MENIKAH DENGAN GADIS POLOS

MENIKAH DENGAN GADIS POLOS
52


__ADS_3

Setelah kepulangannya dari rumah sakit, Zi merasa bingung dengan sikap Coki yang tiba-tiba berubah dan diam seribu bahasa, padahal mobil yang dikendarainya tidak akan lama lagi tiba di rumah Zi.


Tentu saja Zi bingung, pasalnya ketika berangkat ke rumah sakit untuk menjenguk Ji, sepanjang perjalanan, Coki selalu berbincang dengannya, dan terus menanyakan sesuatu meskipun itu tidak penting.


Tapi saat ini Zi bertanya pun, Coki tidak menjawabnya, dengan tatapan fokus ke jalanan yang di laluinya.


Kemudian Zi kini menoleh pada Coki. "Cok," panggil Zi.


Tapi tidak mendapat responden dari Coki. "Cok," panggil Zi lagi. "Kamu sakit?" tanya Zi, berpikir Coki sedang tidak enak badan.


"Tidak," jawab Coki tanpa menoleh pada Zi.


"Kenapa kamu hanya diam saja dari tadi?"


"Gigiku sakit," jawaban dari Coki, tentu itu sebuah kebohongan.


Karena alasan Coki tidak mengatakan apa pun setelah kepulangannya dari rumah sakit, tidak terlepas dengan rasa kecewa yang ia rasakan, mendapati Zi masih mau menolong Ji mencari keberadaan Bela.


Dan Coki sudah menasihatinya tadi setelah keluar dari dalam kamar Ji, tapi Zi tidak mau mendengar nasihatnya, untuk tidak ikut campur lagi dengan urusan Ji, tapi Zi menolak dengan dasar sudah menganggap Ji sebagai saudaranya sendiri.

__ADS_1


Meskipun sebenernya Coki tidak berhak untuk melarang Zi, karena ia bukan siapa-siapa baginya. Tapi Coki tidak ingin Zi gadis yang disukainya, membantu Ji yang selalu menghinanya.


"Ya ampun, gigi kamu sakit?" tanya Zi sedikit kuatir. "Kenapa kamu tidak bilang dari tadi saat masih di rumah sakit, agar gigi kamu bisa di periksa oleh dokter disana, Cok,"


Namun, Coki tidak ingin menanggapi apa yang Zi katakan. "Cok," panggil Zi karena Coki tidak menanggapi perkataannya, kemudian ia memegang lengannya. "Cok, kamu..." Zi tidak jadi meneruskan ucapannya ketika Coki menyingkirkan tangannya. "Ada apa Cok?"


"Diam, aku tidak ingin bicara!" seru Coki dengan nada yang sedikit kesal.


Entah mengapa Zi yang selalu tidak peka terhadap siapa pun lawan bicaranya, kini peka dengan ucapan Coki, dan merasa ada yang tidak beres dengannya. "Kamu tidak sakit gigi kan, Cok?"


Pertanyaan Zi membuat Coki melirik ke arahnya, karena baru kali ini Zi peka terhadap perasaan seseorang.


"Cok, aku sedang bertanya padamu. Setidaknya jawab pertanyaan aku, apa yang terjadi padamu, sehingga dari tadi kamu tidak bicara sepatah kata pun padaku, seolah-olah kamu sedang marah padaku, apa aku memiliki salah padamu? Jika iya, katakan padaku, apa salahku padamu?"


Lagi dan lagi Coki tidak ingin menjawab atau pun menanggapi apa yang Zi katakan dan fokus pada jalanan yang di laluinya.


Membuat Zi langsung menarik satu tangan Coki, ia tidak bisa menerima diabaikan olehnya, padahal biasanya ia akan biasa saja jika diabaikan, contohnya diabaikan oleh Ji.


Membuat Coki kini menepikan mobil yang dikendarai, lalu menghentikan laju mobilnya, kemudian menatap pada Zi yang juga sedang menatapnya.

__ADS_1


"Aku kecewa padamu, Zi," ucap Coki setelah dari tadi tidak mengatakan apa pun.


"Kecewa? Padaku? Kenapa Cok?" tanya Zi sedikit bingung.


"Aku sudah bilang padamu, jangan membantu Ji mencari keberadaan Bela,"


"Kenapa memangnya?"


"Aku tidak suka, kamu selalu di hina olehnya,"


"Aku tidak merasa di hina oleh Ji, kok. Memang ucapan Ji dari dulu seperti itu padaku, lagian kenapa juga kamu melarang aku untuk membantu Ji, tidak masuk akal,"


"Karena aku mencintai kamu Zi, dan aku tidak ingin, wanita yang aku cintai di hina oleh orang lain," akhirnya Coki mengatakan perasaan yang selama ini terpendam, meskipun cara mengatakannya salah, karena Coki sedang di selimuti kekecewaan.


Zi menautkan keningnya mendengar apa yang Coki katakan, lalu tertawa.


"Aku tidak sedang bercanda Zi," kata Coki karena Zi malah menertawakannya.


"Cok, kamu..." Zi tidak jadi meneruskan ucapannya, karena tiba-tiba Coki menarik tangannya untuk mendekat lalu ia mencium bibirnya.

__ADS_1


Bersambung...........


__ADS_2