
Seminggu berlalu, Ji begitu frustasi, bukan karena ia dan juga Zi akhirnya sudah sah bercerai dengan cepat.
Tapi frustasi, tidak bisa menemukan keberadaan dari Bela sang kekasih, yang tidak diketahui keberadaannya oleh Ji.
Membuatnya sekarang sungguh menyedihkan, karena setiap malam selalu menyakiti dirinya sendiri, dengan meminum minuman keras, hingga tidak sadarkan diri.
Membuat papi Jona dan juga mami Jane begitu kuatir dengan keadaan putranya tersebut, hingga keduanya yang sudah mengusir Ji, dengan paksa memaksa putranya tersebut untuk kembali pulang.
Dan seperti biasa, Ji pasti pulang pagi hari dalam keadaan tidak sadarkan diri akibat minum minuman beralkhohol yang ia konsumsi.
"Terima kasih Nad ," ucap Mami Jane pada Bernad, sahabat sang putra yang selalu ada untuk Ji akhir-akhir ini.
"Sama-sama, Tan. Aku pulang dulu," pamit Bernad setelah mengantar pulang Ji, yang tidak sadarkan diri.
"Istirahat saja di kamar sebelah, pasti kamu mengantuk,"
"Iya Nad, sekali lagi terima kasih karena telah menjaga Ji," sambung papi Jona sambil menepuk punggung Bernad.
Membuatnya langsung menganggukkan kepalanya, dan mengikuti perintah Mami Jane dan juga papi Jona untuk istirahat di kamar sebelah. Kamar yang sering ia tempati ketika ingin menginap di rumah sahabatnya tersebut.
Karena Bernad sungguh mengantuk dan tidak sanggup untuk mengendarai mobil dan pulang, setelah semalaman ia tidak tidur, untuk menemani Ji di bar, aktivitas yang harus dilakukannya akhir-akhir ini.
Setelah kepergian Bernad dari kamar sang putra. Mami Jane menatap Ji, putra semata wayangnya, yang sudah berada di atas kasur dan tidak sadarkan diri.
"Aku benar-benar tidak menyangka putra kita akan seperti ini," ucap Mami Jane.
Membuat papi Jona langsung memeluk pinggang sang istri. "Jangan sesali yang sudah berlalu, sayang,"
__ADS_1
"Tapi lihatlah, putra kita jadi seperti ini. Dan apa yang harus kita lakukan, sayang. Apa kita harus mencari Bela?"
"Tidak perlu, nanti Ji akan terbiasa tanpa wanita itu, papi yakin itu, putra kita seperti ini tidak akan lama," jawab papi Jona, dan sangat yakin dengan apa yang dikatakannya. Karena hidup bukan hanya hari ini saja, dan dengan berjalannya waktu manusia perlahan akan melupakan masa lalunya, meskipun tidak melupakan seutuhnya. Dan contoh nyata adalah, saat manusia kehilangan seseorang tersayang meninggal dunia, tidak mungkin seseorang yang di tinggal akan terus menerus dalam kesedihan.
"Tapi..."
"Sayang, percaya padaku, lebih baik kita tinggalkan Ji, kita bicara lagi dengannya ketika dia sudah sadar," ajak papi Jona.
Dan mami Jane pun mengikuti apa yang sang suami katakan, karena seperti biasa, setelah Ji sadar, mami Jane dan juga papi Jona terus menasihati Ji, meskipun nasihatnya tidak pernah di dengar oleh sang putra.
*
*
*
Sore hari, ketukan di pintu ruang kerja Zi beberapa kali terdengar.
"Ini sudah jam berapa?" tanya Coki yang baru masuk ke dalam ruang kerja Zi, setelah mendapat ijin dari pemilik ruangan.
Zi mengukir senyum setelah menatap pada Coki. "Kamu, Cok. Ada apa jam segini sudah datang?"
"Ini sudah jam lima, apa kamu tidak mau pulang?"
"Aku masih sibuk, nanti saja,"
"Ya ampun, Zi. Pekerjaan tidak akan ada habisnya, lanjut saja besok, oke. Ada yang ingin aku katakan padamu, dan ini penting,"
__ADS_1
Mendengar kata penting dari Coki, membuat Zi kini menatap Coki dengan intens, ketika sudah duduk di kursi tepat di depan meja kerjanya.
"Penting?"
"Iya,"
"Tentang apa?"
"Maaf aku harus mengatakan, jika aku akan mengundurkan diri sebagai sopir pribadi kamu," jawab Coki, karena sudah seminggu ia menjadi sopir pribadi Zi.
"Kenapa? Apa gaji yang aku janjikan masih kurang? Kalau iya, aku akan menambah lagi,"
"Bukan tentang itu Zi,"
"Terus?"
"Aku akan merintis usaha, dengan membuka sebuah kafe," jawab Coki benar adanya, tidak mungkin ia hanya menjadi supir pribadi dasi gadis yang dicintainya.
Ia bertekad untuk memulai sebuah usaha dan menjadi orang yang sukses, agar bisa menunjukkan pada dunia, jika ia pantas untuk mendapatkan Ji.
"Tapi kamu tidak perlu kuatir, selama kamu belum menemukan supir yang cocok, aku akan selalu mengantar ke mana saja kamu ingin pergi, hanya saja aku tidak dapat stay disini,"
"Oh jadi kamu ingin memulai usaha, bagus itu. Dan tidak masalah kamu mengundurkan diri menjadi supir aku," kata Zi setelah mendengar apa yang Coki katakan. "Oh ya Cok, bagaimana dengan modal usaha yang akan kamu dirikan, jika masih kurang, aku bisa meminjamkan kamu uang,"
"Terima kasih, tapi tidak perlu Zi, modal aku sudah lebih dari cukup,"
Namun, Zi tidak lagi menanggapi ucapan dari Coki karena ponselnya berdering.
__ADS_1
Dan ia pun langsung mengangkat sambungan ponselnya. "Baik, aku akan ke sana," ucap Zi setelah mengangkat sambungan ponselnya.
Bersambung.........