
Akhirnya hari ini Ji menemani Zi untuk keliling ke destinasi wisata yang ada di kota tersebut, karena ia melarang sang istri untuk pergi dengan Coki.
Namun, dengan keberadaan Ji bersama dengannya, membuat Zi kesal, pasalnya selama pergi, sang suami terus saja sibuk dengan ponselnya.
Membuat Zi kesal dan mengakhiri aktifitasnya untuk hari ini lebih cepat, padahal ia masih ingin mengunjungi destinasi wisata yang lain.
Dan ia pun terus menggerutu, ketika Zi dan juga Ji sudah berada di sebuah kafe, sebelum kembali ke hotel, untuk menikmati makan siang yang tertunda.
"Pergilah, dan temui Bela," ucap Zi kesal, karena sang suami terus bermain ponsel, untuk melakukan vodio call dengan Bela sang kekasih.
Mendengar ucapan dari sang istri, Ji yang baru selesai melakukan vidio call, langsung menoleh pada Zi yang duduk berhadapan dengannya. "Ada apa denganmu, hah?"
"Kamu masih bertanya ada apa dengan aku? Sungguh terlalu kamu Ji. Lebih baik tadi aku pergi dengan Coki, dari pada dengan kamu, yang menyebalkan!"
"Menyebalkan bagiamana?"
"Kamu ada bersama denganku, tapi otak kamu tertuju pada Bela, Bela dan juga Bela,"
"Karena..."
"Aku tahu dia kekasih kamu," sahut Zi memotong perkataan dari sang suami. Entah mengapa untuk kali ini ia merasa kesal dengan sikap Ji padanya. "Tapi bisa kan, jangan menghubungi Bela dulu,"
"Tidak bisa,"
__ADS_1
"Ya sudah, pergi sana!" perintah Zi dengan nada kesal, lalu menyantap makanan yang ada di hadapannya, untuk mengungkapkan kekesalannya.
"Kamu marah?"
Namun, Zi tidak ingin menjawab pertanyaan dari sang suami, dan terus menyantap makanan yang ada di hadapannya tanpa jeda.
Membuatnya tersedak, karena makan dengan terburu buru.
"Pelan-pelan saja," ucap Coki yang tiba-tiba sudah berdiri tepat disisi tempat duduk yang diduduki Zi, dan menyodorkan gelas yang baru saja ia ambil dari atas meja ke arahnya.
Tentu saja dengan segera Zi mengambil gelas tersebut, dan meminum isinya hingga tidak tersisa.
"Tidak ada yang akan mengambil makanan kamu, jadi pelan-pelan saja makannya," kata Coki yang kini menarik kursi dan duduk tepat di samping Zi.
"Kesal kenapa?"
"Gara-gara manusia itu," jawab Zi dan menunjuk pada Ji.
Membuat Coki kini menatap pada sang sahabat, dan kedua matanya bertemu dengan Ji yang masih menatapnya, terakhir Coki menyunggingkan senyum sinis dari sebelah sudut bibirnya.
"Cok,"
"Iya," kini Coki menoleh pada Zi.
__ADS_1
"Antar aku ke destinasi wisata di kota ini,"
"Bukannya sudah pergi bersama dengan Ji?"
"Aku ingin pergi bersama dengan kamu,"
"Tidak bisa! Kita harus kembali ke hotel!" sahut Ji.
"Siapa kamu melarang aku!"
"Aku suami kamu,"
"Eleh suami macam apa, kamu saja bisa pergi bersama dengan Bela, masa aku tidak boleh pergi dengan Coki," cibir Zi, dan menolah pada Coki. "Cok, yuk kita pergi, tapi aku ke toilet dulu," ujar Zi yang langsung beranjak dari duduknya, dan pergi menuju toilet yang ada di kafe tersebut.
Meninggalkan Ji dan juga Coki yang kini saling pandang dengan tatapan tidak suka satu sama lain, setelah Ji tahu, siapa Coki sebenarnya, anak buah dari Lucas, salah satu ketua mafia kelas kakap yang sedang berseteru dengan om Jack, yang juga seorang mafia kelas kakap, dimana Ji berkecimpung di bawah kendalinya.
Tanpa ada satu orang pun yang tahu, jika Ji selama tiga tahun belakangan, selain sibuk mengurus showroom mobil milik orang tuanya, ia juga menjadi seorang mafia di bawah kendali Om Jack.
"Menjauhlah dari Zi!" perintah Ji, yang sekarang menganggap Coki bukan lagi sahabatnya, tapi musuhnya, setelah ia tahu siapa Coki sebenarnya dari Om Jack.
Coki tersenyum sinis, setelah mendengar apa yang dikatakan oleh Ji. Dan baru semalam ia mengetahui siapa Ji sebenarnya dari Lucas.
"Aku tidak akan pernah menjauh dari istri kamu itu, dan aku bisa mendapatkannya, karena aku sudah tertarik padanya dari pertama bertemu, semoga kamu mengerti!"
__ADS_1
Bersambung...............