
Ibarat kata seperti kucing disuguhi ikan asin, mana mungkin menolak, begitu pun dengan Coki, dirinya pria normal tentu saja susah untuk menolak ajakan dari sang kekasih yang memintanya untuk tidur bersama, dan melupakan lelah yang sedang dirasakannya.
Dan akhirnya Zi yang sudah di selimuti oleh hawa nafsu, tanpa pikir panjang langsung menarik tangan coki menuju sofa yang ada di ruang tamu. Ia pun langsung duduk di pangkuan sang kekasih dan menghadap pada Coki, setelahnya ia membuka kencing kemeja yang dikenakannya, agar sang kekasih bisa memainkan gunung kembarnya.
Coki pun langsung mengikuti keinginan dari Zi, dengan bibir saling bertautan. Dan setelah beberapa saat kedua saling bercumbu, Zi pun langsung melepas tautan bibirnya, kemudian menatap pada Coki, dan memintanya untuk mengulum biji kopi luwak yang berada tepat di atas kedua gunung kembarnya.
Tentu saja tidak mendapat penolakan dari Coki, yang langsung mengulum biji kopi luwak tersebut.
Membuat tubuh Zi gelinjangan merasakan sensasi lidah Coki yang terus mengulum biji kopi luwak miliknya.
"Cok, hentikan," Zi menjauhkan kepala Coki agar terlepas dari biji kopi luwaknya.
"Kenapa?"
"Aku sudah basah, yuk main!"
"Baiklah, kita ke kamar," ajak Coki yang langsung mendapat gelengan kepala dari Zi. "Kenapa?"
"Aku mau main di sofa," jawab Zi, ingin merasakan bagaimana rasanya main di sofa, seperti vidio biru yang dulu pernah Ev tunjukkan padanya.
"Kamu yakin?"
__ADS_1
"Tentu saja,"
"Baiklah," Coki pun tidak keberatan untuk bermain di sofa.
Namun, saat ia akan melepas pakaian yang Zi kenakan, coki langsung mengurungkan niat nya, karena bel pintu rumahnya berbunyi.
"Ya ampun! Menyebalkan sekali!" kesal Zi. "Cok, abaikan saja, pasti Ev yang datang dan ingin mengganggu kesenangan kita," kata Zi, mengingat lagi beberapa kali ia dan juga Coki akan tidur bersama, tapi tidak jadi karena Ev tiba-tiba datang dan menganggu kesenangannya.
Dan Coki pun mengikuti sang kekasih untuk mengabaikan siapa yang datang, dan langsung melepas pakaian milik Zi.
Namun, setelahnya ia mengenakan pakaian sang kekasih lagi.
"Lebih baik kamu buka saja pintunya, aku takut Ev mengadukan kita ke mama dan juga papa kamu, dan itu akan membuat mereka membenci aku, kamu tahu sendiri, aku sudah berjanji pada mereka tidak akan meniduri kamu sebelum kita resmi menikah,"
"Ah kamu tidak asyik Cok," sahut Zi penuh kecewa lalu beranjak dari pangkuan Coki.
"Jangan cemberut begitu, aku tunggu kamu di kamar, dan setelah kamu bisa mengatasi Ev, kita lanjutkan lagi,"
"Benar ya?"
"Iya,"
__ADS_1
"Oke," Zi pun langsung berjalan menuju arah pintu rumah, sedangkan Coki segera menuju kamarnya. "Ev, kapan sih kamu tidak pernah mengganggu kesenangan aku, hah! Tolong pengertiannya dong, kamu sudah puas di tusuk terus, sekarang giliran aku dong," kata Zi sambil membuka pintu.
Namun, saat Zi sudah membuka pintu, ia tidak mendapati sang saudari, yang ada ia melihat sosok pria yang pernah Zi lihat.
"Sepertinya aku pernah melihat kamu? Tapi dimana ya?" tanya Zi pada pria yang ada dihadapannya.
Dimana pria tersebut yang tak lain dan tak bukan adalah Bima, kini menodongkan pistol yang baru saja ia ambil dari balik baju, tepat di dada Zi.
Tentu saja membuat Zi sangat terkejut, dan membuatnya langsung ketakutan.
"Ikut denganku!" perintah Bima, lalu menarik tangan Zi.
Dor! Dor!
Coki yang baru saja akan merebahkan tubuhnya diatas kasur, ia urungkan ketika kedua telinga mendengar dua kali suara tembakan dari luar rumahnya.
Membuat Coki langsung berlari keluar dari dalam kamarnya, entah mengapa mendengar suara tembakan, merasa ada yang tidak beres.
"Zi," panggil Coki ketika sudah berada di luar kamar. "Zi!" panggilnya lagi, ketika tidak melihat sang kekasih. Kemudian ia berlari keluar dari dalam rumah karena pintu rumahnya terbuka tapi tidak ada sang kekasih. "ZI!!!"" teriak Coki sekuat tenaga ketika sudah berada di teras rumahnya dan melihat sang kekasih.
Bersambung...........
__ADS_1