MENIKAH DENGAN GADIS POLOS

MENIKAH DENGAN GADIS POLOS
48


__ADS_3

Setelah menerima telepon dari sang papa, yang memberi tahu, jika Ji di larikan ke rumah sakit, karena melukai dirinya sendiri, akibat depresi tidak bisa menemukan keberadaan sang kekasih, yang sangat dicintainya.


Zi dengan diantar Coki, langsung pergi ke rumah sakit, dimana Ji sang mantan suami sekarang berada.


"Makanya Cok, besok kalau kamu punya anak, jangan sekali kali memaksa anak kamu, untuk mengikuti apa yang kamu inginkan. Biarkan anak kamu dengan pilihannya, jika tidak ingin terjadi seperti apa yang Ji lakukan," kata Zi menasihati Coki yang sedang fokus pada jalanan di depannya.


Karena Ji coba untuk mengakhiri hidupnya dengan menyayat satu pergelangan tangannya.


Dan itu di luar dugaan semua orang, mendapati Ji sampai senekat itu melakukan apa yang seharusnya tidak dilakukan, hanya karena tidak menemukan sang kekasih yang pergi meninggalkannya tanpa kabar.


Coki menoleh sekilas pada Zi setelah mendengar apa yang di katakannya.


"Oke," sambung Coki untuk menimpali ucapan dari Zi. "Dan kamu mau tahu tidak? Aku ingin memiliki anak dengan siapa?"


"Entahlah, kamu bilang belum punya pacar, hanya ada gadis yang kamu sukai. Apa gadis yang kamu sukai itu?"


"Iya,"


"Siapa, aku jadi kepo," sambung Zi penasaran.

__ADS_1


"Kamu," batin Coki tanpa menatap pada Zi, yang kini sedang menatapnya, sambil memicingkan matanya.


"Ish, kenapa diam saja sih, Cok. Aku kan ingin tahu, gadis yang kamu sukai itu seperti apa," kata Zi karena Coki hanya diam, tanpa menjawab pertanyaannya.


"Orangnya cantik, manis dan yang terpenting dia baik hati dan tidak sombong. Dan aku menyukai gadis itu sejak lama, tepatnya sejak aku masih duduk di bangku SMA, hingga aku tidak pernah menyukai atau pacaran dengan gadis lain, tapi sampai saat ini aku belum berani mengungkapkan perasaanku padanya," jawab Coki, sedang membicarakan Zi yang duduk tepat di sebelah bangku pengemudi yang di dudukinya.


"Ish, jadi pria yang gentle dong, masa kamu sudah menyukainya lama, tapi belum mengungkapkan perasaan kamu, aneh amat,"


"Aku takut, jika perasaan aku tidak di balas," sambung Coki.


"Kalau kamu belum mencoba, bagaimana kamu akan tahu, dia juga memiliki perasaan yang sama denganmu atau tidak,"


"Entahlah, aku belum berani mengungkapkan perasaanku padanya, eh ya Zi aku ingin bertanya padamu,"


"Ini seumpama ya, jika ada pria yang sudah lama menyukai kamu, dan dia mengungkapkan perasaannya padamu, apa respon kamu?" tanya Coki, ingin tahu jawaban dari Zi, agar ia bisa menyiapkan diri jika suatu saat nanti mengungkapkan perasaannya pada Zi.


"Biasa saja,"


Coki mengerutkan keningnya mendengar jawaban dari Zi. "Kok, biasa saja?"

__ADS_1


"Aku tidak ingin memberi harapan padanya dan langsung mengatakan tidak mau,"


"Kenapa begitu?"


"Karena aku sudah berjanji, tidak akan pernah menikah lagi,"


Dan Coki benar-benar terkejut mendengar pernyataan dari gadis yang sudah mencuri hatinya sejak lama. "Apa kamu sedang bercanda, dengan mengatakan hal tersebut Zi?" tanya Coki penasaran.


"Tidak, aku tidak bercanda. Ini sudah keputusanku,"


"Tapi kamu tidak bisa hidup sendiri untuk selamanya, Zi. Dan kamu butuh pendamping hidup," Coki coba mengubah pendirian Zi tersebut, yang sama saja akan membuatnya mengubur perasaannya, dan Coki tidak mau itu.


"Siapa bilang aku akan sendiri, ada mama, papa, Ev dan juga kedua adikku yang akan selalu bersama denganku,"


"Tapi mereka tidak akan selalu bersamamu, mereka punya kehidupan sendiri, contohnya Ev, dia sudah memiliki suami dan dia juga tidak selalu ada untukmu, iya kan. Begitu juga dengan kedua adik kamu nanti,"


"Masih ada mama dan juga papa," sahut Ji.


"Apa mereka akan hidup selamanya, tidak kan Zi, karena setiap kehidupan pasti ada kematian, dan kamu butuh pendamping hidup untuk menemanimu dalam suka dan duka,"

__ADS_1


Zi berpikir sejenak dan mencerna apa yang Coki katakan, lalu ia menoleh pada Coki kembali. "Cok, bagaimana jika kamu yang mendampingi aku?"


Bersambung..............


__ADS_2