
Akhirnya Zi memutuskan untuk segera ke rumah orang tuanya, setelah dihubungi oleh Ev sang saudari.
Namun, saat ia baru keluar dari dalam restoran, Zi menepuk jidatnya sendiri. "Ya ampun!"
"Ada apa Zi?" tanya Coki yang juga ikut dengan Zi keluar dari dalam restoran.
"Tadi kesini aku bersama dengan Ji,"
"Terus?"
"Tidak ada kendaraan, untuk aku pergi ke rumah orang tuaku, supir aku tadi pergi membawa mobil aku ke bengkel,"
"Oh, bagaimana jika aku yang mengatar kamu pulang," tawar Coki, agar ia bisa mendapatkan kesempatan dekat dengan Zi.
"Boleh,"
"Tapi naik motor, mau atau tidak?" tanya Coki, karena hanya motor, kendaraan yang ia miliki dengan kehidupan barunya, meskipun ia bisa membeli mobil, tapi ia tidak mau menghamburkan uang, sebelum ia benar-benar memiliki pekerjaan tetap, apa lagi sang mama masih membutuhkan perawatan untuk penyakit yang dideritanya.
"Tidak masalah, ayo,"
Tidak mendapat penolakan dari Zi, karena hanya bisa mengantarnya dengan motor, Coki segera menuju dimana motornya terparkir, di ikuti oleh Zi dari belakang.
"Ya ampun Cok!" kata Zi, ketika ia melihat motor miliki Coki, karena Zi pikir, motor milik Coki adalah motor matic seperti pada umumnya, tapi ternyata motornya adalah motor gede.
"Ada apa Zi?"
"Kamu gila, bagaimana aku naik motor setinggi ini?"
"Bisa, ayo," Coki pun langsung memakaikan helem di kepala Zi, tentu saja kedua bola matanya tidak lepas dari wajah Zi, yang tidak berubah dari jaman dulu, dimana Zi memiliki kecantikan yang natural.
Setelah memakaikan helem, Coki segera naik ke atas motor, dan menoleh Zi yang berdiri disisi motornya. "Ayo naik,"
"Bagaimana naiknya Cok?"
Coki pun menunjukkan bagaimana caranya naik keatas motor, hingga Zi sekarang sudah berada di atas motor, dengan kedua tangannya memegang kedua pundak Coki.
__ADS_1
"Cok, aku takut,"
"Tenang saja, kamu akan aman, dan ya, pegengannya jangan di pundak,"
"Terus dimana?"
"Peluk saja perut aku,"
Tanpa bertanya lagi, Zi pun mengikuti apa yang Coki katakan.
Membuat Coki tersenyum senang, karena tanpa Zi sadari, ia sedang memeluknya.
"Cok, sebentar,"
Senyum Coki memudar, karena Zi melepas kedua tangannya dari perutnya.
"Ada apa Zi?"
"Kenapa kamu tidak pakai helem?"
"Bagaimana kalau nanti jatuh, itu bisa membahayakan nyawa kita,"
"Apa kamu ingin kita jatuh?"
"Tentu saja tidak,"
"Ya sudah jangan berkata yang tidak-tidak,"
"Baiklah," sambung Zi yang kembali memeluk perut Coki, dan senyumnya pun kembali lagi.
*
*
*
__ADS_1
Hanya butuh waktu kurang lebih lima belas menit, Coki mengendarai motornya, dan kini sudah menghentikan laju motornya tepat di depan pintu gerbang rumah kedua orang tua Zi.
Dan sepanjang perjalanan, Coki terus mengukir senyum, karena secara tidak langsung Zi memeluknya dengan sangat erat.
Hingga Coki sudah menghentikan laju motornya, Zi juga masih memeluknya.
"Zi, kamu tidak mau turun?" pertanyaan Coki membuat Zi, kini membuka kedua bola matanya, karena sepanjang perjalanan ia memejamkan matanya, merasa takut naik motor gede.
"Kita sudah sampai?" tanya Zi sambil melepas kedua tangannya yang sedari tadi memeluk perut Coki.
"Llihatlah, kita sudah berada dimana,"
Mendengar apa yang di katakan oleh Coki, membuat Zi langsung mengedarkan tatapan, dan turun dari atas motor. "Cok, kenapa kamu tahu rumahku?" tanya Zi penasaran karena memang ia baru mengenal Coki saat trip bulan madu kemarin.
Namun, tidak di jawab oleh Coki. Tidak mungkin ia akan mengatakan, jika dulu saat masih duduk di bangku SMA, ia beberapa kali membuntuti Zi sampai ke rumahnya.
"Hei, kenapa diam saja Ji?" tanya Zi lagi, tapi kedua bola matanya langsung tertuju pada mobil Ji sang suami yang baru menghentikan laju mobilnya tidak jauh dari motor Coki. "Terima kasih Cok, aku masuk dulu,"
Belum juga mendapat tanggapan dari ucapannya, Zi sudah terlebih dahulu pergi meninggalkannya, lalu berjalan menuju mobil sang suami. "Ji kamu ada disini? Bukannya tadi kamu ingin ke rumah sakit menemani Bela?" tanya Zi dari jendela mobil yang Ji buka.
"Papi dan mami menyuruh aku kesini,"
"Jadi, mami dan papi ada disini?"
"Iya, terus kenapa kamu sudah pulang?"
"Mama dan papa menyuruh aku untuk pulang,"
Ji menautkan keningnya entah mengapa perasaannya tidak enak, dengan kedua orang tuanya tiba-tiba sudah berada di rumah sang istri dan memintanya untuk segera datang, takut Ev sudah memberi tahu pada semua orang tentang hubungannya dengan Bela.
"Zi, masuklah,"
"Kenapa?"
"Masuk saja, dan kita pergi,"
__ADS_1
Bersambung...........