MENIKAH DENGAN GADIS POLOS

MENIKAH DENGAN GADIS POLOS
36


__ADS_3

"Untuk apa pergi?" tanya Zi bingung mendengar ajakan sang suami.


"Aku yakin kedua orang tua kita, sudah mengetahui tetang hubungan aku dan juga Bela,"


"Terus, apa hubungannya dengan aku?"


Mendengar pertanyaan dari sang istri, membuat Ji terdiam, benar apa yang dikatakan oleh Zi, hubungannya dengan Bela tidak ada sangkut pautnya dengan sang istri.


"Hei, kenapa diam saja?" tanya Zi lagi karena sang suami malah terdiam di tempatnya, dimana Ji masih duduk di kursi kemudi.


Dan kini Ji turun dari dalam mobilnya, untuk mendekati sang istri. "Zi, aku membutuhkan bantuanmu sekali lagi, aku mohon,"


"Kenapa? Uang yang tadi masih kurang? Jika iya, katakan mau berapa, nanti aku kirim lagi,"


"Bukan tentang uang, Zi,"


"Terus?"


"Aku mohon ikut pergi denganku, sekarang juga," pinta Ji, agar ia dan juga sang istri tidak jadi menemui kedua orang tua masing-masing yang sudah berada di dalam rumah.


Karena Ji yakin, ia dan juga Zi akan mendapat interogasi. Dan sekarang Ji membuka pintu mobil dan mempersilakan untuk sang istri masuk. "Kita pergi Zi," pinta Ji sedikit memaksa, bagaimana tidak memaksa, ia dengan sengaja mendorong tubuh Zi meskipun dengan pelan untuk masuk ke dalam mobil.


"Nanti dulu Ji, aku ingin tahu mama dan papa menemui aku untuk apa, aku takut mereka sedang tidak baik-baik saja, karena Ev mengatakan ada hal penting," tolak Zi yang tidak mau masuk ke dalam mobil sang suami.


"Mereka semua ingin mengintrogasi kita Zi, cepat masuk," pinta Ji lagi, dan lagi ia mendorong tubuh sang istri.


Namun, Ji kini terkejut karena tiba-tiba ada yang menyingkirkan tubuhnya untuk menjauh dari Zi.

__ADS_1


Brak!


Dan pintu mobilnya di tutup dengan kencang oleh Coki, ketika sudah menjauhkan Zi dari pintu mobil, karena memang sedari tadi ia masih berada tidak jauh darinya.


Tentu saja melihat apa yang di lalukan oleh Coki, membuat Ji emosi dan kini menatap padanya dengan tatapan sinis.


"Kurang ajar, kau!"


"Kamu yang kurang ajar, Ji. Sudah tahu Zi tidak mau, tapi masih kamu paksa," sambung Coki dengan satu tangannya menahan tangan Zi.


"Jangan pernah ikut campur urusan orang lain. Apa lagi ini urusan rumah tanggaku, paham!"


"Rumah tangga seperti apa yang kamu katakan hah? Suami menjalin kasih dengan wanita di belakang sang istri? Atau meminjam uang pada sang istri untuk pengobatan wanita lain, apa itu namanya rumah tangga?"


Ji memicingkan matanya menatap pada Coki, setelah mendengar apa yang dikatakannya.


"Aku tahu itu Ji, dan maaf aku tidak akan membiarkan Zi terus bersama denganmu, Zi pantas bahagia dengan orang lain, dari pada dengan dirimu, yang hanya memanfaatkan Zi, untuk kepentingan kamu sendiri, kamu egois Ji,"


"Sudah puas berbicara? Jika sudah, pergilah! Jangan sampai aku menghajarmu saat ini juga,"


Coki melepas tangannya yang masih menahan satu tangan Zi, lalu mendekati Ji seolah tidak takut dengan apa yang di katakan olehnya. "Silakan," tantang Coki.


Membuat Ji langsung melayangkan pukulan, tapi segera di halau oleh Coki.


"Kurang ajar!" teriak Ji dan ingin memeluk Coki, tapi dengan segera Zi menjauhkan tubuh keduanya.


"Ish, kalian berdua seperti anak kecil," kata Zi, dan kini menatap pada sang suami. "Aku tidak mau pergi, kamu saja yang pergi,"

__ADS_1


"Zi, ayolah. Kira pergi sekarang juga,"


"Enak saja, masuk!" seru Ev yang tiba-tiba keluar dari pintu gerbang, dan mendekati dimana Zi dan juga Ji berada. "Mereka sudah menunggu kalian, cepat!" perintah Ev.


"Ada apa dengan mama dan juga papa Ev, kenapa mereka menyuruh aku untuk menemuinya?" tanya Zi ingin tahu.


"Jangan banyak bicara, masuk saja!"


"Baiklah," Zi pun masuk dan meninggalkan sang saudari yang sedang menatap sang suami dengan tatapan tajam.


"Kamu juga masuk!" perintah Ev pada Ji.


Namun, tidak di hiraukannya, karena Ji, yang kini berjalan menuju pintu pengemudi, tapi segera di susul oleh Ev, yang langsung mengambil kunci mobilnya.


"Ev! Berikan kunci mobilku!"


"Masuk!"


"Tidak!"


"Serapat apa pun kamu menyembunyikan bangkai, pasti akan tercium juga, jadi masuklah!"


Tanpa mengatakan apa pun lagi, Ji pun langsung mengikuti perintah dari Ev.


Dan Ev kini menatap pada Coki yang berdiri tidak jauh darinya. "Coki? Kamu Coki kan? Dulu kita pernah satu sekolah, dan aku masih ingat, dulu kamu murid pindahan," tentu saja Ev masih mengingatnya, karena Coki dulu termasuk pria incaranya, tapi ia tidak bisa mendapatkannya.


"Iya aku Coki,"

__ADS_1


"Ya ampun, kenapa kamu jadi lebih ganteng sih?" tanya Ev sambil mengukir senyum.


Bersambung......................


__ADS_2