
"Jangan berharap kamu bisa mendapatkan Zi, paham!" tegas Ji setelah mendengar pernyataan Coki barusan, yang dengan terang ingin mengambil Zi darinya.
"Dasar egois!" sahut Coki sambil mengukir senyum. "Urus saja Bela, dan biarkan Zi bersama denganku, tenang saja, aku akan menjadikan dia ratuku,"
Ji menyunggingkan senyum sinis, mendengar apa yang dikatakan oleh Coki, dan ia tidak akan pernah percaya pada ucapan Coki, yang jelas-jelas berasa dari kelompok mafia yang begitu kejam, dan tidak segan-segan menghabisi seseorang untuk menjalankan aksinya.
Tentu saja Ji tidak akan pernah membiarkan Coki mendekati Zi, ia tidak ingin terjadi sesuatu pada sang istri, apa lagi Coki tahu, Zi adalah istrinya, dan Ia juga bekerja bersama Om Jack yang jelas-jelas bermusuhan dengan kelompok mafia dimana Coki selama ini menjadi salah satu anggotanya.
"Ratu? Yang benar saja, yang ada kamu akan menyakiti Zi,"
"Bukannya kamu yang menyakiti Zi secara halus, dengan kamu mengabaikannya dan lebih memilih bersama dengan Bela, dasar egois!" seru Coki yang langsung beranjak dari duduknya.
Dan Ji tidak lagi menanggapi ucapan dari Coki, karena bisa jadi apa yang di katakannya benar adanya.
"Cok, yuk!" ajak Zi yang baru kembali dari toilet.
Coki pun langsung menganggukkan kepalanya sambil tersenyum, lalu mengikuti langkah Zi keluar dari kafe tersebut.
Tentu saja membuat Ji langsung beranjak dari duduknya, dan menyusul sang istri.
__ADS_1
"Zi, kita pulang!" ajak Ji ketika sudah menghampirinya, dan menarik tangan Zi untuk menghentikan laju langkah kakinya.
"Pulang saja sendiri," sahut Zi, dan melepas tangan Ji yang baru saja menarik satu tangannya, kemudian ia menarik satu tangan Coki. "Ayo, Cok!"
Ji hanya bisa melihat sang istri masuk ke dalam mobil milik Coki, karena percuma menyuruh sang istri untuk ikut dengannya, saat keadaan seperti ini.
"Aku tidak ingin Zi dalam bahaya ketika bersama dengan Coki," ucap Ji dan langsung menghentikan sebuah taksi untuk mengikuti mobil Coki.
*
*
*
Terus mengirim pesan dan juga menghubungi ponsel Zi. Tapi pesan atau pun sambungan ponselnya terus di abaikan oleh sang istri.
Begitu pun ketika ia mengirim pesan pada Coki, yang juga di abaikan olehnya.
"Sial!" kesal Ji dan melempar ponselnya ke atas ranjang kamar hotel dimana ia sekarang berada. Dan mengacak rambutnya sendiri, merasa kuatir dengan Zi yang pergi dengan Coki.
__ADS_1
Takut Coki melakukan sesuatu pada sang istri, karena Ji tahu siapa Coki sebenarnya.
"Ya ampun, aku harus bagaimana, apa aku harus memberi tahu om Jack tentang ini," Ji pun langsung mengambil ponsel miliknya, berniat untuk menghubungi Om Jack.
Bertepatan dengan pintu kamar hotel di buka dari luar, dan memperlihatkan sang istri yang baru masuk dengan wajah penuh keceriaan, membuat Ji mengurungkan niatnya untuk menghubungi om Jack.
"Kamu ada di sini, Ji?" tanya Zi yang kini melangkahkan kakinya mendekati ranjang, lalu menjatuhkan tubuhnya di atas ranjang. "Lelahnya hari ini, tapi aku suka jalan bareng Coki, dari pada sama kamu,"
Mendengar perkataan Zi, Ji langsung menoleh ke arahnya. "Kenapa baru pulang? Dari mana saja hah?! Aku hubungi tapi tidak di angkat, pesan pun tidak di balas,"
"Suka-suka aku, wong aku sedang menikmati hari, lagian sejak kapan kamu peduli padaku, dasar menyebalkan," cibir Zi, dan kini beranjak dari ranjang.
"Sejak kamu mengenal Coki, aku katakan padamu, Coki itu pria tidak baik Zi, lebih baik kamu menjauh darinya,"
Zi yang ingin melangkahkan kakinya menuju kamar mandi, ia urungkan. Lalu menoleh pada sang suami.
"Jika dia pria tidak baik, terus bagaimana dengan kamu, yang lebih mementingkan kekasih kamu, di banding aku istri kamu, hah?!"
Bersambung...........
__ADS_1