MENIKAH DENGAN GADIS POLOS

MENIKAH DENGAN GADIS POLOS
44


__ADS_3

Mendengar suara yang sangat Zi kenal, membuatnya langsung melepas pelukannya, lalu menatap ke sumber suara, tanpa menghentikan tangisnya. Dimana Ev sang saudari lah yang datang.


Membuat Zi kembali memeluk tubuh Coki. "Aku sedih, Cok," ucapnya, tentu saja membuat Coki bingung, tidak tahu kesedihan apa yang Zi rasakan, Coki yang tidak tahu harus melakukan apa, kini balik memeluk tubuh Zi, dan mengelus punggungnya.


"Eleh sedih apaan, sudah jangan peluk-peluk, gantian aku yang memeluk Coki," Ev yang sudah mendekati keduanya, segera melepas pelukan Zi, dan ingin memeluk Coki.


Namun, suara deheman dari sang suami yang juga ikut bersamanya ke rumah Coki untuk mengungkapkan rasa bela sungkawa, ketika keduanya baru tahu tetang kematian mama dari Coki. Membuat Ev langsung menatap pada sang suami, tak lupa mengukir senyum manis ke arahnya. "Sayang, aku hanya ingin mengungkapkan rasa bela sungkawa pada Coki, jangan berpikir macam-macam, oke! Cintaku, sayangku hanya untuk kamu, sayang," kata Ev tak lupa mengukir senyum dan mengedipkan sebelah matanya kearah sang suami, lalu menatap pada Coki yang masih duduk di tempatnya, dan memeluknya sekilas. "Aku turut berduka cita ya, Cok," ucapnya.


"Terima kasih, Ev,"


"Sama-sama," sambungnya lalu menatap pada Zi sang saudari yang masih menangis. "Eh jangan drama kali, terima nasib saja, jika kamu akan menjadi janda di usia muda," kata Ev pada Zi, karena ia pikir, sang saudari menangis karena tidak lama lagi akan bercerai dengan Ji.


Mendengar apa yang dikatakan oleh Ev, membuat Coki langsung menatap kearahnya. "Janda? Maksud kamu apa Ev?" tanya Coki yang sangat penasaran dengan ucapannya.


"Oh kamu belum tahu ya, jika Zi akan bercerai dengan Ji?"


Coki pun segera menggelengkan kepalanya untuk menjawab pertanyaan dari Ev.

__ADS_1


"Itu sudah aku tahu, jika tidak lama lagi mereka akan bercerai,"


Entah mengapa mendengar pernyataan dari Ev, membuat Coki merasa senang, di tengah kesedihannya tersebut, karena tidak ada lagi penghalang untuk ia mendekati Zi, gadis yang sejak lama ia sukai.


Kemudian Coki kini menatap pada Zi yang masih menangis, lalu meraih kedua tangannya, dan menggenggamnya dengan sangat erat. "Jangan menangis lagi Zi, karena aku yakin kamu akan mendapatkan pria yang jauh lebih baik dari pada Ji," ucap Coki yang mengira Zi menangisi rumah tangganya yang baru seumur jagung.


Zi menghentikan tangisnya lalu mengusap air matanya yang masih membasahi kedua pipinya. "Siapa bilang, aku menangis karena ingin bercerai dengan Ji,"


"Terus?"


"Terus?" tanya Coki dan juga Ev bergantian.


"Ah, jangan ungkit hal itu lagi Zi. Kamu juga membuat aku sedih, kamu tahu aku juga kehilangan sosok papa, dan tidak pernah melihat secara langsung dari kecil," sambung Ev yang sama seperti Zi, kehilangan sosok seorang papa dari ia belum lahir.


"Peluk," Zi merentangakan kedua tangannya agar Ev memeluknya.


Namun, bukannya memeluk saudarinya tersebut, yang ada Ev memeluk tubuh Coki.

__ADS_1


Dan deheman dari sang suami, membuat Ev segera melepas pelukannya, lalu menatap padanya. "Maaf sayang," ucapnya, kemudian menghampiri sang suami dan memeluknya dengan sangat erat.


"Sekali lagi, mencuri kesempatan dalam kesempitan, tidak dapat jatah,"


"Benar? Tadi saja minta nambah, enak kan gaya baruku?" tanya Ev pada sang suami.


"Enaklah," sambung Jo, dan balik memeluk tubuh sang istri.


Sementara itu disisi lain, Coki kembali meraih kedua tangan Zi yang tadi sempat terlepas lalu menggenggamnya. "Jangan bersedih lagi, kita sama. Sama-sama kehilangan sosok seorang mama,"


Zi pun menganggukkan kepalanya. "Cok,"


"Iya Zi, ada apa?"


"Mau tahu, apa mau tahu banget?"


Coki langsung tersenyum mendengar pertanyaan balik dari Zi. "Tidak, aku tidak mau tahu,"

__ADS_1


"Ish, menyebalkan!" sambung Zi, padahal ia sendiri yang menyebalkan.


Bersambung...............


__ADS_2