
Ji begitu setia berada di samping Bela, hingga ia yang sudah duduk di kursi tepat disisi ranjang dimana Bela berada, kini tertidur dengan kepala berada diatas ranjang, karena menunggu sekian lama, sang kekasih belum juga terbangun.
Hingga belaian di pipinya, membuat Ji segera membuka kedua bola matanya, lalu menegakkan kepalanya untuk menatap pada Bela, yang ternyata sudah membuka kedua bola matanya, dan kini tersenyum pada Ji.
"Sayang," ucap Ji, dan satu tangannya mebelai sebelah pipi Bela, dimana selang oksigen yang tadi terpasang di mulut dan juga hidung Bela sudah di lepas. "Sayang," ucapnya lagi, lalu mencium sebelah pipi Bela yang baru saja ia belai.
"Sayang, kapan kamu datang?" tanya Bela, dalam posisinya, terbaring di atas ranjang perawatan.
"Kamu tega," ujar Ji, tanpa menjawab pertanyaan dari sang kekasih. "Kenapa kamu tidak memberi tahu, jika kamu tidak baik-baik saja, kamu anggap aku, apa sayang?"
"Maaf, aku tidak ingin mengganggu waktu kamu bersama istri kamu,"
"Kenapa kamu berkata seperti itu, tidak ada hal yang lebih penting di banding kamu, sayang,"
"Iya aku tahu itu," sambung Bela sambil mengukir senyum, dan satu tangannya meraih tangan Ji, lalu menggenggamnya dengan sangat erat. "Sayang, ada yang ingin aku sampaikan padamu,"
"Katakan aku akan mendengarnya, tapi jika kamu menyuruh aku membuka hati untuk istriku, aku tidak akan pernah mendengarkannya, kamu tahu seberapa besar cintaku padamu, sayang." sambung Ji, karena akhir-akhir ini, Bela selalu menyuruh Ji untuk membuka hati dan coba mencintai Zi.
"Sayang, aku mohon dengarkan aku,"
"Tidak, dan jangan bicara apa pun lagi,"
"Ayo lah sayang, aku hanya tidak ingin kamu bersedih saat kepergian aku yang tidak akan lama lagi, jika kamu membuka hati untuk istrimu,"
__ADS_1
"Jangan bicara lagi, paham! Kita akan hidup bersama selamanya, mengerti! Dokter hanya manusia, dan takdir ada di tangan Tuhan," sambung Ji yang tidak percaya pada vonis dokter yang mengatakan umur Bela tidak lama lagi, setelah kanker ganas yang ia derita sudah memasuki setadium akhir, meskipun selama ini sudah menjalani pengobatan, tapi tidak ada perkembangan yang signifikan.
"Tapi..."
"Aku mohon jangan katakan lagi,"
"Baiklah, aku tidak akan mengatakannya lagi sayang. Tapi aku ingin pulang ke negara kita, aku tidak mau berada disini,"
Mendengar apa yang dikatakan oleh Bela, Ji langsung menatap kearahnya.
"Sayang, kamu perlu perawatan lebih lanjut,"
"Aku sudah lebih baik, dan aku ingin pulang,"
"Tapi..."
"Baiklah, tapi menunggu kamu benar-benar lebih baik,"
Bela pun mengiyakan apa yang Ji katakan, karena sebenarnya ia masih belum baik-baik saja.
*
*
__ADS_1
*
Keesokan harinya, Ji meninggalkan Bela bersama dengan Bima. Dan berniat untuk pergi ke rumah om Jack, setelah om Jack menyuruhnya untuk datang menemuinya.
"Kembalilah!" perintah om Jack, ketika Ji sudah menghadap padanya.
"Maaf Om, aku tidak bisa meninggalkan Bela,"
"Dia hanya kekasih kamu, yang sedang sekarat," sahut om Jack yang sudah tahu kondisi Bela dari jauh hari.
Mendengar apa yang dikatakan oleh om Jack, membuat Ji menatap pada sahabat sang papa tersebut.
"Kanapa om bicara seperti itu hah!" kesal Ji.
"Terserah pada Om, ini mulut om sendiri. Dan ya, mulai sekarang, om tidak memerlukan kamu lagi,"
"Apa maksud Om?"
"Om baru tahu, selama ini kamu yang membiayai pengobatan wanita itu, dan saat ini juga, Om tidak akan mengirim uang untuk kamu, Ji."
"Apa!"
Bersambung..................
__ADS_1