
Karena tidak mendapat jawaban dari Zi sang saudari atas pertanyaannya Ev pun mengikuti saudarinya sampai ke kamar, setelah memanggil sang papa karena Coki ingin menemuinya.
"Untuk apa kamu mengikutiku, Ev? tanya Zi tanpa menyadari jika Ev mengikutinya, karena pertanyaannya tidak mendapat jawaban.
"Duduklah," bukannya menjawab pertanyaan dari Zi, yang ada ia menarik salah satu tangan saudarinya tersebut untuk duduk di pinggiran tempat tidur bersebelahan dengannya. "Dan jawab pertanyaan aku tadi, kenapa kamu jalananya seperti bebek, apa ada yang tidak aku tahu, jika iya. Apa kamu tidak ingin memberi tahuku?" tanya Ev yang benar-benar penasaran.
Masih ingat di benak Ev ketika pertama kali melakukan hubungan suami istri, jalannya sama persis seperti Zi kali ini, dan entah mengapa ia berpikir jika saudarinya tersebut, telah melakukannya.
Tapi Ev ingin mendengar langsung dari bibir Zi, dugaannya benar atau tidak.
Bukannya menjawab pertanyaan dari Ev, yang ada kini Zi mengukir senyum.
Dan hal itu, membuat Ev langsung menoyor kepalanya. "Gila ya,"
"Enak saja," sahut Zi tidak terima.
"Terus kenapa senyum-senyum sendiri seperti orang gila?"
"Aku sedang mengingat kejadian semalam, dan seperti yang kamu katakan Ev, memang rasanya sangat enak, meskipun sampai sekarang masih terasa perih,"
Ev menautkan keningnya mendengar apa yang Zi katakan, entah mengapa iya yakin dengan pikirannya, jika saudarinya tersebut baru saja melepas keperawanannya.
"Zi, jangan bilang, kamu semalam tidur dengan pria dan..."
"Langsung praktek, seperti vidio yang sering kamu tunjukkan padaku Ev. Dan benar apa yang kamu katakan, rasanya sangat nikmat, aku sampai nambah," Zi memotong perkataan dari Ev, dan memberi tahu apa yang semalam terjadi dengannya.
Ev langsung melongo mendengar apa yang Zi katakan, dan penasaran dengan siapa saudarinya tersebut melakukan hubungan suami istri, pasalnya beberapa waktu lalu, saat ia memergoki Zi dan Coki berciuman, dan mengira keduanya sudah melakukan hubungan suami istri, tapi nyatanya belum.
__ADS_1
"Dengan siapa kamu melakukannya, Zi? Apa dengan Coki?"
Zi menganggukkan kepalanya untuk menjawab pertanyaan dari Ev.
Membuatnya langsung beranjak dari duduknya. "Ya ampun Coki, awas kamu ya,"
"Mau ke mana?" tanya Zi sambil menahan tangan Ev yang ingin pergi.
"Menemui Coki lah, aku tahu, pasti Coki yang memaksa kamu kan?" tanya Ev, karena tidak mungkin saudarinya tersebut mau melakukan hal terlarang.
"Kata siapa Coki yang memaksa aku, aku yang memaksa dia untuk melakukannya,"
"Apa?!"
*
*
*
"Iya Om,"
"Tentang apa?" tanya papa Zain ingin tahu.
"Tentang aku dan juga Zi,"
"Tentang kalian? Memangnya ada apa?"
__ADS_1
"Aku ingin meminta ijin pada Om, untuk menikahi Zi," jawab Coki tanpa basa basi karena ia sudah siap untuk menikahi Zi yang sudah sejak lama ia sukai, apa lagi ia sudah merenggut kesuciannya.
Namun, permintaan Coki membuat papa Zain langsung mengukir senyum. "Apa kamu yakin?"
"Yakin Om, semoga Om tidak menghalangi niat baikku ini,"
"Om sih tidak masalah, tapi apa Zi mau sama kamu dan mau menerima pinangan kamu?"
"Pasti mau Om, aku dan Zi sekarang sudah menjadi sepasang kekasih, dan maaf Om, kami juga sudah tidur bersama,"
"Apa!" tentu saja papa Zain sangat terkejut mendengar pengakuan dari Coki.
Membuatnya langsung beranjak dari duduknya, lalu bertolak pinggang sambil menatap tajam pada Coki.
"Maafkan aku Om,"
Prang!
Papa Zain membanting gelas yang ada di atas meja hingga hancur berantakan, untuk mengungkapkan kekesalannya mendapati putrinya dinodai oleh Coki.
Membuat semua penghuni rumah langsung berhamburan menuju ruang tamu.
"Pa, ada apa?" tanya Zi yang langsung mendekati sang papa.
Membuat papa Zain langsung menatap pada putrinya tersebut. "Katakan pada papa, apa yang sudah Coki lalukan padamu? Apa dia memaksa kamu untuk tidur bersama? Katakan Zi,"
"Dia tidak memaksa aku, aku yang memaksa dia, memang ada apa Pa?"
__ADS_1
"YA TUHAN, ZI!!!!!!!"
Bersambung.................