
Jakarta di guyur hujan deras namun tak jadi penghalang untuk Rendra membelah kota Jakarta menuju tempat yang sudah di Sharelok oleh Sekertaris nya itu Vania.
"Tadi kan mas sudah bilang di rumah saja, tidak usah ikut." kata Rendra
"Aku tidak yakin kalau kamu pulang dengan tepat waktu." Saut Tania.
Rendra memilih diam dari pada berakhir di pertengkaran dengan Tania.
Setelah merayap perjalanan lambat karena hujan Rendra akhirnya tiba di tempat. Rendra segera memarkirkan mobilnya.
"Hayo sayang turun." Ajak Rendra menggandeng tangan Tania melangkah menelusuri jalan lorong menuju lobby kerena Rendra memilih masuk melalui pintu belakang hotel, selain tidak kehujanan Rendra juga mengambil jalan cepat. Kerena menurut Rendra tiba di waktu yang tidak tepat alias terlambat.
Vania duduk di kursi tempat pengunjung bersantai di lobby Resepsionis dia membaca buku majalah yang sudah di sediakan oleh pihak hotel, Via tidak memperhatikan kedatangan Rendra.
"Vania klien mana kamu sendiri disini?, maaf ya saya terlambat datang, terhambat hujan." Kata Rendra.
"Pak Rendra sudah d a..tang?." Ucap Vania terbata-bata melihat Rendra datang bersama Tania, Istrinya.
"Klien yang mau Meeting malam ini apa belum sampai disini?." tanya lagi Rendra.
"Maaf pak Rendra, saya lupa mengabari kalau Klien yang datang meeting malam ini membatalkan pertemuannya." Kata Vania alasan yang di buat-buat oleh Vania namun kenyataannya tidak demikian maka Vania alasan Klien tidak jadi datang.
"Oke.., bisa di terima mungkin berhalangan datang kerena hujan."
"Mungkin seperti itu pak, saya minta maaf ya pak."
"Oke tidak masalah, kamu pulang naik apa?, apa mau ikut mobil saya?, kamu tinggal dimana?, biar kita hantar."
"Tidak apa-apa kan sayang?." Tanya Rendra pada Tania.
Tania mengangguk kepalanya, Tania melirik Vania seperti ada yang dia sembunyikan. Tania senyum sinis Vania.
"Tidak usah Pak, biar aku pulang pakai taksi saja kebetulan kita beda arah jadi biar saya naik taksi saja."
Bagus lah. batin Tania.
"Hayo pih sudah malam, nanti Andhra cari kita tidak ada di rumah."Tania menggandeng tangan Rendra melirik ke belakang arah Vania, Tania tersenyum sinis.
Gagal! lagi Gagal! lagi, kenapa sih selalu saja gagal, untuk berduaan bersama Pak Rendra. Gumam Vania greget.
"Mas kamu yakin dia tidak di buat-buat kalau ada meeting?." tanya Tania
"Ya nggak mungkinlah lah sayang.., masa sih dia bohong dia kan sekertaris baru mana berani dia bohong sama saya?."
"Please deh yang terlalu naif dia itu perempuan, bisa saja Hilap kan mana tahu." protes Tania.
Rendra tarik nafas panjang, melepaskan hembusan nafasnya, Tania dengan santai mengatakan bahwa Vania bukan lah wanita yang polos.
Tania menguap lalu tertidur bersandar, Rendra melirik Tania sudah tidur pulas, Rendra meraih kepala Tania bersandar di bahunya.
Bawel ampun untung aku sayang kalau tidak sudah aku pites. gerutu Rendra.
Tiba di kediaman Rendra membopong tubuh Tania ke dalam kamar. Meletakkan tubuhnya di atas tempat tidur pelan-pelan agar Tania tidak bangun dari tidurnya.
Setelah itu Rendra keluar mengambil Air di dapur, sekalian menengok Andhra di kamarnya.
__ADS_1
Aaaahk!. Teriak Rendra.
"Aden.., ngagetin saja toh, Aden mau apa?." kata mbok.
"Ish mbok!, ngagetin saja, ambil air mabok, di kamar sepertinya sudah habis." jawab Rendra.
"Mbok sedang apa?, malam-malam duduk di dapur kaya hantu saja."
"Itu Den disini adem, di kamar mbok panas jadi ngadem sebentar."
"Oh..., besok pasang AC mbok nanti saya bilang Tania suruh pasang AC." Ujar Rendra pada Mbok.
Bukan berarti Rendra sepesial kan Mbok, Tapi Rendra mengingat saat masih anak-anak Rendra lebih banyak bersama Mbok di bandingkan dengan orang tuanya, karena orang tua Rendra dua-duanya sama-sama sibuk dengan urusan kerjaannya.
Tania terbangun, meraba tempat tidur tak ada sosok suaminya di sampingnya. Kemana Mas Rendra. Batin Tania.
"Mas....,Mas Rendra..," Tania memanggil Rendra.
Menengok jam sudah pukul 1 malam, Tania bergegas bangkit dari tempat tidur mencari Rendra. Tania berjalan menuruni tangga terdengar suara samar-samar.
Kok merinding..., ih..., Tania kembali ke kamar.
Seperti suara Tania. batin Rendra.
"Mbok saya ke kamar dulu, mbok istirahat ya jangan tidur malam-malam."
"Iya Den mbok juga mau tidur, sudah ngantuk."
Rendra kembali ke kamar membawa teko air. Menarik gagang pintu kamar melihat Tania menutupi seluruh tubuhnya. Rendra mengerutkan keningnya, Rendra menyentuh tubuhnya.
"Hai sayang ada apa?."
"Aku takut Mas.., tadi ada suara di bawah, kamu dari mana Mas?."
"Ngobrol sama mbok di dapur, pas aku ambil air melihat mbok di dapur, jadi Ngobrol sama mbok."
Saat hati merasa nyaman dengan pasangannya disitu ada yang kehilangan saat orang yang kita sayangi tidak ada. Panik takut khawatir karena pria yang di sayangi itu hal yang wajar.
So wanita makhluk yang paling sensitif mengenai pasangannya, satu kali luka sampai kapan pun pasti ada bekas luka tidak akan pernah hilang sampai kapan pun. Itu lah yang dirasakan Tania tidak ingin Rendra kembali ke masalalu nya.
Tania bersandar di dada suaminya. Bercakap-cakap menunggu ngantuk tiba Rendra bercerita tentang masa lalunya.
Rasa muak pun melanda saat Rendra menyebut nama Jesika, mungkin benar Jesika datang di kehidupan Rendra lebih dulu di banding Tania tapi rasa benci terhadap Jesika mendarah daging setelah tahu Rendra pernah tidur dengannya, saat baru menikah Rendra pun pernah membandingkan dirinya dengan Jesika yang lebih hot dalam bercinta. Tania memilih tidur dari pada harus mendengarkan cerita masa lalunya dengan wanita yang tidak pernah Tania sukai sampai detik ini.
Melirik Tania sudah tidur Rendra menyelimuti tubuhnya lalu rebahan di samping Tania memeluk tubuhnya menjadikan bantal guling.
Kring.... Kring.... Kring.., alarm berbunyi Tania bergegas bangun untuk solat subuh. Saat ingin membangunkan suaminya tiba-tiba kasihan tadi malam Rendra tidur larut malam, jadi Tania membiarkan Rendra tidur.
Setelah solat subuh Tania menyiapkan sarapan nasi goreng telor mata sapi kesukaan Andhra, pagi-pagi Tania sudah bergelut dalam dapur. Selesai bikin nasi goreng Tania lanjut mandi menunggu jam 7 Tania olahraga jalan kaki keliling komplek.
Tania..., panggil seseorang. Suara seperti tidak asing lagi Tania menengok ke sumber suara tersebut.
Seseorang yang sudah tidak asing lagi sepasang suami istri yang sedang hamil besar.
Deg!
__ADS_1
Gandi!, apa itu istri Gandi sedang hamil besar, oh! tuhan sepertinya pagi ini pagi yang indah tapi buruk bagi aku.
"Kamu tinggal di kompleks ini?." Sapa Gandi
"Betul sekali." jawab Tania.
"Siapa Mas..?," tanya Istri Gandi
"Oh.., Tania kenalkan ini istriku, Aisyah kenalkan dia Tania teman lama ku." Gandi memperkenalkan Istrinya dengan Tania
Teman lama?. Hem.., sepertinya dia sudah lupa, atau memang aku tidak pernah dia menganggap aku selama 3 tahun, padahal selama ini aku yang selalu ada buat dia. tapi ya sudahlah mungkin dia memang bukan jodohku sebaiknya aku lekas pergi sini, dari mendengarkan ocehannya yang nggak bermutu sakit telinga ku mendengar pengakuan Gandi kalau aku hanya sebatas teman, Hah!. Lagi pula aku sudah mendapatkan suami yang jauh lebih baik dari pada Gandi yang tidak pernah menganggap aku ada, setelah 3 tahun aku yang selalu ada buat dia, saat itu pula aku ingin serius, tapi dia memilih menikah dengan wanita yang ada hadapanku saat ini.
"Gandi, aku pamit ya, Assalamualaikum."
"Iya Tania, waalaikumsalam?" jawab Gandi dan istri
Tania pun melanjutkan lari pagi mulutnya komat-kamit gerutu kesal. Kalau saja tidak ada Istrinya sudah aku maki dia. Gerutu Tania sambil lari.
Melihat jam yang melingkar di tangannya jam 6:30 Tania kembali ke kediamannya.
"Pagi Non." sapa pak Udin
"Pagi pak Udin, sudah sarapan belum?," tanya Tania
"Belum non." Jawab pak Udin
"Sarapan dulu hayo, tidak boleh kerja sebelum sarapan." Ujar Tania pada pak Udin
Tania masuk ke dalam masih sunyi sepertinya dua kesayangannya belum bangun, Tania lanjut mandi sambil menunggu suaminya bangun.
Berdiri di kucuran air shower Tania menggosok tubuhnya dengan busa sabun, setelah mandi Tania kembali melanjutkan rutinitasnya sebagai istri menyiapkan pakaian kerja dan sarapan untuk suaminya.
Rendra mengucek matanya mencium aroma tubuh istrinya duduk di sampingnya hanya mengenakan handuk sebagai badan nya. Rendra melingkar tangannya.
"Bangun sayang..," kata Tania sambil mengeringkan rambutnya.
"Hari aku tidak kerja." ucap Rendra
"Kenapa?, Mas kamu sakit?." tanya menempelkan tangannya di atas dahinya
"Hari ini aku malas kerja, biar Romi saja yang mengurus semua kerjaan, Mas saja yang hantar Andhra sekolah." Kata Rendra
"Gimana?, kalau kita liburan ke puncak?, disana ada Vila ayah jarang sekali tengok."
"Boleh, setelah Andhra pulang sekolah kita langsung pergi, hari Senin kita pulang." Sambung Rendra.
Tok...Tok..Tok.
Papi.... Mommy, Teriak Andhra.
Why? my son, sini-sini ada apa tidak boleh teriak-teriak sayang itu tidak sopan.
Liburan ke puncak.
...----------------...
__ADS_1
Mampir ya guys