
"Sayang ada apa ini?" tanya mama Hazel lagi pada sang suami, karena melihat Coki menitikan air mata.
"Tante, maafkan aku,"
Ucapan Coki membuat mama Hazel kini menoleh padanya. "Kenapa kamu minta maaf pada Tante, Cok?"
"Dari awal dia tidak berkata jujur siapa dirinya, Zel," sambung mami Jane, membuat mama Hazel kini menatap kearahnya. "Maksud kamu apa Jane?"
Mami Jane pun langsung memberi tahu siapa Coki yang sebenarnya, dan juga mengatakan, nyawa Zi dalam bahaya, apalagi jika terus bersama dengan Coki. "Aku harap, kamu juga tidak akan mendukung pernikahan ini, Zel. Ini demi Zi," kata mami Jane setelah menceritakan semuanya tentang siapa Coki.
Namun, mama Hazel tidak ingin menanggapi ucapan dari mami Jane, yang ada ia menatap pada Coki yang masih mengeluarkan air mata. "Apa yang Tante dengar ini benar Cok?" tanya mama Hazel ingin mendengar langsung dari mulut yang bersangkutan.
Sebelum menjawab pertanyaan dari mama Hazel, Coki terlebih dahulu menghapus air matanya. "Iya benar, aku keponakan dari Lucas seorang mafia yang kejam, Tante. Tapi aku sudah tidak lagi bekerja dengannya, dan itu sudah lama," jujur Coki. "Tapi aku berjanji akan melindungi Zi, hingga tidak akan ada satu orang pun yang bisa menyentuh atau pun menyakitinya, karena aku sangat memcintai Zi, dan aku mencintainya sudah sangat lama, Tante. Aku mohon jangan pisahkan aku dengan Zi," pinta Coki dengan sangat tulus.
__ADS_1
"Yakin kamu mencintainya?" tanya mama Hazel, untuk memastikan.
"Iya Tante, aku sangat mencintai Zi, lebih dari apa pun, hingga aku rela pergi dari dunia gelap itu, padahal mendiang mama saat itu masih harus mendapat pengobatan intensif, karena selama ini, om Lucas lah yang membiayai semua pengobatan mama, dan itu aku lalukan hanya demi cintaku pada Zi," jelas Coki mengungkap kebenaran yang tidak ada satu pun orang tahu.
Mama Hazel hanya mendengar penjelasan dari Coki tanpa menimpali ucapannya.
"Aku mohon Tante, biarkan aku tetap menikah dengan Zi,"
Lagi dan lagi, mama Hazel hanya mendengar apa yang Coki katakan, dan kini mengalihkan tatapannya pada sang suami. "Sayang, kamu yang berhak menentukan keputusan untuk mereka. Tapi aku hanya ingin mengingatkan padamu, jangan mengambil keputusan yang salah lagi, belajarlah dari kejadian yang lalu, ingat, kita tidak bisa menentukan kebahagiaan untuk anak-anak kita, karena yang menentukan kebahagiaan ya mereka sendiri," nasihat mama Hazel. "Dan satu lagi, tidak ada manusia yang tidak memiliki kesalahan di masa lalu, dan manusia tidak akan terus berada di lubang yang sama, ingat itu,"
"Om, aku mohon, jangan batalkan pernikahan aku dan juga Zi,"
"Tidak ada yang akan membatalkan pernikahan kalian," ucap papa Zain yang sejak awal juga tidak ada niat untuk membatalkan pernikahan sang putri dan juga Coki, menurutnya tidak masalah siapa Coki, toh itu masa lalu, karena papa Zain sangat yakin, Coki adalah anak yang baik, dan juga bertanggung jawab, yang pasti bisa melindungi putrinya.
__ADS_1
Mendengar apa yang dikatakan oleh papa Zain, Coki pun langsung memeluk calon papa mertuanya tersebut. Dan tangis kebahagiaan tidak bisa lagi ia bendung, membuatnya menangis sambil memeluk papa Zain.
Sementara itu disisi lain, papi Jona dan juga mami Jane sedikit kecewa dengan keputusan papa Zain, padahal keduanya masih berharap Zi dan juga putranya suatu saat bisa bersama kembali, tapi apa boleh buat, mau tidak mau keduanya menerima keputusan papa Zain.
"Hus, kamu calon suami, masa nangis seperti ini, sekarang buktikan jika kamu mampu melindungi Zi," kata papa Zain, membuat Coki langsung melepas pelukannya, lalu menghapus air matanya, yang masih mengalir.
"Aku akan membuktikan, jika aku bisa melindungi Zi calon istiku, ini janjiku pada Om,"
Dan sekarang mama Hazel menepuk punggung Coki. "Zi ada di kamar, temuilah,"
"Baik Tante," Coki pun langsung berlari menuju kamar sang kekasih.
Membuat papa Zain langsung menatap pada sang istri. "Sayang, kenapa kamu menyuruh Coki menemui Zi, dikamarnya pula, kamu tahu sendiri putri kita," kata papa Zain mengingat lagi, jika sang putri begitu agresif pada Coki.
__ADS_1
"Ya ampun! Aku lupa, sayang,"
Bersambung............