
Kekesalan tidak bisa di tutupi lagi oleh Ji, setelah om Jack dengan halus mengeluarkannya, dari kelompok mafia yang sudah lama Om Jack bangun.
Tentu saja Ji merasa kesal, karena satu satunya akses dirinya mendapat uang lebih untuk pengobatan Bela yang tidak sedikit jumlahnya, kini tidak ada lagi.
"Sial!" seru Ji sambil memukul sebuah meja, ketika ia sedang berada di sebuah kafe setelah meninggalkan rumah om Jack. "Apa aku harus menggunakan uang dari showroom, untuk pengobatan Bela. Tidak, aku tidak ingin papi dan juga mami mengetahui, jika aku masih berhubungan dengan Bela," kata Ji bingung, lalu mengacak rambutnya kasar, karena keuangan showroom mobil masih di pegang oleh sang papi seutuhnya. "Apa yang harus aku lalukan, ahhhh!" seru Ji lagi dan kembali menggebrak meja yang ada di hadapannya.
Lalu ia memicingkan matanya menatap seorang pria setengah baya, yang tiba-tiba menarik kursi dan duduk tepat di hadapannya.
Ji sangat mengenal pria tersebut, yang tak lain dan tak bukan adalah Lucas, musuh bebuyutan dari om Jack.
Senyum menghiasi kedua sudut bibir Lucas, sambil menatap pada Ji. "Aku tahu kamu membutuhkan banyak uang," kata Lucas, yang sudah mengetahui, jika Ji sekarang sudah tidak lagi berada di bawah pimpinan om Jack, dan ia pun tahu, Ji membutuhkan uang yang tidak sedikit untuk pengobatan sang kekasih.
Itulah Lucas, yang selalu tahu tentang kehidupan setiap musuhnya, termasuk kehidupan Ji, dari menikah karena perjodohan, hingga Bela kekasih yang sangat Ji cintai.
Ji tidak terkejut jika Lucas mengetahui, ia sedang membutuhkan uang yang tidak sedikit, karena ia tahu persis, hembusan angin juga bisa menjadi mata-mata untuk Lucas.
"Aku akan memberikan seberapa pun, uang yang kamu inginkan, asalkan kamu berpihak padaku, dan mau menjalankan perintahku,"
Ji kini menatap lekat wajah Lucas, setelah mendengar penawaran yang begitu menggiurkan baginya.
__ADS_1
"Perintahku sangat gampang,"
"Apa itu?" tanya Ji yang tertarik dengan tawaran Lucas.
"Istri kamu, yang tidak sama sekali kamu cintai,"
"Maksudnya?" tanya Ji bingung.
"Bawa istrimu padaku, dan setelahnya, aku akan memberikan apa pun yang kamu inginkan,"
Ji tidak menimpali ucapan dari Lucas, yang ada ia hanya diam, sambil memikirkan apa yang Lucas katakan.
"Kamu berfikir dulu tentang tawaran ini," kini Lucas beranjak dari duduknya, lalu mengambil kartu nama dari balik jas yang ia kenakan, kemudian menyodorkannya pada Ji. "Hubungi nomor ini, jika kamu menginyakan tawaranku tadi," ujar Lucas. "Ingat, kamu membutuhkan uang yang tidak sedikit untuk wanita yang kamu cintai," perkataan terakhir sebelum Lucas meninggalkan Ji.
*
*
*
__ADS_1
Sementara itu, Lucas yang baru saja masuk ke dalam mobilnya, langsung tersenyum. Ia yakin, jika Ji tidak akan menolak tawarannya.
Tidak seperti Coki, yang mengabaikan perintahnya, dan memilih keluar dari mension milik Lucas dengan membawa sang mama.
"Bos, bagaimana jika dia tadi mengabaikan tawaran Bos?" tanya salah satu pengawal Lucas, yang duduk di bangku pengemudi.
"Kita lihat saja nanti," jawab Lucas.
Dan entah mengapa, ia yakin, Ji akan membawa gadis yang bisa membuatnya menggulingkan kekuasaan om Jack.
*
*
*
Sementara itu di tempat lain, setelah memutuskan untuk keluar dari mension Lucas, saat ia tidak mungkin bisa mengikuti perintahnya yang bagai buah simalakama. Karena akan mengancam nyawa sang mama dan juga Zi, dua wanita yang sangat ia sayangi.
Coki pun segera melakukan penerbangan hanya bersama dengan sang mama, yang senantiasa duduk di atas kursi roda, ke negara dimana ia di lahirlah dan juga di besarkan.
__ADS_1
Untung saja ia masih memiliki tabungan yang cukup banyak, karena ada salah satu tabungan, yang luput di bekukan oleh Lucas. Meskipun uang yang berada di tabungan tersebut, ia dapatkan dengan cara yang tidak halal.
Bersambung...............