
Coki terpaksa harus mengakhiri tidur nyenyaknya, ketika kedua telinga mendengar suara bel pintu yang ditekan berulang kali, bergantian dengan suara ketukan pintu yang terdengar sangat nyaring.
"Ya ampun," kata Coki dan langsung beranjak dari tidurnya ketika mendapati jam di dalam kamarnya sudah menunjukkan pukul sepuluh pagi, dan selama menempati rumah tersebut, baru kali ini Coki bangun kesiangan.
Ia yang mengingat dengan jelas kejadian semalem, kini menoleh ke samping dimana Zi perlahan membuka kedua bola matanya.
"Selamat pagi," sapa Coki yang langsung mendaratkan ciuman di keningnya.
"Hem," hanya itu tanggapan dari Zi, yang masih mengantuk, setelah melewati malam panas dengan Coki. "Cok, siapa yang datang?" tanya Zi yang mendengar suara bel pintu.
"Mungkin pegawai aku, aku turun dulu ya,"
Zi pun hanya mengangguk, dan kembali meneruskan tidurnya, setelah Coki membenarkan selimut untuk menutupi tubuhnya yang masih polos.
Coki langsung mengenakan pakaian miliknya yang tercecar di lantai, setelah semalam ia lempar kesembarang arah sebelum melakukan hal terlarang dengan Zi.
Dan ia pun segera keluar dari dalam kamarnya, ingin tahu yang datang pegawainnya atau bukan, karena biasanya pegawainnya datang ke rumah untuk mengambil stok bahan baku untuk kafe miliknya yang akan habis.
Tapi terkejutlah Coki, setelah membuka pintu rumahnya, ternyata yang datang adalah Ji, mantan suami dari sang kekasih.
__ADS_1
"Dimana Zi?" tanya Ji, tanpa basa basi, karena tadi ia yang sudah berkunjung ke rumah Zi, tidak mendapati mantan istrinya ada di rumah, dan salah satu pembantu Zi mengatakan jika majikannya tidak pulang ke rumah.
Tentu saja Ji tahu, Zi pergi dengan Coki, mengingat lagi ia sangat tahu, Zi tidak mempunyai teman dekat, dan yang dekat saat ini dengan Zi adalah Coki.
Tentu saja Coki tidak menjawab pertanyaan dari Ji, tidak mungkin ia akan mengatakan jika kekasihnya berada di dalam kamarnya, yang pasti Ji akan mengetahui, apa yang semalam terjadi dengannya dan juga Zi.
"Kenapa diam saja, hah?! Aku tahu Zi berada disini, cepat katakan dimana dia, dan apa yang sudah kamu lakukan padanya, apa kamu menyekap dia, dan ingin menyerahkannya pada Lucas?" tanya Ji penuh selidik, karena ia mengira, Coki masih bekerja dengan Lucas.
Tapi belum juga Coki menyanggah tuduhan Ji.
Sudah terlebih dahulu Ji masuk ke dalam rumah, sambil memanggil Zi dengan keras.
"Katakan padaku, dimana Zi. Jika sampai terjadi sesuatu padanya, aku akan menghabisimu, cepat katakan!" perintah Ji sambil mendorong tubuh Coki.
"Ish, di rumah orang teriak-teriak, tidak sopan sekali kamu, Ji," kata Zi yang baru keluar dari dalam kamar Coki dengan berpakaian rapi, tentu saja pakaian yang ia kenakan adalah pakaian kemarin.
Karena Zi yang tadi mendengar suara Ji, tidak jadi meneruskan tidurnya, tidak ingin mantan suaminya tersebut mengetahui jika dirinya tidur di kamar Coki, dan mengetahui apa yang terjadi semalam.
Melihat keberadaan Zi, membuat Ji langsung menghampirinya, karena Ji tahu nyawa Zi dalam bahaya jika berada di samping Coki.
__ADS_1
Setelah mendekatinya Ji langsung menarik salah satu tangan Zi. "Kita pulang sekarang juga!" perintah Ji.
"Tidak mau, aku akan tetap di sini!" tolak Zi sambil menampik tangan Ji, dan ia enggan untuk meninggalkan rumah sang kekasih yang semalam bisa membuatnya terbang keatas awan merasakan nikmat yang luar biasa.
"Zi, ikuti saja perintahku. Kamu tidak tahu siapa Coki, dan ya, dia sangat berbahaya untuk kamu, paham!"
"Bahaya? Tentu saja tidak, yang ada Coki bisa membuat aku tahu rasa itu,"
Ji menautkan keningnya mendengar apa yang dikatakan oleh Zi.
"Zi, kamu bicara apa?"
"Tidak ada," jawab Zi, yang tidak ingin Ji tahu apa yang semalam ia lakukan.
"Aku yang membawa Zi dan aku juga yang akan mengantarnya pulang," sahut Coki.
"Kamu bukan siapa-siapa, jadi diam saja!" seru Ji menatap tidak suka pada Coki.
"Aku kekasihnya,"
__ADS_1
Bersambung..........