
Membayangkan saja rasanya tidak ingin, Bagaikan virus yang yang tidak dapat di isolasi, penyakit itu akan menyebar jika tidak langsung di tidak lanjuti.
"Beri pelajaran pria yang sudah menghamili mu, anggap saja tidak terjadi sesuatu apa-apa dengan dirimu." Ujar Tania.
"Lalu bagaimana aku bisa hidup seorang diri tanpa ada pemasukan untuk hari-hari ku, belum lagi aku harus menyewa kamar untuk tempat tinggal ku." Kata Vania.
"Kamu tenang saja, aku ada perusahaan milik ku baru berjalan, kamu bisa bekerja di perusahaan ku, itu pun kalau kamu mau?."
"Terimakasih Tania, aku bingung harus mulai dari mana untuk aku berterima kasih padamu?."
"Cukup kamu katakan siapa bapak dari bayi yang kamu kandung itu."
"Lexsi."
"Lexsi?!." Rendra terkejut saat dia menguping pembicaraan Tania dan Vania.
"Mas..., kamu sendang apa disitu?." Tania dan Vania pun menengok ke arah Rendra.
"Tadi tidak sengaja lewat, mendengar percakapan kalian." Jawab Rendra malu-malu.
"Ya Allah, kak Lexsi, sahabat suamiku?." tanya Tania.
Vania menganggukkan kepalanya, Ia pun menjawab sedikit takut kalau Tania akan mengadukan semuanya pada Lexsi, setelah mendapatkan imbalan sejumlah uang yang cukup besar Vania sudah berjanji kalau masalah dia tidak akan ada yang tahu.
"Tania aku mohon jangan sampai ada yang tahu masalah ini." pinta Vania merahasiakan hal ini.
"Tidak bisa Vania, kak Lexsi harus tahu kalau kamu hamil anak dia."
Awalnya aku yang mempertemukan mereka, ini semua gara-gara aku kalau saja aku tidak mempertemukan mereka mungkin Vania tidak seperti ini. Batin Rendra, bersalah atas kehamilannya.
Aku sudah mengira bahwa Vania hamil karena Mas Rendra, maafin aku Mas.., aku sudah berburuk sangka sama kamu. gumam Tania melirik Rendra.
Rendra meraup wajah Tania, gemes."Pasti mengira aku."
Tania tersenyum, Rendra bisa menebak isi dalam pikiran Tania.
"Sekarang kita makan dulu yuk, pasti kamu belum makan kan?."
Vania menggelengkan kepalanya, Vania bangun dari duduknya, Ia berjalan pincang.
"Vania kaki kamu kenapa?."
"Tidak apa-apa hanya sedikit lecet saja, nanti juga sembuh."
Tania meminta duduk di kursi lalu mengambil kotak P3K di laci tempat obat-obatan, Tania mengobati luka di kakinya.
"Kenapa bisa seperti ini?."
"Mungkin aku terlalu jauh berjalan, alas kakiku tidak nyaman aku pakai." katanya.
Vania meringis kesakitan, setelah Tania obati dengan Betadine lalu menutupnya dengan kapas perban.
"Setelah ini kamu makan lalu istirahat di kamar tamu, kebrutalan kosong tidak ada yang menempati."Ujar Tania.
"Tidak usah Tania biar aku cari kamar kontrakan saja, aku tidak ingin merepotkan kamu."
__ADS_1
"Vania setidaknya untuk malam ini saja, nanti kita cari tempat sama-sama."
Rendra diam menyimak setiap pembicara Tania dan Vania, awalnya Rendra sangat ketus dan tidak menyukai kehadiran Vania di kediamannya, tapi setelah melihat Vania hamil tak ada sosok suaminya entah kenapa Rendra seperti ada rasa kasihan dan ingin menolong Vania keluar dari penderitanya.
"Terimakasih Tania, maaf sudah merepotkan kamu." ucap Vania.
"Tidak ada yang di repot kan, kamu sudah aku anggap sodara, jadi tidak usah sungkan padaku."
Kalau seperti ini aku merasa kasihan padamu, jika mengingat kelakuan mu dulu aku sangat membencimu,, gumam Tania.
Semelir angin sayup-sayup terdengar suara alas kaki melangkah dengan pelan, saat itu Tania belum tidur, lantai yang terbuat dari marmer itu, sangat nyaring suara kaki melangkah.
Ia dia Vania Larissa, menuju kolam renang sepertinya dia akan merenungkan nasibnya yang sudah hancur oleh kelakuan bejatnya dengan pria yang tidak bertanggung jawab.
Vania duduk di sebuah kursi malas dia menyender di sandaran kursi, pikiran kosong dan hampa rasanya ingin mengakhiri hidupnya, tapi semua itu mustahil bagi Vania Larissa jika harus mengakhiri hidupnya ia harus kuat dan melanjutkan hidupnya demi anak yang dia dalam kandungan nya.
"Aku akan membantu mu." tiba-tiba suara itu terdengar dari belakang punggungnya dia bersandar.
"Pak Rendra?."
Rendra menghampiri Vania lalu duduk di sampingnya.
"Maafin aku Vania kalau saja aku tidak mengenalkan kamu saat di hotel mungkin kamu tidak seperti ini." Lirih Rendra.
"Pak Rendra, ini sudah takdir saya harus hamil tanpa suami, andaikan aku ada suami mungkin aku sudah bahagia." Ucap Vania.
"Nanti akan aku carikan rumah untuk mu, tapi aku ingin kau merahasiakan ini dengan Tania."
"Tidak usah pak, aku tidak ingin Tania salah paham nantinya." Kata Vania.
"Anggap saja ini untuk menebus kesalahanku."
Jeder!.
Suara petir pun menggelar Vania refleks memeluk tubuh Rendra.
"Vania hai jangan takut itu hanya suara petir, sebaiknya kamu masuk sepertinya akan turun hujan."
Vania Larissa pun nurut masuk melangkah pergi masuk kedalam rumah, menuju kamarnya, dia menghempas kan tubuhnya di atas kasur.
hingga menjelang pagi Vania bangun dari tidur masuk kedalam kamar mandi membersihkan tubuhnya, berdiri di bawah kucuran air shower menikmati sejuknya air pagi, kemudian Vania menyudahi mandinya, kaluar dari kamar mandi mengeringkan rambutnya, masih terlilit handuk di separuh tubuhnya.
Sementara Tania setelah solat subuh Ia melanjutkan tidurnya, cuaca hujan membuat Tania nyaman dalam selimut.
Rendra bangun dari awal, Rendra pun duduk di sofa ruang tamu, tiba-tiba Rendra mengendus aroma wangi parfum, Rendra menengok nampak Vania Larissa menyapa di pagi hari.
"Pagi pak Rendra." sapa Vania.
"Pagi Vania." jawab Rendra sambil menurunkan kakinya.
"Sudah rapi mau kemana?." tanya Rendra.
"Tidak kemana-mana, pak Rendra saya permisi ke dapur dulu."
Vania pergi ke dapur."Pagi Mbok?." sapa Vania
__ADS_1
"Pagi Neng, ada yang bisa mbok bantu neng mau apa?."
"Mbok Mas Rendra kalau pagi biasa sarapan apa?." tanya Vania.
"Kalau Den Rendra biasanya Non Tania yang buatkan sarapan." jawab Mbok.
"Tania sepertinya belum bangun mbok biar aku saja yang buatkan sarapan ya?."
"Jangan neng, nanti Non Tania marah." kata Mbok.
Tapi Vania memaksa untuk membuatkan sarapan untuk Rendra dan Andhra.
Siapa dia?, mbok kok rasanya tidak menyukai wanita ini. Batin Mbok.
Vania mengoles roti dengan selai stroberi kesukaan Andhra dan Rendra, stelah mengoles roti Vania menyeduh teh hijau untuk Rendra. Susu untuk Andhra.
Andhra datang sudah siap dengan pakaian sekolah nya, dia duduk di meja makan terkejut sudah ada Roti tapi tak melihat Mommy nya.
"Mbok..." panggil Andhra.
"Iya Den?."
"Mbok Mommy mana?."tanya Andhra.
"Mommy sepertinya belum bangun den." jawab Mbok.
"Ini siapa yang buat Mbok, kok tidak ada mata dan bibir nya?."
Andhra terbiasa dengan sarapan roti berbentuk, ada mata dan bibir di atas roti itu.
"Itu yang buat Tante Vania." kata mbok.
"Aku tidak mau sarapan!." Ucap Andhra ketus lalu meninggalkan meja makan dengan wajah datarnya.
"Ada apa sih Mbok?, kok Andhra marah?." tanya Rendra.
"Sarapan pagi yang neng Vania buat, Aden kecil tidak mau makan Aden." Jawab Mbok.
Rendra menarik nafasnya panjang lalu menghampiri Andhra, duduk sedekap kaki menompang.
"Mau papi yang buatkan sarapan?." Rendra membujuk Andhra.
"Tidak!." Ucap Andhra keras.
Vania menghampiri Rendra dia menarik tangan Rendra untuk sarapan.
"Vania ada apa?."
"Pak Rendra harus sarapan dulu, kalau Andhra tidak mau sarapan ya sudah biarkan saja, nanti juga lapar makan sendiri."
"Maksudnya apa Vania?." sontak Rendra mendengar perkataan Vania.
"Duduk lah, sarapan dulu, lalu kita cari kontrakan jadikan Carikan aku kontrakan?." Vania memaksa Rendra sarapan.
Rendra tidak menjawab Ia takut di dengar mbok, Mbok melirik Vania sinis, Vania melirik kembali mbok dengan tatapan tajam.
__ADS_1
...----------------...
Yuk mampir di karya ku.