
"Terima kasih," hanya itu tanggapan Coki, untuk menimpali ucapan dari Ev, yang ia tahu dulu adalah playgirl ketika masih berada di bangku SMA.
Dan masih teringat di memori Coki, dulu Ev sering menghampirinya dan terang terangan mengajaknya untuk pacaran, tapi Coki menolaknya mentah-mentah, karena ia hanya tertarik pada Zi, meski akhirnya ia harus melupakan ketertarikannya, ketika pindah keluar negeri.
"Ya ampun, aku masih tidak percaya jika bertemu dengan kamu, Cok. Setelah kamu menghilang tidak ada kabar," kata Ev tak memudarkan senyumannya.
Tentu saja senyuman Ev membuat Coki risih, dan ia pun berpamitan. "Maaf aku pergi dulu,"
"Ish, tunggu dulu," Ev menahan lengan Coki yang akan pergi meninggalkannya. "Kenapa kamu ada disini?" tanya Ev penasaaran.
Namun, sebelum menjawab pertanyaannya, terlebih dahulu Coki melepas tangan Ev yang masih menahan satu lengannya.
"Tadi aku mengantar Zi pulang,"
"Bukannya Zi pulang dengan Ji?"
"Tidak, dan maaf aku pergi dulu,"
"Tunggu!" Ev kembali menahan satu tangan Coki. "Masuk yuk, kita ngobrol lagi di dalam," ajak Ev dan kembali mengukir senyum.
"Maaf aku tidak bisa,"
"Ayolah Cok," Ev menarik tangan Coki, bersamaan dengan suara deheman yang sangat ia kenal, sudah mendekatinya. Membuat Ev langsung melepas tangan Coki, lalu menatap kearah sumber suara dimana sang suamilah yang mendekatinya. "Sayang, kamu disini?"
Namun, tidak mendapat tanggapan dari sang suami yang memicingkan matanya menatap pada Ev.
__ADS_1
"Sayang, kenalkan ini namanya Coki, dan dia itu teman sekolah aku, pasti kamu tidak tahu kan, karena dulu kamu sudah tidak lagi bertugas di sekolahku," jelas Ev pada sang suami, yang berprofesi sebagai guru BP, salah satu pekerjaan yang ditekuninya.
Kemudian Jo, nama suami dari Ev kini mengulurkan tangannya ke arah Coki, tentu saja langsung di jabat olehnya.
"Aku suami Ev," kata Jo.
"Coki," sambungnya, dan entah mengapa ia merasa lega mendapati ternyata Ev sudah menikah.
Setelah menjabat tangan Coki, Jo langsung menatap pada sang istri, dan mencondongkan tubuhnya untuk berbisik di telinga Ev. "Mau genit sama pria lain, oke. Tidak ada jatah dua minggu ke depan,"
"Ish, mana bisa begitu, aku tidak kuat sayang,"
"Lagian, siapa suruh genit sama pria lain, pakai senyum-senyum segala, dan pegang tangannya lagi," sambung Jo yang tadi melihat tingkah sang istri.
"Cuma senyum sama pegang tangannya, sayang,"
"Maafkan aku sayangku, cintaku, belahan jiwaku," ucap Ev untuk merayu sang suami yang selalu cemburu ketika ia dekat dengan pria lain, tapi Ev sangat mencintai suaminya tersebut.
"Awas masih genit lagi, bukan hanya dua minggu, tapi satu bulan tidak dapat jatah,"
"Siap Bos," sambung Ev yang langsung memeluk lengan sang suami.
"Kita masuk," ajak Jo.
"Baiklah,"
__ADS_1
"Tunggu!" Coki menghentikan langkah Ev dan suaminya.
Membuat Ev dan juga sang suami yang sudah menghentikan laju langkahnya, kini menoleh pada Coki.
"Ada apa Cok?"
"Ada yang ingin aku katakan pada kalian, ini tentang Zi,"
*
*
*
Sementara itu di dalam rumah, tepatnya di ruang keluarga, seperti apa yang Ji duga sebelumnya, benar saja ia dan juga Zi sang istri mendapat interogasi dari kedua orang tuanya dan juga kedua orang tua Zi.
Dimana mereka sudah mengetahui, jika Ji masih memiliki hubungan dengan Bela, dan itu semua Ev yang memberi tahunya.
"Aku bisa menjelaskan," ucap Ji untuk membela dirinya sendiri.
"Silakan jelaskan," sambung papi Jona yang kini beranjak dari duduknya dan mendekati Ji sang putra.
"Kalian yang menyuruh aku dan juga Zi menikah, ya sudah aku menikah demi kalian, tapi hatiku tidak bisa berbohong, aku tidak mencintai Zi, tapi aku..."
Plak! Plak!
__ADS_1
Tamparan mendarat di kedua pipi Ji yang dilayangkan oleh papi Jona, sekaligus menghentikan ucapannya.
Bersambung..................