MENIKAH DENGAN GADIS POLOS

MENIKAH DENGAN GADIS POLOS
69


__ADS_3

Di tempat dan negara berbeda, akhirnya Ji menemukan Bela sang kekasih, di sebuah rumah sakit, dalam keadaan baik-baik saja, meskipun sang kekasih harus terus menjalani pengobatan.


Tentu saja ketika bertemu dengan sang kekasih, Ji langsung memeluk Bela, dan tidak ingin melepaskannya, takut kekasihnya tersebut akan pergi meninggalkannya kembali.


"Aku sangat merindukan kamu, sayang," ucap Ji ketika masih memeluk kekasihnya tersebut. "Dan kamu telah membuat separuh nafasku pergi,"


Air mata menetes membasahi kedua pipinya Bela, ketika mendengar apa yang dikatakan oleh Ji. Tidak ia pungkiri, ia pun juga sangat merindukan kekasihnya tersebut.


Mendapati sang kekasih menangis di dalam pelukannya, membuat Ji langsung melepas pelukannya, kemudian meraup wajah sang kekasih, tak lupa menghapus air mata yang masih membasahi kedua pipinya.


"Sayang,"


"Maafkan aku," ucap Bela, karena ia tahu, setelah kepergiannya, Ji sangat terpuruk.


"Sebesar apa pun kesalahan kamu, aku akan selalu memaafkanmu, sayang,"


"Terima kasih," Bela yang sekarang memeluk tubuh sang kekasih, yang langsung mendapat pelukan balik dari Ji.

__ADS_1


Setelah beberapa saat keduanya berpelukan, kini keduanya sama-sama saling melepas pelukannya.


Ji mengangkat satu tangannya, lalu membelai sebelah pipi sang kekasih. Entah dari mana ia harus memberi tahu Bela, jika Bima sang adik sudah meninggal dunia di tangan anak buah om Jack.


"Sayang, aku ingin menikahi kamu," kata itu yang akhirnya keluar dari bibir Ji, tidak ingin membahas tentang Bima, tapi mengatakan niatnya untuk menikahi Bela sang kekasih, karena kedua orang tuanya, sudah merestui hubungannya.


Tentu saja papi Jona dan juga mami Jane, merestui sang putra menikah dengan Bela, sebelum ia pergi mencari keberadaannya, dan sekarang Ji bisa menemukan sang kekasih.


Karena Ji sudah mengancam kedua orang taunya, akan pergi jauh, jika ia tidak diijinkan untuk menikahi sang kekasih. Dan ancaman Ji berhasil juga, karena mami Jane dan juga papi Jona, tidak ingin kehilangan putra semata wayangnya tersebut.


Ji menaruh jari telunjuknya, tepat di bibir sang kekasih untuk menghentikan ucapannya, karena Ji tahu apa yang akan di katakan kekasihnya tersebut, pasti Bela akan mengatakan umurnya tidak akan lama lagi.


"Jangan bicara yang belum tentu terjadi, ketahuilah. Yang tahu umur manusia hanya Tuhan, dan aku yakin, kamu akan sembuh, sayang, percaya padaku," ucap Ji yang kini meraih kedua tangan Bela, lalu menggenggamnya dengan sangat erat, ketika keduanya sedang duduk di sebuah bangku panjang yang ada di taman rumah sakit, yang selama ini menjadi tempat tinggal Bela di negara tersebut, hingga kesehatannya kembali membaik, meskipun vonis yang di derita masih belum berubah.


Namun, Bela tidak menanggapi ucapan dari Ji, karena benar apa yang dikatakan oleh kekasihnya tersebut, dan ia pun ingin terus hidup bersama dengan Ji yang sangat dicintainya.


"Papi dan juga mami sudah merestui hubungan kita, sayang,"

__ADS_1


Bela menatap pada sang kekasih mendengar apa yang dikatakannya, karena ia tahu kedua orang tua sang kekasih sejak dulu tidak merestui hubungannya.


"Sayang, aku tidak salah dengar kan?" tanya Bela takut dirinya salah mendengar apa yang dikatakan oleh sang kekasih.


"Tidak sayang, dan aku ingin menikahi kamu secepatnya,"


Namun, Bela tidak menanggapi ucapan dari Ji, yang ada ia menyadarkan kepala di dada sang kekasih, karena sejak dulu ia ingin sekali menikah dengan Ji. "Aku ingin memberi tahu Bima tentang ini," kata Bela, karena sang adik harus tahu kabar menggembirakan ini, mengingat lagi sudah beberapa hari sang adik tidak mengunjunginya di rumah sakit.


"Sayang, Bima sudah tiada," Ji keceplosan mengatakan kebenaran tersebut, membuat Bela langsung menegakkan kepalanya.


"Maksud kamu apa sayang?"


Ji pun langsung menceritakan jika Bima sudah meninggal dunia, tidak ingin menunda lagi mengatakan sebuah kebenaran, karena cepat atau lambat sang kekasih akan mengetahui kebenaran tersebut.


"Sayang!" teriak Ji karena Bela tiba-tiba jatuh tidak sadarkan diri setelah mendengar apa yang dikatakannya. "Help!!!" teriak Ji lagi sekuat tenaga untuk meminta bantuan.


Bersambung..............

__ADS_1


__ADS_2