
Ji mengerutkan keningnya, mendengar kata maaf dari mulut Bima adik dari sang kekasih. "Bim, apa yang kamu katakan? Dan dimana Bela?" tanya Ji sedikit kuatir, takut terjadi sesuatu pada sang kekasih, yang sudah tidak lagi berada di ruang perawatan intensif.
Namun, tidak mendapat jawaban dari Bima, karena sekarang ia menyodorkan secarik kertas kearah Ji. "Ini dari Kak Bela,"
Ji menatap secarik kertas tersebut, yang disodorkan oleh Bima dan mengambilnya.
Kemudian membaca tulisan yang ada di kertas tersebut, setelah membaca tulisan tersebut, Ji pun langsung membuangnya, lalu menatap pada Bima.
"Ini tidak lucu Bim, katakan padaku, dimana Bela?!" tanya Ji kesal, setelah membaca secarik kertas tersebut. Dimana terdapat tulisan, jika Bela menginginkannya untuk putus, dan jangan mencarinya lagi.
"Ini permintaan Kak Bela, aku harap kakak menerima keputusannya,"
"Tidak!" sahut Ji yang akan meninggalkan Bima, untuk mencari keberadaan Bela.
Namun, satu tangannya di cekal oleh Bima, membuat Ji langsung menghentikan langkah kakinya.
"Percuma Kakak mencari Kak Bela, yang ada Kakak akan menambah bebannya, aku tahu Kakak sudah tidak memiliki apa pun lagi, dan tidak akan bisa lagi membayar pengobatan Kak Bela,"
Ji kini menautkan keningnya mendengar apa yang Bima katakan, dan dia bingung kenapa adik dari kekasihnya tersebut, tahu tentang keadaannya sekarang ini.
"Maaf, aku pergi dulu. Dan terima kasih selama ini sudah berada di samping Kak Bela, sekarang saatnya Kakak fokus pada keluarga Kakak," ucap Bima yang langsung meninggalkan Ji.
Tentu saja, Ji mengikuti Bima dari belakang. "Katakan padaku, dimana Bela, Bim! Cepat!"
Namun, Bima tidak menghiraukan apa yang di katakan oleh Ji, dan terus melangkahkan kakinya. Meskipun Ji terus berteriak padanya, untuk menanyakan keberadaan Bela.
"Argh!!!!!" kesal Ji, setelah Bima meninggalkannya dengan menaiki sebuah motor.
__ADS_1
Dan tujuan Ji saat ini adalah menuju apartemen sang kekasih, untuk mencari keberadaan Bela.
Memang sudah lama Bela menyuruh Ji untuk meninggalkannya, dan fokus pada keluarganya, tapi tidak dihiraukan oleh Ji.
Dan kali ini Ji benar-benar tidak terima jika sang kekasih meninggalkannya dengan cara seperti ini.
*
*
*
Tidak butuh waktu lama untuk Ji tiba di apartemen sang kekasih, dan ia pun langsung menuju unit apartemen Bela, dan masuk dengan mudah ke dalamnya.
"Sayang, dimana kau!" teriak Ji ketika sudah berada di dalam unit apartemen sang kekasih, dan setelahnya ia menautkan keningnya, melihat ada manager dan juga asisten sang kekasih sedang mengemasi barang-baramg Bela. "Apa yang kamu lakukan hah?!"
"Aku sedang bertanya padamu, sedang apa kalian mengemasi barang-baramg Bela, dan dimana dia, cepat katakan!"
"Apa kamu tidak tahu, apartemen ini sudah di jual oleh Bela,"
"Tidak mungkin, dimana Bela, katakan!"
"Aku tidak tahu Ji, kamu kekasihnya, harusnya kamu yang lebih tahu dari pada aku,"
Ji tidak ingin menanggapi lagi perkataan dari manager Bela, yang ada ia kembali mencari keberadaan sang kekasih disetiap sudut unit apartemen tersebut.
"Argh!!!" Brak! kesal Ji sambil menendang pintu karena tidak mendapati sang kekasih.
__ADS_1
*
*
*
Di tempat lain, Bela tersenyum sambil menitikan air matanya melihat Bima sang adik mendekati dimana ia sekarang berada.
"Jangan menangis Kak," Bima yang sudah mendekati sang kakak langsung menghapus air mata kesedihan.
Setelah ia memutuskan untuk meninggalkan Ji sang kekasih dengan terpaksa. Karena Bela yang sudah mengetahui kondisi Ji saat ini.
Dan dengan ia meninggalkan Ji, berharap sang kekasih bisa kembali pada Zi, dan semua fasilitasnya kembali lagi.
Toh Bela sadar, hidupnya tidak akan lama lagi, lebih cepat lebih baik ia meninggalkan Ji, agar lebih cepat juga sang kekasih melupakannya.
"Apa Kakak yakin dengan keputusan Kakak ini?" tanya Bima lagi untuk memastikan keputusan sang Kakak, meninggalkan Ji.
"Iya, Bim. Dan cepat bawa Kakak pergi dari negara ini,"
"Baiklah," Bima membantu Bela untuk beranjak dari duduknya, dan membawanya menuju sebuah jet pribadi.
"Bim, Kakak baru tahu, kamu memiliki sahabat yang sangat kaya, hingga dia suka rela nenyewakan jet pribadinya," kata Bela, karena sang adik tiba-tiba mengajaknya untuk naik jet pribadi ke luar negeri.
Bima hanya tersenyum, tidak mungkin ia akan mengatakan pada sang kakak, jika jet pribadi tersebut adalah milik seorang ketua mafia yang bernama Lucas, dimana ia akan mendapatkan uang yang jumlahnya tidak sedikit, setelah menerima misi darinya.
Dan itu demi kesembuhan sang kakak, karena Bima tahu, Ji tidak lagi bisa membiayai pengobatan sang kakak.
__ADS_1
Bersambung..................