
Tentu saja Ji tidak menimpali apa yang sang istri katakan, karena benar apa yang di katakannya, jika ia tidak lebih baik dari Coki, yang mengabaikan Zi sang istri demi Bela sang kekasih.
"Kenapa diam saja, benar apa yang aku katakan bukan? Makanya jangan menuduh oki yang tidak-tidak, dia pria yang sangat baik, dan lebih mengerti aku di banding kamu, padahal kita sudah berteman sejak kecil. Kamu benar-benar menyebalkan Ji," cibir Zi, dan kembali melangkahkan kakinya menuju kamar mandi.
Tapi lagi dan lagi, Ji menghentikan laju langkahnya. "Apa lagi sih?!" tanya Zi kesal setelah menoleh pada sang suami.
"Besok kita pulang,"
"Pulang?"
"Iya,"
"Aku tidak mau, besok aku ada janji dengan Coki untuk mengunjungi destinasi wisata lainnya,"
"Jika aku bilang, kita pulang, ya pulang, mengerti!"
"Kamu dulu saja yang pulang," sahut Zi, dan kembali melangkahkan kakinya mendekati kamar mandi.
"Pokoknya harus pulang!"
"Masa bodo!"
*
__ADS_1
*
*
Sementara itu di sebuah mension mewah, ketika Coki baru sampai mension tersebut, tempatnya tinggal selama ia berada di negara tersebut.
Langsung menuju sebuah ruangan, setelah salah satu penghuni mension tersebut menyuruhnya untuk pergi ke ruangan tersebut.
Coki yang sudah memasuki sebuah ruang yang luasnya hampir sama dengan lapang tenis, dimana ada seorang pria setelah baya sedang duduk di kursi kebesarannya dengan di dampingi beberapa anak buahnya yang bertubuh kekar, kini Coki mendekati pria tersebut, pria yang sangat ia kenal.
"Om memanggil aku?" tanya Coki pada pria setengah baya, yang memiliki tato hampir setengah tubuhnya.
Namun, pernyataannya tidak di jawab oleh pria tersebut yang bernama Lucas, salah satu pimpinan mafia kelas kakap di negara tersebut.
Coki benar-benar bingung mendengar apa yang Lucas katakan. "Maksud Om, apa?" tanya Coki penasaran.
"Lanjutkan, dan bawa gadis itu pada Om. Karena dengan gadis itu, Om bisa dengan mudah menghancurkan Jack," ujar Lucas menjawab pertanyaan dari Coki, karena ia sudah tahu. Jika Coki sang keponakan sedang mendekati Zi, yang ia tahu, gadis tersebut masih ada hubungannya dengan Jack, salah satu musuh terbesarnya di dunia mafia.
Dan dengan gadis itu, Lucas yakin akan dengan mudah menghancurkan Jack, lalu menjadikannya pemimpin mafia yang tidak ada tandingannya bukan hanya di negara tersebut, tapi juga di seluruh dunia.
Coki menautkan keningnya, mendengar apa yang di katakan oleh Lucas, dan ia yakin. Gadis yang sedang dibicarakan Lucas adalah Zi, padahal ia tidak pernah sama sekali mengatakan tentang Zi pada Lucas. Tapi Coki melupakan siapa Lucas, yang bisa mengetahui apa pun yang sedang di lakukannya setiap saat.
"Apa Om, sedang bicara tentang Zi?" tanya Coki ingin tahu.
__ADS_1
"Siapa lagi, jika bukan gadis itu. Dan segera bawa gadis itu pada om secepatnya,"
"Om, aku..."
"Tinggal turuti apa yang om perintahkan," sambung Lucas memotong perkataan dari Coki. "Jika kamu ingin ibumu tetap bernafas!" ancam Lucas, dan langsung berjalan keluar dari dalam ruangan tersebut, di ikuti oleh semua anak buahnya, meninggalkan Coki yang sedang memikirkan Zi, gadis yang mencuri perhatiannya, dan gadis yang mampu menarik hatinya, dan baru kali ini ia tertarik pada seorang gadis.
"Maaf Om, aku tidak akan pernah memberikan Zi," batin Coki, entah mengapa untuk pertama kalinya ia tidak ingin menuruti perintah dari Lucas, yang membuatnya bisa memiliki harta melimpah, dan masih bisa melihat sang ibu yang sakit keras.
Kemudian Coki mengambil ponselnya, untuk mengirim pesan pada Zi
*
*
*
"Apa aku bilang, belum apa-apa Coki sudah mengurungkan niat mengajak kamu pergi besok," ucap Ji, pada Zi yang baru saja menerima pesan dari Coki, yang mengurungkan niatnya mengajak Zi pergi besok. "Dan besok kita kembali, mengerti!"
"Tidak mau, aku belum mau kembali. Mungkin besok Coki tidak bisa, tapi aku yakin besoknya lagi dia bisa,"
"Kamu jangan ngeyel, jika kamu masih berada di negara ini, kamu dalam bahaya, paham!"
Bersambung...........
__ADS_1