
Hari ini benar-benar hari yang tidak disangka sangka sebelumnya oleh semua orang, karena pernikahan Zi dan juga Ji yang diharapkan oleh semua anggota keluarga akan bahagia, nyatanya terbanding terbalik.
Dan sekarang pernikahan yang baru seumur jagung tidak lama lagi akan berakhir, karena Zi mengiyakan apa yang Papa Zain inginkan, agar segera bercerai dengan Ji.
Dimana Ji baru saja di larikan ke rumah sakit, setelah tidak sadarkan diri karena mendapat tendangan keras dari papi Jona, sampai tubuhnya terpental beberapa meter, saat papi Jona tahu, ternyata Ji meminjam uang pada Zi untuk pengobatan Bela.
Zi yang mengetahui keadaan Ji yang baru saja di larikan ke rumah sakit. begitu cemas, takut terjadi sesuatu padanya.
"Ya ampun, aku takut terjadi sesuatu pada Ji," ucap Zi yang kini sudah duduk di sofa ruang keluarga, setelah tadi keluar dari kamarnya, karena mendengar teriakan mami Jane, yang mendapati putranya tidak sadarkan diri.
Ev yang duduk tepat di sampingnya, langsung menoleh pada saudarinya tersebut. "Untuk apa kamu takut jika terjadi sesuatu pada Ji, biarkan saja dia. Ji pantas mendapatkan hal itu,"
"Ish kamu tidak berprikemanusiaan,"
"Kamu yang bodoh, punya suami begitu diam saja," ucap Ev sedikit kesal.
"Tapi Ji tidak salah dalam hal ini, Ev,"
"Tentu saja salah,"
__ADS_1
"Salahnya dimana coba?"
"Dasar bodoh kamu Zi, masih bertanya salahnya dimana, tentu saja Ji salah, karena mencintai wanita lain ketika dia sudah menikah dengan kamu, harusnya yang dicintai itu kamu, paham!"
"Ev, cinta itu tidak bisa di paksakan. Yang salah disini adalah mama, papa, papi dan juga mami, yang memaksa aku dan juga Ji menikah, padahal aku dan juga dia tidak sama sekali memiliki rasa, kecuali rasa persaudaraan. Mereka semua egois, tidak mengerti perasaan anaknya masing-masing, dan lebih memilih mengorbankan anaknya, demi kepentingan mereka, makanya nanti, jika kamu punya anak, biarkan anak kamu yang menentukan hidup, dan kamu sebagai orang tua harus mendukung jika itu baik, dan nasihat bila itu tidak baik, lalu mengarahkannya, oke!"
Ev memicingkan matanya menatap pada Zi setelah berbicara panjang lebar. Kemudian Ev menempelkan punggung tangannya di kening Zi.
"Normal, tapi kenapa untuk pertama kalinya kamu bicara yang berbobot Zi, apa baut otak kamu sudah kencang?" tanya Ev bingung, karena bisanya saudarinya tersebut kalau bicara selalu melantur.
"Memang tadi aku bicara apa?"
"Baru di sanjung, sudah kendor lagi tuh baut,"
"Otak kamu!" jawab Ev kesal. "Lupakan saja apa yang tadi kita bicarakan, ada yang ingin aku tanyakan padamu Zi,"
"Tentang apa?"
"Coki,"
__ADS_1
"Ada apa dengan Coki?"
"Sekarang dia tambah ganteng ya, pasti kamu punya nomor ponselnya, bagi dong,"
Jo yang berada tidak jauh darinya langsung berdehem, membuat Ev langsung menoleh pada sang suami sambil mengukir senyum. "Becanda sayang, cintaku tetap kamu kok," ucap Ev. "Nanti malam aku kasih gaya baru, pasti kamu suka sayang," kata Ev untuk merayu sang suami yang tadi tidak ikut ke rumah sakit bersama papa Zain dan juga mama Hazel, untuk mengantar Ji.
"Gaya apa Ev?" tanya Zi yang begitu penasaran dengan ucapan dari Ev.
"Kalajengking," jawab Ev yang kini beranjak dari duduknya, lalu menghampiri sang suami dan menarik tangannya. "Yuk sayang, aku tunjukkan gaya baru sekarang juga, dan aku yakin kamu akan ketagihan,"
"Bagaimana ketagihan, yang ada kesakitan, karena di gigit kalajengking," sahut Zi yang tidak paham dengan apa yang dikatakan oleh Ev.
"Kalajengking yang ini beda Zi, karena bisa buat kita merem melek tahu,"
"Elah mana ada, kalau yang bisa bikin melek itu, kelilipan debu,"
"Iya in aja deh dari pada panjang urusannya, bay bay lemot," Ev pun langsung menarik tangan sang suami menuju kamar yang selalu ia tempati ketika datang ke rumah orang tuanya tersebut.
Meninggalkan Zi, yang kini menatap layar ponselnya, ketika baru saja ia mendapat panggilan dari sang mama yang tadi ikut mengantar Ji sang suami ke rumah sakit.
__ADS_1
"Apa Ma, masa sih?" tanya Zi setelah mengangkat sambungan ponsel dari sang mama.
Bersambung................