
Akhirnya Zi pulang dari rumah Coki bersama dengan Ev dan juga Jo, itu pun mereka pulang sudah larut malam, setelah membantu Coki menyiapkan makanan untuk para tetangganya, yang datang ke rumahnya lagi.
Ev yang duduk di bangku penumpang tepat disisi bangku pengemudi dimana sang suami sedang fokus mengendarai mobilnya.
Kini menoleh pada Zi yang duduk di belakang sambil bermain ponsel. "Zi,"
"Iya Ev," sahut Zi dan menoleh pada sang saudari.
"Apa kamu memiliki perasaan untuk Coki?" tanya Ev dengan mode serius, melihat sikap saudarinya tersebut pada Coki, berbeda dengan sikap Zi pada pria lain terutama pada Ji suaminya.
"Kenapa kamu bertanya seperti itu padaku, tentu saja aku memiliki perasaan pada Coki, perasaan peduli sesama manusia, jika tidak. Tentu saja mana mau aku menemani dia saat sedang terpuruk seperti ini, pertanyaan kamu aneh-aneh saja,"
"Bukan perasaan itu Zi, tapi perasaan kamu suka sama Coki,"
"Tentu saja aku suka, kalau tidak suka mana mau aku menemaninya seharian ini,"
Ev mengukir senyum mendengar jawaban dari Zi. Karena ia pikir, saudarinya tersebut benar-benar menyukai Coki.
"Aku mendukung kamu bersama Coki, karena aku melihat dia juga menyukai kamu, dan aku berharap, setelah kamu berpisah dengan Ji, kamu segera menikah lagi dengan Coki, jangan sampai nanti-nanti. Keburu Coki di ambil orang, kalau aku belum..."
"Hem, aku belum apa?" tanya Jo sang suami, ketika Ev tidak jadi meneruskan ucapannya.
Membuat Ev langsung mengukir senyum ke arah suaminya tersebut, lalu memeluk lengannya. "Tidak apa-apa sayang, hanya saja aku lupa belum menyuruh bibi mengganti seprei kasur tempat kita anu tadi," jawab Zi, padahal sebelumnya ia tidak akan mengatakan hal tersebut, lalu mencium pipi sang suami dengan sangat mesra. Dan Zi yang sudah terbiasa melihat sang saudari bermesraan dengan suaminya, merasa biasa saja.
__ADS_1
"Ev," panggil Zi.
"Hem,"
"Untuk apa aku menikah dengan Coki?" tanya Zi penasaran setelah mendengar apa yang dikatakan saudarinya tersebut.
"Lah katanya kamu suka pada dia, bagaimana sih,"
"Maksudku suka sebagai teman, untuk apa aku menikah dengannya. Dan ya, setelah aku bercerai dengan Ji, aku tidak akan menikah lagi, aku rasa menikah itu hal konyol, dan membuang buang waktu saja,"
Ev yang sedang menatap saudarinya tersebut langsung memicingkan matanya. "Jaga bicaramu, kamu butuh sosok seorang suami, paham!"
"Tidak, aku tidak membutuhkan suami, aku bisa hidup tanpa adanya suami,"
"Aku bilang tidak yang tidak, oke! Dan jangan bicara lagi," ucap Zi yang sudah berpikir matang, dan memutuskan untuk tidak menikah lagi setelah resmi bercerai dengan Ji.
"Aku bilangin pada mama dan juga papa, loh,"
"Aku tidak takut," sambung Zi, lalu menutup kedua telinganya dengan tangan, karena Zi yakin pasti Ev masih akan mengoceh lagi.
"Dasar!" seru Ev melihat Zi.
*
__ADS_1
*
*
Keesokan harinya, Ji menuju rumah sakit dimana Bela berada dengan tergesa gesa, karena kemarin ia tidak menemui sang kekasih.
Bima yang ia suruh untuk menemani Bela, juga tidak mengabarinya.
Ji yang sudah berada di depan ruangan dimana sang kekasih berada, tidak langsung masuk ke dalam ruangan. Yang ada ia menghentikan langkahnya tepat di depan pintu, dan memikirkan apa yang harus ia lakukan, agar sang kekasih tetap mendapat perawatan intensif, mengingat lagi, sekarang ia tidak memiliki apa pun, uang yang beberapa hari lalu ia pinjam dari Zi, sudah ia kembalikan, atas perintah dari kedua orang tuanya.
Hembusan nafas kasar keluar dari bibir Ji, sebelum masuk ke dalam kamar.
Namun, setelah ia membuka pintu, Ji langsung menautkan keningnya, pasalnya ruangan yang seharusnya ditempati sang kekasih kini sudah kosong, tentu saja membuat Ji bingung.
Dan ia pun langsung mengurungkan masuk ke dalam ruangan tersebut, berniat ingin menanyakan pada dokter yang menangani sang kekasih, dimana Bela.
Namun, baru saja ia akan menemui dokter, Ji melihat Bima yang berjalan mendekat.
"Bim, dimana Kakak kamu?" tanya Ji.
"Maaf,"
Bersambung........................
__ADS_1