
"Ya ampun, ke mana kau, sayang," ucap Ji tentu dengan gelisah, tidak tahu harus mencari sang kekasih ke mana.
Karena ia tahu, Bela ke negara tersebut hanya seorang diri, tanpa membawa asistennya. Dan hal itu membuat Ji tambah kuatir dan berpikir negatif tentang sang kekasih.
"Tidak mungkin Bela pergi bersama dengan pria lain," kata Ji yang percaya, sang kekasih sangat setia padanya, seperti dirinya yang sangat setiap pada Bela. "Atau Bela di bawa orang suruhan Om Jack," pikir Ji, karena om Jack sudah memintanya untuk meninggalkan Bela, dan fokus pada Zi sang istri.
Setelah Ji yakin, jika Bela di bawa olah suruhan om Jack, kini ia berjalan menuju arah pintu kamar hotel untuk segera menuju rumah om Jack, dan menanyakannya langsung.
Namun, langkah kakinya terhenti ketika ponselnya berdering, dan Bima adik Bela lah yang menghubunginya.
Membuat Ji pun segera mengangkat sambungan ponselnya.
"Tidak mungkin Bim," ucap Ji setelah mengangkat sambungan ponselnya. "Tunggu aku segera kesana," hanya itu ucapan yang keluar dari bibir Ji, sebelum menutup sambungan ponselnya, dan bergegas keluar dari dalam kamar hotel tersebut, penuh dengan kekuatiran.
*
*
*
__ADS_1
Tidak butuh waktu lama, Ji akhirnya tiba di sebuah rumah sakit yang jaraknya tidak terlalu jauh dari hotel di mana Bela menginap.
Ia pun langsung menghubungi Bima, untuk menanyakan dimana sang kekasih berada.
Karena memang tadi Bima menghubungi ponselnya untuk memberi tahu, jika dia telah membawa Bela ke rumah sakit tersebut.
Setelah menghubungi Bima, Ji pun segera menuju ke tempat Bima berada.
"Bim, apa yang terjadi?" tanya Ji setelah menghampiri Bima, adik kandung dari Bela sang kekasih sedang duduk di bangku tunggu tidak jauh dari ruang perawatan dimana Bela berada.
"Seperti biasa Kak, Kakak Bela kondisinya menurun drastis, tapi syukurlah sekarang sudah lumayan membaik,"
"Kakak sedang tidur Kak, dan dokter bilang, biarkan dia beristirahat," kata Bima untuk memberi tahu Ji.
Yang kini sudah masuk ke dalam ruangan tersebut, dan melihat Bela sang kekasih sedang terbaring lemah di atas ranjang perawatan dengan beberapa alat medis yang menempel di tubuhnya.
Tentu, melihat lagi sang kekasih terbaring lemah, Ji begitu sedih, dan ia pun mendekati Bela, tanpa merespon ucapan dari Bima.
Setelah mendekati Bela, kecupan ia layangkan di keningnya sekilas, lalu menggenggam satu tangannya dengan sangat erat.
__ADS_1
"Kamu harus kuat sayang, aku akan selalu ada di sampingmu," ucap Ji, dan kini mencium punggung tangan Bela penuh dengan kasih sayang.
Dan hanya itu yang bisa Ji lalukan untuk menemani sang kekasih yang mengidap penyakit mematikan, dan beberapa kali hampir saja merenggut nyawa Bela, sebelum Ji mengusahakan pengobatan yang terbaik untuk kekasih yang sangat ia cintai tersebut. Dimana pengobatan Bela membutuhkan biaya yang tidak sedikit, dan Ji bisa mendapatkan uang lebih untuk pengobatan Bela, dengan menjadi seorang mafia di bawah pimpinan om Jack.
Tanpa mengambil sepeser uang pun dari usaha keluarganya, yang tidak menyukai Bela sang kekasih.
Ji menoleh pada Bima yang baru saja menepuk punggungnya. "Tenang saja Kak, aku juga akan selalu berada di samping Kakak Bela, dan terima kasih untuk semua materi dan juga waktu Kak Ji untuk kakak Bela,"
"Jangan berterima kasih, aku akan melakukan apa pun untuk Kakak kamu," sambung Ji, yang tidak diragukan lagi, kesetiaannya pada wanita yang sangat dicintainya. "Kapan kamu datang kesini?"
"Aku belum lama tiba disini Kak, setelah kemarin Kakak Bela menghubungi aku, dan menyuruhku untuk ke negara ini, saat ia merasa tidak baik-baik saja,"
"Kenapa dia tidak menghubungi aku?"
"Kak Bela tidak ingin mengganggu kebersamaan Kak Ji dengan istri Kakak,"
Setelah mendengar jawaban dari Bima, kini Ji menatap lagi pada Bela yang masih memejamkan matanya, dan lagi, ia mencium punggung tangannya. "Kenapa kamu melakukan itu sayang, kamu tahu, tidak ada yang lebih penting bagiku, selain kamu,"
Bersambung..................
__ADS_1