
Disaat Zi masih berbicang dengan mami Jane dan juga papi Jona. Coki melangkahkan kakinya mendekati Ji.
"Pergilah! perintah Ji, yang menyadari jika Coki mendekatinya.
Namun, Coki tidak menghiraukan perintah Ji, yang ada ia duduk di pinggiran ranjang perawatan dimana Ji berada, senyum sinis ia tunjukkan pada mantan suami, dari gadis yang ia sukai.
Ji yang melihat senyum sinis dari bibir Coki, menatapnya dengan tidak suka. "Apa kamu tidak mendengar apa yang aku katakan, hah!" seru Ji kesal.
"Sungguh menyedihkan," kata Coki. "Pria itu harus punya harga diri Ji. Mengakhiri hidup hanya demi wanita, bodoh sekali kau. Di mana harga diri kamu sebagai pria?" tanya Coki seakan meledak Ji, yang dulu pernah menjadi sahabat baiknya, tapi tidak untuk sekarang, setelah ia tahu, Ji memperlakukan Zi dengan tidak baik, dan Coki tidak akan pernah baik pada siapa pun yang memperlakukan gadis yang disukainya dengan tidak baik, begitu pun sebaliknya.
"Sial!" kesal Ji, dan ingin menendang tubuh Coki, sebelum ia beranjak dari duduknya. Seakan tahu, apa yang akan Ji lakukan padanya.
Plak!
Pukulan mendarat tepat di satu kaki Ji yang baru saja akan menendang Coki, dan itu dilakukan oleh Zi yang kini mendekatinya kembali dan melihat Ji akan menendang Coki. "Kalau mau main sepak bola, nanti saat kamu sudah lebih baik, jangan sekarang, paham!" ucapnya.
Namun, tidak di hiraukan oleh Ji yang menatap Coki dengan tatapan tajam.
Membuat Zi menautkan keningnya, melihat tatapan Ji pada Coki, kemudian ia menoleh pada Coki yang juga sedang menatap Ji.
Senyum terukir dari kedua sudut bibir Zi, dan kembali menoleh pada Ji. "Cie, cie kalian berdua saling tatap tatapan, kalian ada rasa ya?" tanya Zi pada keduanya. "Soalnya tadi mami bilang, salah satu tanda kalian saling cintai yaitu tatap tatapan seperti kalian ini," kata Zi setelah tadi di kasih tahu olah mami Jane dan juga papi Jona, rasa cintai dan juga ciri cirinya seperti apa.
__ADS_1
"Najis!" sahut Ji yang langsung mengalihkan tatapannya.
"Tuh kan benar, pasti kalian suka. Karena kata mami, bisa jadi rasa cintai itu berawal dari rasa benci,"
"Jangan bicara omong kosong, kamu Ji! Lebih baik kamu suruh keluar makhluk satu ini," Ji menyuruh Zi sambil menunjuk pada Coki.
"Dan ingat, aku bukan pengikut pelangi, jadi jangan bicara yang tidak-tidak, mengerti!"
"Pelangi kan indah Ji,"
"Itu pelangi yang muncul setelah hujan, bukan pelangi yang baru saja aku katakan. Dan jangan bicara lagi, cepat keluar, aku ingin beristirahat!"
"Oh begitu, baiklah. Semoga kamu..."
Namun, hanya memuat Coki menyunggingkan senyum sinis, lalu mendekati Zi dan meraih satu tangannya. "Zi, kita pulang," ajak Coki.
Namun, bukannya mendapat respon dari Zi, yang ada Zi melepas tangannya. "Kamu keluar dulu, nanti aku menyusul,"
Sekarang Ji yang menyunggingkan senyum sinis, setelah ajakan Coki di tolak mentah-mentah oleh Zi. "Apa kamu tidak dengar? Keluarlah!"
Tanpa mengatakan apa pun lagi, Coki segera keluar dari dalam ruang perawatan Ji, dengan perasaan kecewa, karena Zi tidak mengikutinya, tapi ingin tetap di dalam ruangan tersebut.
__ADS_1
Setelah Coki keluar dari ruang perawatannya, Ji kini menatap pada Zi. "Zi,"
"Apa?"
"Apa kamu mau membantu aku?"
"Membantu apa Ji?"
"Kamu punya nomor kontak Bela kan?" tanya Ji, tahu jika Bela adalah pelanggan setia di butik Zi, tentu saja Zi pasti menyimpan beberapa kontak Bela, karena semua kontak miliknya di blokir oleh sang kekasih.
"Iya, memangnya kenapa?"
"Bantu aku cari informasi tentang Bela, kamu mau kan?"
"Baiklah, tapi kamu jangan melakukan hal konyol seperti ini lagi. Kamu tahu tidak, saat aku mendengar kamu mau bunuh diri, aku begitu kuatir padamu,"
"Iya,"
"Janji dulu,"
"Iya aku berjanji,"
__ADS_1
"Bagus,"
Bersambung...........