
Sementara itu di dalam kamar Zi, mami Jane dan juga mama Hazel mendengar apa yang Zi ceritakan kenapa dirinya menangis, dimana ia di paksa seorang pria untuk ikut dengannya, dan setelahnya pria tersebut di tembak oleh orang yang tidak Zi kenal sama sekali, hingga pria yang tadi memaksa Zi jatuh tepat di hadapannya, dengan darah yang mengalir dari tubuhnya, dan itu membuat Zi sangat trauma, apa lagi ada beberapa orang yang memaksanya pergi, saat Coki akan menghampirinya, hingga ia yang memang sedang dalam ketakutan, hanya pasrah.
Mama Hazel langsung memeluk putrinya tersebut, setelah Zi menceritakan apa yang terjadi, apa lagi Zi menceritakan sambil terus menangis. "Tenangkan dirimu, sayang," hanya itu yang bisa mama Hazel katakan sambil terus memeluk tubuh sang putri.
Sementara itu mami Jane langsung paham dengan apa yang di alami oleh Zi, dan mami Jane yakin, ini ada hubungannya dengan masa lalu sang suami.
Membuatnya langsung keluar dari dalam kamar Zi untuk menemui sang suami yang tadi sedang berbicang dengan papa Zain.
Mami Jane menautkan keningnya melihat om Jack ada di rumah papa Zain sang sahabat, dan sekarang sedang berbincang di ruang tamu dengan sang suami, dan juga sahabatnya.
"Ini semua karena kamu Jack," kata mami Jane yang sudah menghampiri ketiga pria yang sedang berbicang di ruang tamu. "Jika kamu tidak kembali lagi pada pekerjaan itu, Zi tidak akan pernah melihat kejadian hari ini,"
"Aku hanya melindungi dia, Jane," bela om Jack.
"Kamu bukan melindungi Zi tapi membuatnya trauma,"
"Sayang, ini urusan pria lebih baik kamu kembali ke kamar Zi," pinta papi Jona pada sang istri.
__ADS_1
Membuat mami Jane kini menatap pada sang suami. "Ini juga karena kamu,"
"Kenapa jadi aku sayang?"
Namun, belum juga menjawab pertanyaan dari sang suami, kedua mata mami Jane menatap Coki, yang ia tahu akan menikah dengan Zi, masuk ke dalam rumah tersebut.
Bukan hanya mami Jane yang menatapnya, tapi jika ketiga pria yang duduk di ruang tamu.
Coki yang baru masuk langsung mengucap salam tapi ucapan salamnya tidak dihiraukan oleh semua orang.
Tapi meskipun seperti itu, Coki tidak gentar, apa lagi melihat papa Zain yang sudah baranjak dari duduknya, kini menatapnya dengan tatapan tajam.
"Bagus kamu datang," kata papi Jona yang masih menatap pada Coki, kemudian ia menatap pada papa Zain. "Sekarang ambil keputusan, ini demi Zi," pinta papi Jona yang sudah memberi tahu papa Zain siapa Coki.
"Om, aku ingin menjelaskan sesuatu pada Om," ucap Coki yang sudah mendekati papa Zain.
"Katakan," perintah papa Zain.
__ADS_1
Membuat Coki langsung menceritakan semuanya tentang siapa dirinya, hingga ia memutuskan untuk terlepas dari dunia kelam yang pernah ia tekuni hanya demi dang mama.
"Apa om harus percaya pada ucapan kamu?" tanya papa Zain setelah Coki telah menceritakan semuanya, sama seperti yang om Jack ceritakan tadi.
"Terserah pada Om," jawab Coki pasrah. "Tapi aku mohon, jangan pisahkan aku dengan Zi, Om," pinta Coki, yang langsung bersimpuh untuk memeluk kaki papa Zain. "Aku mohon Om, jangan pisahkan aku dengan Zi,"
"Bangunlah!" perintah papa Zain, sambil menarik tangan Coki untuk beranjak dari tempatnya.
"Zain, ini demi keselamatan Zi, ambillah keputusan yang tepat," sambung papi Jona mengingatkan sang sahabat.
Membuat papa Zain menoleh pada sang sahabat sekilas, lalu menatap pada Coki yang kini sudah berdiri di hadapannya. "Om tidak tahu harus mulai dari mana untuk memutuskan ini, setelah om tahu siapa kamu, tapi..." papa Zain menghentikan ucapannya, karena benar-benar ia tidak tahu apa keputusan yang diambilnya benar atau tidak.
"Zain, katakan saja," perintah papi Jona.
"Om tidak bisa,"
Mendengar ucapan papa Zain membuat Coki langsung lemas, dan menatap pada papa Zain. "Om, aku mohon percaya padaku," ucap Coki yang kini meneteskan air mata.
__ADS_1
"Ada apa ini?" tanya mama Hazel yang baru datang.
Bersambung......