Menikah Dengan Pria Arogan

Menikah Dengan Pria Arogan
Bab 64


__ADS_3

Linda merasa kesal karena Tania tidak bisa menemui Abercio Sanjaya, tapi ada rasa senang karena Tania tidak menanggapi Abercio.


Pukul 3 sore Tania berencana untuk make over Marissa, Marissa harus tampil cantik di depan Suaminya itu.


"Marissa kamu ikut saya sekarang."panggil Tania.


"Baik Bu, sebentar saya rapihkan berkas dulu."


Tania berdiri menunggu Marissa membereskan meja bekas kerjanya.


Setelah beres Marissa meraih tasnya,"Saya sudah selesai Bu."


"Oke kita pergi sekarang."


Marissa mengikuti langkah Tania ke arah mobil Tania parkir. Ia duduk sejajar dengan Tania.


"Kita mau kemana Bu?" tanya Marissa ingin tahu.


"Nanti juga bakal tahu."Jawab Tania singkat.


Aaaahk!!! PRANK!


"Andhra kenapa harus seperti ini sih?, papi pergi ada urusan sebentar."


"Apa kamu merindukan mommy." Rendra coba tanya mensejajarkan tinggi putranya.


Andhra menggelengkan-gelengkan kepalanya."Lalu kenapa jagoan papi begitu cengeng?, papi tidak suka jagoan kamu seperti ini Andhra sudah besar Andhra harus bisa bawa diri."


Rendra mulai emosi menghadapi sikap putra kesayangannya itu, Bahakan ia rela tidak mencari pendamping pengganti Tania hanya karena ia takut tidak menemui wanita yang benar-benar tulus menyayangi putranya.


Rasa ingin mencari tidak ada terlintas dipikiran Rendra.


"Sekarang katakan apa yang kamu inginkan?."


"Andhra hanya ingin sekolah di Jerman."


"Kalau itu papi tidak mengijinkan kamu pergi."


"Tapi kenapa pih?" tanya Andhra menatap tajam papi nya.


Rendra mulai tersulut emosi dengan pertanyaan Andhra.


"Apa kamu akan pergi juga seperti mommy kamu meninggalkan papi?." bentak Rendra dengan Nanda tinggi.


Seketika Andhra mengatupkan bibirnya."Tidak Pih sampai kapan pun Andra tidak akan pergi meninggalkan papi."Ucap Andhra lirih.


Andhra memeluk tubuh kekar papi nya."Andhra sayang papi."


Rendra yang sudah tidak tahan lagi membendung air matanya, mengalir begitu saja."Maafkan papi karena sudah membentak kamu, hanya saja papi tidak ingin kehilangan orang yang paling papi sayangi.


Rendra beranggapan bahwa Tania masih berada di negara Jerman. Ia takut jika sampai Andhra bertemu dengan Tania dan meninggalkan Rendra.


"Baik lah, kalau begitu Andhra akan selalu bersama papi, Andhra tidak akan pernah meninggalkan papi."


"Terimakasih sayang, papi pergi meeting dulu Andhra sama mbok ya?."


"Oke pih."


Selama tiga tahun itu banyak wanita yang mendekati Rendra, berusaha mendekati Andhra dengan segala cara mengambil hati Andhra tapi tidak ada satu wanita pun yang berhasil meluluhkan hati Andhra. Rendra hanya ingin Andhra merasa nyaman dengan sekian wanita yang datang mendekatinya. Ia tidak perduli dengan perasaannya, seandainya ada satu wanita yang tulus bukan memandang materi Rendra berjanji tidak akan mengulanginya seperti cintanya dengan Tania.


******


Di tempat lain Tania memandang takjub dengan kecantikan Marissa, Tania mulai merasa ketakutan jika Rendra akan tergoda dengan Marissa.


"Kita berangkat sekarang, sebentar lagi meeting akan mulai kita harus tiba tepat waktu."


Bagaimana jika mas Rendra tergoda dengan Marissa, tentunya aku akan kehilangan Mas Rendra selamanya.


Come on tania bukan kah ini rencana mu, dia akan tergoda padaku bukan pada Marissa.


Ciiiit...! tiba-tiba Tania ngerem mendadak.


"Maaf maaf tadi saya melamun."


"Bu Tania baik-baik saja?." tanya Marissa pasalnya sejak keluar dari salon Tania Melamun sepanjang perjalanannya.

__ADS_1


"Ya aku baik-baik saja, hanya saja ada sedikit yang mengganggu pikiranku saya cemas, jika tidak bisa memenangkan tender besar ini."Tepis Tania.


"Kalau ibu, capek biar aku saja yang mengemudi bagiamana?."


"Kau bisa mengemudi?"


Marissa menganggukkan kepalanya.


"Baik lah, sebentar saya menepi dulu."


Gadis ini cantik baik dan juga cerdas, kenapa aku jadi merasa khawatir bagiamana kalau mas Rendra tergoda dengan Marissa, Oh! tidak itu tidak akan terjadi. Gumam Tania sambil memijat pelipisnya merasa pusing.


Tiba di tempat tujuan, Tania turun dari mobil lebih dulu, lalu di susul Marissa sambil memencet tombol remote mobil.


Marissa mengikuti langkah Tania memasuki lobby Restoran, pelayan menyambut kedatangan Tania dan Marissa.


"Selamat sore Bu, apa sudah memesan meja terlebih dahulu?."


"Ya saya sudah buat janji dengan Tebel atas nama Rendra Wiratama."


"Baik, mari ikuti saya."


Jantung Tania mulai tidak beraturan, rasa itu ternyata masih ada getar-getar cinta pada suaminya itu.


Tania melihat Rendra dari kejauhan tampak tampan tidak berubah hanya saja tubuh Rendra yang sedikit gemuk dan di tumbuhi bulu-bulu di wajahnya.


"Silahkan Bu." ucap si Mba pelayan.


"Selamat sore pak Rendra." sapa Tania


"Selamat sore." Rendra bergegas berdiri mempersilahkan duduk.


Rendra saling berjabat tangan Tania menarik kursi lalu duduk dengan tenang.


"Apa kita mulai sekarang presentasi nya?." tanya Rendra acuh.


Kenapa dia begitu cuek apa dia tidak melirikku sedikit pun. Gumam dalam hati Tania.


"Bu SERENA apa kita bisa mulai?."


"Ah! iya bisa." jawab Tania gugup.


Marissa yang sedikit aneh, pandangan atasannya itu berada sekali, seperti ada sesuatu yang mengganjal dipikirkan nya, kalau pun atasan menyukainya tentunya Marissa akan menolak sebisa mungkin, untuk mencari alasan.


Sementara Rendra memperhatikan gerakan bibir Tania saat presentasi. Bibir itu seperti mengenal bibir yang sudah lama tidak bertemu.


Gadis ini benar-benar cerdas wajar saja jika perusahaannya berkembang pesat dengan jangka waktu yang cepat.


Rendra tepuk tangan selesai Tania presentasi.


"Sangat bagus," ide-ide cemerlang yang di keluarkan Tania saat presentasi dengan perusahaan Wiratama. Ia sengaja bekerja sama dengan perusahaan Wiratama group agar bisa dekat dengan Rendra.


"Bagaimana pak Rendra, apa kah perusahaan kami bisa bekerja sama dengan perusahaan Wiratama?."


Ponsel Rendra berdering. Pembicaraan pun terpotong.


"Sebentar," Rendra menerima telepon dari Andhra.


Rendra menerima telepon dengan berisik sehingga Tania tidak bisa mendengar percakapan Rendra entah dengan siapa.


"Maaf ya anak saya telpon."


Deg! Tania yang sudah lama merindukan sosok putranya hatinya seperti teriris silet perih nafas terasa terhenti.


"Tidak masalah pak Rendra, apa anak bapak sudah besar?"


"Ya anak saya sudah mulai masuk Sekolah Penengah Pertama."jawab Rendra singkat.


Ya Allah aku sangat merindukan putraku, bagaimana wajahnya sekarang, apa dia masih mengenaliku. Gumam dalam hati Tania.


"Baik lah meeting kita akhiri." Rendra bergegas berdiri berjabatan tangan dengan Tania dan Marissa.


"Mas..." Tangan Tania menghentikan langkahnya tapi seketika dia mengurungkan niatnya.


Tania menjatuhkan tubuhnya di kursi tempat dia duduk, ia tertunduk rasanya sakit melihat Rendy mengabaikan nya.

__ADS_1


Marissa menyentuh pundaknya."Bu, Serena baik-baik saja?."


Tania mengangkat kepalanya."Iya aku baik-baik, Marissa apa kau bisa bermalam di rumah ku?."


Tania sepertinya butuh teman bicara. Ia percaya kalau Marissa bisa menjadi teman yang baik.


"Baik, Bu tapi sebelumnya aku minta ijin ibu dulu, aku khawatir ibu akan mencari ku."Ujar Marissa.


"Biar aku hantar ke rumah mu ya."kata Tania.


Marissa menganggukkan kepalanya. Mobil mini Cooper melaju ke arah kediaman Marissa. setelah beberapa menit perjalanan tiba di sebuah kota kecil, sampah-sampah berserakan dimana-mana, Tania menutup hidungnya bau sampah itu sangat menyengat di hidung.


"Marissa, apa kau tidak merasa bau?" tanya Tania penasaran sebab Marissa seperti biasa saja tidak merasakan bau apa pun.


"Tidak Bu, saya sudah terbiasa, maaf ya Bu."


"Hemm." Hebat gadis ini benar-benar kuat menjalani kehidupan yang serba pas-pasan.


Jarak dari jalan raya Tania melintasi koridor yang sesak sepertinya untuk di lalui tapi bagi Marissa, koridor ini cukup di lalui motor.


Marissa belok di rumah urutan nomor 5. pintu yang sudah tepoh cat yang mulai memudar. Bagi Tania tempat ini tidak layak di huni.


Assalamualaikum...., Saut Marissa. sambil mendorong pintu.


Krek.


Waalaikumsalam..., wanita paruh baya itu menjawab salam putrinya.


"Mari Bu masuk, maaf keadaan rumah saya seperti ini."


"Marissa ibu kamu kemana?." penasaran Tania mendengar suara tapi tidak muncul seiring dari dalam kamarnya.


"Kamu sudah pulang Nak?, kamu sama siapa nak?."


"Sebentar Bu, saya temui ibu saya dulu."


Marissa membuka gorden kamar ibunya."Ibu mau makan?"


Diam-diam Tania mengikuti Marissa ia penasaran.


"Siapa dia?."


Marissa Marissa menengok nampak Tania berdiri.


"Ibu mu kenapa Marissa?," Tania bergetar Tania ingin tahu.


Marissa terdiam.


"Marissa?, apa sudah kamu bawa ke rumah sakit?"


Marissa menggelengkan kepalanya, tertunduk.


"Ibu kamu sakit apa Marissa?" cecar tania ingin membantu Marissa.


Marissa tidak menjawab hanya diam entah apa yang harus di katakan pada bos nya itu.


"Marissa aku tanya ibu mu sakit apa?."


"Hemm, itu Bu, ibu sakit biasa, Vertigo Bu." jawab Marissa pelan.


"Vertigo kamu bilang biasa Vertigo itu bisa bahaya, lebih baik ibu kamu kita bawa ke rumah sakit." Ujar Tania.


"Tidak usah Bu, saya tidak ingin merepotkan siapa pun."


"Hayo Marissa, kita bawa ke rumah sakit, kamu tidak usah pikirkan biayanya, soal biaya menjadi tanggung jawab ku."


"Tapi Bu," protes Marissa.


"Tidak ada tapi-tapi, tunggu apa lagi. Hayo cepat'.


"Baik Bu,"


Marissa memapah ibu nya, menuju mobil, Tania membantu Marissa memapah kanan-kirinya.


Sedih sekali nasib mu Marissa, seandainya aku sejak dulu mengenal mu, mungkin aku akan membantu mu sebisa ku. Kontrakan yang tak layak huni pakaian tak layak kamu pakai. Tapi aku bangga sama kamu Marissa kamu bisa menjalani hidup tanpa pernah mengeluh tentang kehidupanmu.

__ADS_1


...----------------...


......Like komen end Rate thank All


__ADS_2