Menikah Dengan Pria Arogan

Menikah Dengan Pria Arogan
Bab 46


__ADS_3

Otak licik Vania.


Wajah hantu yang bernyawa itu seperti Vania yang menatap tajam Mbok, seakan tidak perduli dengan sekeliling nya, dia tidak sadar kalau tempat yang Ia sekarang tinggali adalah pemiliknya wanita yang sekarang suaminya sedang ia dekati.


"Mbok tolong belikan saya martabak." Perintah Vania, pada Mbok, seakan Ia tahu kalau Mbok sedang mengamati gerak-gerik Vania.


"Vania mana ada martabak pagi-pagi gini?." protes Rendra.


"Mas kamu tahu kan kalau aku ini sedang hamil, ini bukan mau ku, tapi kemauan bayiku."


"Panggil saya pak!."Bentak Rendra.


"Iya maksudnya pak." Vania menunduk kepalanya.


"Maaf, Mbok bekerja untuk Nyonya Tania, jadi kalau mau lebih baik pesan online saja, permisi." Jawab Mbok ketus menolak permintaan Vania.


Wanita berambut blonde itu melipat wajah nya, kesempatan untuk mendekati Rendra pun hilang kerena tiba-tiba Vania datang menuruni tangga.


Wanita tua itu benar-benar kurang ajar, berani nya dia melawan ku, dia belum tahu siapa aku sebenarnya, aku adalah nyonya muda di rumah ini, awas!, saja kalau aku sudah menjadi nyonya akan aku depak dari rumah mewah ini. Cibir dalam hati Vania.


"Mas...," panggil Tania.


"Iya sayang...," jawab Rendra.


"Kamu sudah sarapan?, ini siapa yang buatkan sarapan?."tanya Tania melihat sudah ada tersedia makanan di hadapan Rendra.


"Vania sayang yang buatkan, sini duduk." kata Rendra.


"Ya ampun Vania maaf ya aku kesiangan, jadi merepotkan kamu." Ucap Lirih Tania.


"Tidak apa-apa Tania, kebetulan aku tadi bangun lebih awal, Andhra juga sudah berangkat ke sekolah."


Setelah sarapan Rendra pamit ke kantor, Tania mengantarkan Rendra sampai halaman rumahnya.


"Pak Rendra, apa saya boleh numpang sampai depan?."tanya Vania.


"Loh, kamu mau kemana Vania?." kata Tania.


"Aku mau ketempat temanku dulu, mungkin sore baru pulang tidak apa-apa kan Tania?."


"I..ya tidak apa-apa, ya sudah Mas Rendra hantar Vania sekalian ya."Ujar Tania.

__ADS_1


"Sayang kamu saja ya, aku buru-buru." kata Rendra, sengaja menolak.


"Oh Gitu, ya sudah kamu hati-hati ya Mas.., jangan lupa makan siang."


Ah! Tania aku kan sengaja agar Pak Rendra menghantar aku cari rumah seperti yang sudah Ia janjikan tadi malam. Kesel dalam hati Vania.


Dengan langkah berat Vania masuk kedalam mobil Tania, mulut komat-kamit gerutu.


Mobil melaju ke luar gerbang kediaman, Wanita yang usianya lebih tua Tania itu melirik malas, Ia menghadap samping. Tanpa ada obrolan layaknya majikan dan supir.


"Kita kemana, Vania?." Ucap Tania


"Di depan berhenti ya."Perintah Vania.


"Di depan?, biar aku hantar sampai rumah teman kamu itu ya?." Ujar Tania.


"Tidak usah, sudah dekat kok, biar aku jalan kaki saja lagi pula jalan menuju rumahnya itu sulit untuk lalui pengendara mobil."Kata Vania.


"Ya sudah kamu hati-hati ya kalau pulang naik taksi saja nanti bayar di rumah."


"Baik, terimakasih Tania saya pergi dulu." Ucap Vania sambil keluar lalu menutup kembali pintu mobilnya.


Vania berdiri sampai mobil Tania tak terlihat lagi, kemudian Vania bingung harus harus kemana pasalnya ia mengatakan kalau akan ke rumah temannya itu adalah alasan agar ia bisa pergi dengan Rendra.


"Vania menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Terus gue mau kemana?, masa sih gue ke kantor pak Rendra datang tiba-tiba tidak ada tujuan langsung ke pokok intinya tidak mungkin kan?."


Kring...Kring..., ponsel tanya berdering.


Tania memasang handset di telinganya."Halo Mas..., ada apa aku masih di jalan ni baru selesai menghantar Vania."Jawab Tania telpon dari Rendra.


"Sayang apa kita bisa bicara?, kalau bisa langsung ke kantor saja, kebetulan Dady membawa puding kesukaan mu." balas Rendra.


"Oke, meluncur, eh tapi Andhra bagaimana?." bimbang Tania.


"Sudah biar nanti pak Pak kadir yang menjemput langsung ke hantar ke kantor."


"Baik, Mas aku langsung ke kantor ya?."


"Iya sayang aku tunggu ya."


Rendra mengakhiri panggilan telponnya, Ia bersandar di kursi kebesarannya. Aku pikir kamu sudah berubah, awalnya aku kasihan tapi setelah aku tahu memperlakukan Mbok tidak baik rasa kasihan ku hilang dalam sekejap, ternyata kamu tidak akan pernah bisa berubah, kamu pikir aku serius dengan ucapan ku, aku bukan orang bodoh yang mudah kamu rayu, sebaik nya aku akan menghubungi Lexsi aku harus tahu kebenaran nya aku tidak ingin dia berlama-lama di rumahku dan membawa masalah di dalam rumah tanggaku dengan Tania."Gerutu Rendra sambil memutar-mutar pulpen di tangannya.

__ADS_1


Rendra menyalakan ponsel menghubungi Lexsi, tapi melihat Tania datang Rendra mengurungkan niatnya.


"Hai sayang." Rendra menyambut kedatangan Tania mencium bibir nya.


"Ada apa Mas..., kok sepertinya serius sekali?." tanya Tania sembari menarik kursi berhadapan dengan Rendra.


Rendra menarik nafasnya ia mengambil langkah cepat Vania harus keluar dari kediamannya.


"Soal Vania sayang.., sebaiknya kita carikan rumah sewa saja untuk dia."


"Rencana ku sih seperti itu, tapi aku kasihan Mas kalau dia harus tinggal di luar sendirian."


"Ya aku sependapat dengan mu sayang, tapi Vania itu tidak akan bisa berubah sampai kapan pun, yang ada kita akan berantem terus, aku tidak suka cara dia perlakuan anak kita dan juga Mbok."Ungkap Rendra.


"Masa sih Mas...?." penasaran Tania.


Apa benar apa yang di katakan Mas Rendra, Hem.., kita lihat Vania Larissa yang katanya pandai kita buktikan siapa yang lebih pandai.


"Kita jebak saja Mas.., bagaimana menurut kamu?."


"Tidak, kalau harus mengorbankan aku, aku tidak setuju." protes Rendra.


"Bagaimana kalau kita undang kak Lexsi?."Ujar Tania.


Rendra berpikir kalau Lexsi bisa di andalkan Lexsi bisa membawa Vania keluar dari rumahnya." Batin Rendra.


"Baik, kita undang Lexsi makan malam." Kata Rendra.


"Kalian bagaimana sih.., sudah tahu kalau didalam rumah tangga itu tidak boleh ada orang lain di rumah, kecuali keluarga itu kerabat dekat." Ucap Tomi yang baru saja masuk mendengar percakapan anak menantu nya.


"Dady." sapa Tania menyalami Tomi


"Apa perlu Dady yang mengusir wanita itu?."sungut Tomi


"Tidak usah Dady, kasihan dia sedang hamil, Tania tidak tega mengusir nya." kata Tania.


"Dia akan menjadi bumerang rumah tangga kalian, Dady tidak akan bisa maafkan wanita itu kalau kamu tidak tega Carikan tempat tinggal untuk dia, tidak boleh satu rumah dengan kalian." Ujar Tomi.


"Rencana kita seperti itu Dad, dia hamil anak Lexsi, jadi kita harus bicara kan dulu dengan Lexsi." Sambung Rendra.


"Lexsi! apa kalian yakin itu anak Lexsi?, kalau iya kalian sekarang kasih tahu Lexsi, jangan menunda-nunda masalah yang seserius ini kalian begitu santai." Tomi pun sangat marah.

__ADS_1


Tomi melangkah pergi dari ruangan kerja Rendra, wajah merah terbakar emosi, kalau ia terus berada di ruangan kerja Rendra, Tomi takut kalau jantung nya tiba-tiba menyerang nya lagi, maka itu Tomi memilih pergi.


...----------------...


__ADS_2