tentu saja meskipun tidur di kamar dan tempat tidur yang sama, tidak ada getaran-getaran keanuan pada keduanya.


Dan keduanya tidur dengan damai dengan mimpi masing-masing.


Tepat jam tujuh pagi, Zi membuka kedua bola matanya, dan langsung mengingat jika ia belum menghubungi Coki setelah tiba di rumah, padahal ia sudah berjanji akan mengabari jika sudah sampai.


Dengan segera Zi pun langsung mengambil ponsel miliknya, yang berada di atas meja nakas, tepat di sisi tempat tidur yang ia tiduri.


"Kanapa ponselnya tidak bisa di hubungi," ucap Zi, karena ponsel milik Coki tidak bisa di hubungi.


Membuatnya coba untuk menghubungi Coki kembali, tapi tetap saja tidak bisa. "Ji," panggil Zi pada sang suami yang berada tepat di sampingnya, tak lupa menggoyangkan tubuhnya, agar Ji bangun.


"Apa sih!" kesal Ji karena tidurnya terganggu.


"Kenapa nomor Coki tidak bisa di hubungi ya?"


"Baguslah, dan jangan hubungi dia lagi, dia itu mafia," celetuk Ji lalu menutup mulutnya karena sudah keceplosan, mengatakan apa yang seharusnya tidak dikatakannya.


"Bakpia?"


"Untunglah, selain oon dia juga budeg," batin Ji pada Zi sang istri.

__ADS_1


Bersambung...............


__ADS_2