MENIKAH DENGAN GADIS POLOS

MENIKAH DENGAN GADIS POLOS
26


__ADS_3

Setelah mengancam Coki, Lucas segera meninggalkan kamar tersebut.


Membuat Coki semakin erat menggenggam kedua tangan sang mama.


"Cok, bawa mama pergi dari sini," pinta mama Coki.


Membuat Coki kini menatap pada sang mama. "Tidak Ma, pengobatan mama harus terus berjalan,"


"Percuma, mama tidak akan pernah sembuh, umur mama hanya tinggal menunggu hari,"


Coki merasa bingung dengan sang mama, yang lancar berbicara, padahal hari-hari sebelumnya, sang mama sulit untuk berbicara.


"Ma, apa yang mama katakan, mama tidak boleh bicara seperti itu, mama harus kuat dan bisa melihat aku menikah dengan wanita yang aku cintai suatu saat nanti. Jadi jangan bicara yang tidak-tidak,"


"Tapi..."


"Ma, mama," panggil Coki dan langsung panik, ketika sang mama tidak jadi meneruskan ucapannya, yang ada sang mama memegangi dadanya sambil menahan sakit. "Sus, kemarilah!" teriak Coki pada perawat sang mama.


Tanpa berselang lama perawat tersebut pun segera masuk ke dalam kamar.


"Sus, mama,"


"Tuan jangan panik," ucap perawat tersebut, tahu apa yang harus di lakukannya.


*


*


*


Seperti apa yang di katakan oleh Ji, akhirnya Zi menutupi kepergian sang suami ke Perancis, pada mami Jane dan juga papi Jona, dan mengatakan Ji pergi karena ingin menjalani bisnis baru.


Tentu saja membuat mami Jane percaya, tapi tidak dengan papi Jona, entah mengapa ia merasa apa yang dikatakan oleh Zi sang menantu hanya sebuah kebohongan.


Papi Jona beranjak dari duduknya setelah menyelesaikan makan malam, dan berpamitan untuk ke kamar terlebih dahulu, meninggalkan sang istri dan juga sang menantu di ruang makan.

__ADS_1


Dan tujuan papi Jona meninggalkan ruang makan, hanya ingin menghubungi sahabat dekatnya Jack, yang menetap di negara Perancis, untuk mengawasi Ji sang putra, benar seperti apa yang di katakan Zi atau tidak, jika sang putra pergi ke negara Perancis untuk menjalankan bisnis barunya.


Mami Jane mengukir senyum pada Zi sang menantu saat keduanya masih duduk di kursi makan.


"Mi, ada apa dengan Mami, dari tadi senyum-senyum sendiri, Mami sudah gila ya,"


"Ish, enak saja kalau bicara, kalau kamu bukan menantu kesayangan mami, sudah mami lempar mulut kamu pakai sendal," sambung mami Jane, dan memudarkan senyumannya.


"Lagian, ngapain Mami ketawa sendiri,"


"Mami sedang senang,"


"Aku tahu, Mami pasti dapat arisan, iya kan?"


"Bukan dong,"


"Terus,"


"Mami senang karena kamu dan juga Ji,"


"Karena aku, kok bisa Mi?"


"Tanya apa Mi?"


"Berapa ronde?" tanya mami Jane, yang mengira Zi dan juga sang putra sudah melewati malam pertama.


"Oh itu, baru tiga ronde sudah tumbang Mi,"


Mami Jane tersenyum dan begitu antusias mendengar jawaban dari sang menantu. "Terus durasinya berapa lama?"


"Biasa tiga menit," jawab Zi memberi tahu durasi 1 ronde dalam olah raga tinju, yang sempat ia lihat beberapa waktu lalu.


Mami Jane kini terkejut mendengar jawaban dari Zi. Dan merasa tidak mungkin jika putranya hanya kuat tiga menit bermain di atas ranjang. "Tidak mungkin,"


"Itu sudah ketentuan Mi,"

__ADS_1


"Siapa yang menentukan, kamu apa Ji?" tanya mami Jane penasaran.


"Kok, aku dan juga Ji, tentu saja bukan dong Mi, yang menentukan wasit lah,"


"Kok wasit," mami Jane benar-benar tidak mengerti dengan apa yang di katakan oleh sang menantu, yang menjadi ngelantur.


"Iya dong, kalau tidak ada wasit, bagaimana pertandingan tinju akan berjalan,"


"Ya ampun!" Mami Jane menepuk jidatnya sendiri, dan baru menyadari pertanyaan awal yang menanyakan tentang ronde dalam hubungan suami istri, di jawab dengan ronde olah raga tinju, oleh Zi.


"Ada apa Mi, pusing,"


"Iya, ngomong sama kamu," sahut mami Jane yang kini beranjak dari duduknya.


"Mau ke mana Mi?"


"Ke kamar, ngomong sama kamu bikin mami pusing," jawab mami Jane, dan mengurungkan niatnya untuk menanyakan tentang peranuan pada sang menantu, karena percuma, pasti Zi tidak akan pernah nyambung.


"Oh begitu,"


*


*


*


Setelah tiba di negara dan kota tujuannya, Ji segera menuju ke kamar hotel dimana Bela sang kekasih berada.


Namun, di dalam kamar tersebut Ji tidak mendapati ada Bela, membuatnya langsung menghubungi ponselnya, tapi ponsel Bela berada di atas meja nakas.


Kemudian Ji berinisiatif untuk menghubungi staf hotel dan menanyakan tentang Bela.


"Maaf Tuan, wanita yang menginap di kamar tersebut, tadi keluar hotel bersama dengan seorang pria," jawab staf hotel dari balik sambungan telepon, setelah Ji menanyakan tentang Bela.


"Apa! Seorang pria?"

__ADS_1


"Iya Tuan,"


Bersambung...........


__ADS_2