MENIKAH DENGAN GADIS POLOS

MENIKAH DENGAN GADIS POLOS
54


__ADS_3

Ev mengukir senyum mendengar jawaban Zi atas pertanyaannya, dan ia begitu bersyukur, akhirnya saudarinya tersebut tidak mual atau pun muntah, setelah melakukan hal anu dangan Coki, pikir Ev. Padahal keduanya tidak melakukan apa yang Ev pikirkan.


"Tentu saja enak, dan itu bikin nagih, aku yakin kamu juga pasti akan ketagihan dengan kenikmatan itu," kata Ev dan terus berjalan mengikuti langkah Zi yang menuju kamarnya. "Eh Zi ngomong-ngomong cepat sekali Coki keluar, dia pakai pengaman tidak? Atau di keluarin di luar?" tanya Ev dengan pikiran joroknya.


"Ev, jangan banyak bertanya, aku sedang membayangkan hal tadi,"


"Cie, pas..."


Brak!


Zi menutup pintu kamarnya sebelum Ev meneruskan ucapannya, dan meninggalkannya tepat di depan pintu.


"Dasar, untung wajahku yang cantik ini tidak kena pintu," kesal Ev, lalu mengukir senyum. "Aku harus memberi tahu mama dan juga papa tentang ini, biar Zi dan Coki langsung di nikahin," kata Ev yang langsung pergi meninggalkan kamar Zi.


Sementara itu, di dalam kamar, Zi tidak langsung membersihkan tubuhnya seperti biasa ketika ia baru pulang ke rumah setelah seharian bekerja. Yang ada kini ia menuju ke tempat tidur, lalu merebahkan tubuhnya di atas kasur.


Lalu mengukir senyum mengingat kejadian tadi, dan sekarang satu tangannya memegang bibir yang tadi mendapat ciuman tiba-tiba dari Coki, dan satu tangan yang lain memegangi dadanya.


"Apa ini yang dinamakan cinta, seperti apa yang mami katakan?" tanya Zi mengingat apa yang mami Jane katakan, mengenai ciri-ciri orang yang merasakan cinta, contohnya seperti dadanya berdebar, dan ada rasa dalam tubuhnya yang berbeda, sama persis dengan apa yang Zi rasakan tadi, ketika Coki mencium bibirnya. "Apa aku mencintai Coki? Ah tidak, aku sudah berjanji tidak akan menikah," kata Zi yang langsung menutup wajahnya dengan bantal.

__ADS_1


Namun, saat menutup wajahnya dengan bantal, tiba-tiba ia mengingat ucapan yang tadi Coki katakan sebelum mencium bibirnya.


Dimana Coki mengungkapkan perasaannya pada Zi.


Membuat Zi langsung melempar bantal yang menutupi wajahnya kesembarang arah.


"Aku yakin tadi Coki tidak benar-benar mengatakannya, aku tahu dia bercanda," ucap Zi sambil memegangi dadanya sendiri yang tiba-tiba berdebar debar mengingat ucapan Coki yang mengatakan mencintainya. "Ini tidak benar, dan jangan seperti ini Zi, ingat kamu sudah berjanji tidak akan menikah sampai kapan pun," kata Zi pada dirinya sendiri, lalu beranjak dari tidurnya dan berjalan menuju kamar mandi.


*


*


*


"Ya Tuhan!" Zi memukul kepalanya sendiri ketika sedang berada di kursi kerjanya. Karena pikirannya tidak lepas dari Coki, yang selama seminggu setelah kejadian itu, tidak pernah menemui atau pun menghubunginya.


Dan Coki seperti itu karena Zi yang memintanya sendiri, yang akhirnya membuat Zi tidak bisa konsentrasi dengan pekerjaannya.


"Masuk!" perintah Zi saat pintu ruang kerjanya di ketuk dari luar, kemudian ia merapikan rambut yang berantakan, mengira yang mengetuk pintu adalah Coki.

__ADS_1


Hembusan nafas kasar keluar dari bibir Zi, saat melihat Lia lah yang kini masuk ke ruang kerjanya, padahal ia berharap yang datang adalah Coki.


"Kamu Lia, aku kira siapa," kata Zi dengan wajah murung.


"Bu Zi pikir, siapa lagi selain aku?"


"Coki," jawab Zi.


"Ibu yang menyuruh aku untuk jangan mengijinkan Coki masuk ke sini, padahal tadi dia sempat datang,"


Mendengar apa yang Lia katakan membuat Zi langsung beranjak dari duduknya. "Kanapa kamu tidak bilang padaku?"


"Ibu..."


"Ah sudahlah," sahut Zi memotong perkataan dari sang asisten, kemudian ia mengambil tas miliknya dan melangkahkan kakinya untuk keluar dari ruang kerjanya.


"Bu, para pelanggan sudah menanyakan pesanannya,"


"Bilang saja besok jadi," ucap Zi dan keluar dari dalam ruang kerjanya.

__ADS_1


Bersambung....................


__ADS_2