
Belum juga Lia menjawab pertanyaan dari Zi, ia terlebih dahulu masuk ke dalam ruangan dimana ia selalu mengerjakan pekerjaannya, dan juga tempatnya beristirahat ketika sudah selesai dengan pekerjaannya.
Membuat Lia hanya bisa menggelengkan kepalanya, sambil menatap sang atasan yang sudah tidak terlihat dari pandangannya, karena Zi sudah masuk ke dalam ruangannya.
"Sungguh aneh, tadi bertanya. Tapi belum juga di jawab sudah pergi," ucapnya dan kembali mengerjakan aktivitasnya.
"Mentang-mentang pengantin baru, datang kesiangan. Apa kamu lupa yang kamu katakan kemarin, hah,"
"Maaf," sambung Zi tak lupa melempar sanyum pada Ev, saudara perempuannya yang sangat ia sayangi, meskipun keduanya lahir dari ibu dan juga ayah yang berbeda, setelah Zi masuk ke dalam ruang kerjanya, dan ternyata yang sedang menunggunya adalah Ev.
"Maaf, maaf, kamu sudah membuang waktuku satu jam di sini tahu, kamu sendiri yang bilang aku suruh datang jam sembilan, tapi kamu malah datang jam sepuluh, dasar menyebalkan,"
"Sekali lagi maafkan aku, tadi aku bangun kesiangan,"
Mendengar apa yang di katakan oleh Zi, membuat Ev yang sedari tadi duduk di sofa yang ada di ruangan tersebut, segera beranjak dari duduknya, lalu berjalan mendekati Zi yang sedang menaruh tas miliknya ke atas meja kerjanya. Tak lupa mengukir senyum.
"Pasti semalam abis anu ya sama Ji?" tanya Ev penuh selidik.
"Anu apa?"
"Ya anu, malam kedua main kuda kudaan, iya kan?" tanya Ev lagi, karena ia tahu, baru dua malam Zi dan juga Ji menikah.
"Main kuda kudaan dimana, ada-ada aja kamu Ev," jawab Zi yang kini duduk di kursi kerjanya.
"Ya di atas kasur lah, memangnya dimana lagi,"
Zi yang tadi ingin membuka laptop miliknya kini ia urungkan, lalu menatap saudaranya tersebut.
"Kenapa kamu sekarang jadi bodoh sih Ev?"
__ADS_1
"Maksud kamu apa?"
"Ya mana ada main kuda kudaan di atas kasur, yang ada kasurnya jebol lah,"
Ev menepuk jidatnya sendiri, setelah mendengar jawaban dari Zi. "Bukan aku yang bodoh, tapi kamu yang tidak pernah berubah, tetap saja oon. Dasar oon!" kesal Ev. "Sudahlah, lupakan perbincangan kita," pinta Ev, yang pasti tidak akan nyambung berbicara delapan belas plus dengan Zi. "Mana, gaun aku, sudah jadi apa belum?"
"Sudah, kamu tinggal coba saja, jika kurang sesuai, nanti aku perbaiki sesuai keinginan kamu,"
"Oke, aku ingin mencobanya sekarang,"
"Baiklah, ayo ikut denganku. Eh tapi bentar dulu Ev,"
"Apa lagi?"
"Kapan..."
"Apa kamu tidak ingin hamil, sudah mau lima tahun loh, kamu menikah, mama dan juga papa sangat menginginkan kamu..."
"Sudahlah, jangan di bahas. Aku ingin mencoba gaunku," kembali lagi Ev memotong perkataan dari Zi, dan tak ingin lagi membahas masalah momongan.
"Oke," Zi pun langsung mengajak Ev untuk mencoba gaun yang di inginkannya.
Setelah hampir satu jam bersama dengan Ev, Zi kini kembali dengan pekerjaannya, setelah saudaranya tersebut pulang dari butik miliknya, dengan gaun yang di inginkannya.
"Masuk," perintah Zi, ketika ada yang mengetuk pintu ruang kerjanya.
Dan tak berselang lama, Lia asistennya masuk ke dalam ruang kerjanya.
"Ada apa Lia?"
__ADS_1
"Nona Bela ingin menemui Ibu Zi," jawab Lia menyebut nama salah satu pelanggan setia butik milik Zi.
"Suruh saja masuk, kamu sudah siapkan gaun miliknya kan?"
"Tentu saja sudah Bu,"
"Sip," sambung Zi tak lupa mengangkat satu ibu jarinya.
Dan tak berselang lama, Bela pun masuk ke dalam ruang kerja Zi.
Tentu saja Zi menyambut Bela yang tak lain dan tak bukan adalah kekasih dari sang suami, dengan sangat ramah, karena Bela adalah pelanggan setia di butiknya.
"Selamat datang Nona Bela," sapa Zi pada wanita yang begitu cantik dengan tubuh proposional, tak heran jika Ji sang suami sangat mencintainya.
"Bagaimana gaunku?"
"Sudah siap Nona,"
"Bagus, oh ya. Buatlah juga jas dengan warna senada dengan gaunku,"
"Baiklah, tapi maaf, aku harus mengukur pemilik tubuh yang ingin mengenakan jas tersebut,"
"Oh ya, bentar," Bela pun langsung memanggil seorang pria untuk masuk ke dalam ruangan tersebut.
Dan hal tersebut membuat Zi bingung, kenapa Bela memanggil seorang pria yang ingin memakai jas dengan warna senada dengan gaunnya.
"Nona Bela, apakah aku boleh bertanya, dia siapa?" tanya Zi penasaran, sambil menoleh pada pria yang baru saja di panggil oleh Bela, entah mengapa ia sangat penasaran, dengan Bela yang tidak sama sekali pernah berkunjung dengan seorang pria ke butiknya, apa lagi ingin membuat jas untuknya dengan warna senada dengan gaun pesanannya.
Bersambung..........
__ADS_1