Menikah Dengan Pria Arogan

Menikah Dengan Pria Arogan
Bab 72


__ADS_3

Apa pun alasannya, cara pergi tanpa memberi tahukan alasan itu, tentu bukan menyelesaikan masalah, bisa jadi masalah itu tambah membesar.


Menjadi wanita sempurna itu pilihan semua wanita, di imbuh kecerdasan dan cantik luar dalam. Pria mana yang tidak menginginkan Tania selain cantik Tania memiliki kemampuan di luar rata-rata, gaya hidup yang sederhana tapi sangat elegan.


Hari ini diamana Tania dan Rendra juga para Colage kumpul di sebuah restoran area hotel milik keluarga Wiratama.


Gadis cantik itu memakai celana bahan hitam other warna abu-abu kotak-kotak kecil rancangan designer ternama di Indonesia.


Setelah parkir. Tania keluar dari mobil menuju area lobby hotel. Semua mata terpana melihat kecantikan Tania memang tidak di ragukan lagi selain cantik penampilan Tania membuat sesama wanita ingin mengikuti gaya nya.


"Selamat siang Bu Serena?" sapa pegawai yang menyambut kedatangan Tania.


"Siang..., meja Pak Rendra Wiratama."


"Baik..., Bu mari ikuti saya."


Tania menganggukkan kepalanya dengan pelan.


Disana sudah hadir beberapa orang investor dan juga di hadiri oleh Tomi Wiratama.


"Selamat siang...., maaf apa saya telat?" sapa Tania sedikit menundukkan kepalanya memberikan hormat untuk yang hadir.


"Siang Bu Serena...," Jawab serempak.


"Seperti nya belum, hanya saja kami mungkin yang terlalu rajin dan bersemangat untuk menghadiri Meeting kali ini." Saut dari salah satu yang hadir.


Mereka pun tertawa bersamaan..., bertepatan kedatangan Rendra.


Tiba-tiba Rendra merasa kesal melihat yang lain begitu akrab dengan Tania.


Dengan cepat Rendra menarik kursi lalu duduk sambil membuka Leptop nya, tanpa menoleh ke siapa pun wajah ia tekuk menjadi seribu.


Setelah semua kumpul Rapat pun di pimpin oleh Tomi langsung, Tomi ingin menguji kemampuan Tania. Ada beberapa pertanyaan yang di ajukan untuk Tania.


Tania menjawab pertanyaan dari Tomi dengan santai. Hasilnya semua Colage ternganga presentasi dari Tania.


Selesai meeting acara makan siang bersama, Tania melihat jam yang melingkar di tangannya."Maaf semua saya undur diri ada keperluan sedikit."Ucap Tania.


"Mau kemana Serena?" tanya Tomi yang menaruh kecurigaan.


"Ada yang harus saya urus pak Tomi."jawab Tania sambil merapikan alat-alat kerjanya.


"Mari semua."Pamit Tania.


"Mari, silahkan" jawab serempak.


Rendra melirik ke arah Tania, tidak lama Rendra pun pamit sebentar. Ia mengikuti Tania.


Rendra menarik tangan Tania dengan paksa.


"Mas..., lepas sakit."


"Mau kemana kamu?" Tanya Rendra ketus.


"Bukan urusan kamu, aku mau kemana pun itu hak aku." jawab Tania, yang masih dalam kuncian tangan Rendra.


Rendra yang sudah terlanjur emosi dari awal datang. Ia melampiaskan kemarahannya pada Tania Rendra mencium bibir Tania dengan kasar.


Plak!


Rendra memegangi pipinya tamparan itu mendarat pada Rendra.


"Maaf kan aku Mas...," Tania berusaha menyentuh pipinya.

__ADS_1


Seketika Rendra menepis tangan Tania dengan kasar. Rendra pun pergi meninggalkan Tania dengan keadaan rasa kecewanya.


Maafkan aku Mas..., aku tidak bermaksud menamparmu. Lirih batin Tania.


Mas..., Rendra. panggil Tania.


Gadis itu terus mengejar Rendra ia merasa bersalah atas apa yang sudah ia lakukan pada pria tampan hidung mancung itu.


Bodoh! kenapa aku harus cinta terulang kembali disaat aku akan melupakan dia. Rendra menonjok tembok kokoh yang ada di hadapannya.


BUG!.


Pria tampan itu meluapnya kemarahan pada benda yang tak bernyawa.


Begitu ia melupakan kemarahan Rendra merapikan dirinya yang sedikit kusut lalu kembali ke meja.


"Dari mana saja Rendra, kita dari tadi nungguin kamu."Protes Tomi.


"Habis dari kamar kecil Dad, kebetulan tadi sedikit antri."Tepis Rendra.


Tomi mengerutkan keningnya ia sedikit curiga kalau Rendra menemui Tania. Tomi menyunggingkan bibirnya.


"Dady kenapa melihat ku seperti itu?" Rendra membalas tatapan Tomi.


"Tidak apa-apa, ya sudah tandatangani kontrak dengan perusahaan, Dady pergi dulu."


Sementara itu Tania tiba di sekolah favorit Jakarta. Tania menunggu kepulangan Andhra di dalam mobil. Setelah melihat berhamburan keluar Tania keluar dari mobil menghampiri Andhra.


"Andhra." panggil Tania sambil melambaikan tangannya.


Mendengar namanya di panggil Andhra celingukan mencari di sekeliling. Mata Andhra terdapat wajah Tania yang berdiri di depan gerbang.


Ngapain wanita itu menjemput ku. Gerutu Andhra kesel.


"Pak damar sibuk, karena itu aku yang menjemput kamu."Tutur Tania meyakinkan Andhra.


Andhra melirik malas, menurut Andhra wanita yang baik dengan nya hanya ingin mendapatkan papa nya tidak benar-benar tulus baik semua karena ada maunya.


"Hayo lah masuk kita pulang atau kau mau belanja apa dulu, atau kau ingin main ke rumah ku?" tanya Tania.


"Tidak usah cepat hantar aku pulang."


Tania menarik nafasnya, sabar Tania semua itu butuh proses.


"Baiklah, kita pulang"kata Tania.


Dalam perjalanan Tania melakukan negosiasi dengan Andhra.


"Sebelum aku hantar kamu pulang, bagiamana kalau kita makan dulu? di Mall ada Gadget terbaru loh apa kau tidak ingin memilikinya."


Tawaran Tania begitu menggiurkan tapi Andhra pikir ulang. Ia tidak mudah untuk di bujuk. Andhra yang sekarang begitu keras sifatnya mewarisi Rendra.


"Apa kau tidak mendengar apa kataku? aku bilang pulang, ya pulang!." Bentak Andhra.


"Sulit sekali bujuk anak ini, Sepertinya Rendra sudah mendidik nya dengan keras, dia tumbuh menjadi anak yang keras kepala." Batin Tania.


"Sebenarnya apa yang kau inginkan? kau kenapa begitu memakasa untuk dekat dengan ku?" tanya Andhra.


"Tidak ada, aku hanya ingin mengenal mu lebih dekat tidak ada maksud lain, kalau kau keberatan stelah ini aku tidak kan mengganggu mu lagi"


"Wanita bodoh!, itu kau mudah menyerah."


Andhra pun ingin tahu apa maksud dia mendekati keluarganya.

__ADS_1


"Baiklah aku akan beri kau kesempatan untuk dekat dengan ku tapi ada syaratnya." Andhra mengajukan persyaratan.


"Syarat? apa" penasaran Tania.


Andhra diam sejenak."Kau tidak boleh mendekati papi apa kau setuju?" Kata Andhra sambil menunjuk kelingking.


"Oke!" Tania melingkarkan kelingking menjadi satu dengan kelingking Andhra.


Dengan begini aku bisa leluasa dekat dengan putraku bagaimana pun putraku adalah Pewaris harta ku satu-satunya dia yang akan menggantikan aku saat aku tidak mampu mengendalikan semua perusahaan ku yang melebar di beberapa negara, dan hal itu yang tidak di ketahui oleh Rendra.


Bahkan ada beberapa perusahaan yang sudah terjalin kontrak dengan perusahaan Rendra salah satunya di negara Jerman dan Perancis.


Kediaman Tania kini jauh lebih mewah dari kediaman Rendra yang ditempati sekarang. Tania pun berniat akan membuka identitasnya di saat yang tepat.


Di tempat lain Rendra terlihat cemas memaki semua orang yang berada di kediamannya.


"Bagaimana bisa kamu tidak menjemput Andhra siapa yang perintahkan kamu?"


"Tidak ada Den, bapak sudah kesekolah tuan muda kecil tapi tuan muda kecil sudah tidak ada, dan guru nya bilang Andhra sudah ada yang menjemput dia seorang wanita."Ungkap pak damar.


Wanita.


Tania, sudah kuduga dia pasti Tania.


Ponsel Tania berdering.


Mas Rendra pasti mencari Andhra. batin Tania.


"Sebentar ya Andhra aku terima telpon dulu."


Tania menerima telpon dari Rendra sedikit menjauh dari Andhra.


[Halo Mas...]


[Kamu diamana cepat pulang kan anak saya]


[Dia juga anak saya, apa saya tidak boleh mengajak nya jalan-jalan sebentar kasihan dia selalu kamu kurung]


[Cepat pulang kan atau]


[Atau apa, kamu mengancam ku?]


Klik.


Tania bernafas lega, setidaknya bisa melawan Rendra. Tania kembali menemui Andhra.


"Andhra habis kan makan nya papi mu sudah menunggu di rumah."


Andhra menganggukkan kepalanya" Tante kau harus membela ku, papi pasti akan marah sekali kalau aku tidak ada di rumah."


"Ya tenang saja Tante pas akan melindungi mu."


Kasihan sekali kau nak dunia mu kau habiskan dengan belajar dan bermain games. Tania menitikkan air matanya.


"Tante kenapa kau menangis?"


"Ah! tidak apa-apa" dengan cepat Tania menyapu air matanya.


Hari dimana gadis itu kembali menitikkan air matanya, terasa sesak dadanya bagaimana bisa Rendra tidak pernah mengijinkan Andhra keluar dari rumah, ada tangis bahagia melihat pria kecilnya tertawa lepas di tengah-tengah keramaian, tapi disisi lain seorang ibu yang telah lama meninggalkan anaknya dan kini datang dengan tiba-tiba akan mengambil nya, itu hal yang mustahil bagi seorang ayah yang sudah membesarkan putranya, dia rela kurang tidur menggendong putranya agar tidur nyenyak, bahunya menjadi saksi setiap malam menjadi batal putranya.


...----------------...


Terimakasih atas dukungan 🙏

__ADS_1


__ADS_2