
"Rahasia terungkap"
Setelah 3 hari dalam perawatan Tania masih belum juga sadarkan diri, seperti apa yang di katakan oleh dokter, benturan keras di kepala Tania membuat Tania kehilangan kesadaran nya untuk beberapa hari ke depan.
"Tania..., kamu harus kuat ya, Andhra pasti merindukan mommy nya. Sekarang aku lap badannya, kamu kan sudah tiga hari tidak mandi."Rendra terus mengajaknya bicara.
Sebagai seorang suami, Rendra tentu berat mendengar penyakit yang menyerang istrinya, menemani istri yang sedang terbaring melawan menyakitinya Rendra begitu telaten merawat Tania walaupun harus meninggalkan pekerjaannya. Besarnya cinta Rendra pada sang istri tidak di ragukan lagi, meskipun tak pernah mengungkapkan perasaannya, tapi dari dalam lubuk hati yang dalam Rendra begitu menyayangi Tania.
Ponsel Rendra menyala berdering.
"Halo" jawab Rendra.
"Pak Rendra aku dengar Bu Serena sakit?" tanya Marissa.
"Iya bener" jawab Rendra singkat.
"Apa saya boleh datang untuk menjenguk Bu Serena?" kata Marissa.
"Terimakasih, sebaiknya tidak usah dulu, doa kan saja Tania cepat sembuh."
"Baik, pak kalau begitu saya tutup dulu telponnya terimakasih maaf sudah menggangu."
Marissa adalah salah satu teman Tania yang baru saja di kenalnya, namun begitu Tania sangat mempercayai Marissa, ia yakin Marissa adalah gadis yang sangat baik.
Rendra kembali menggenggam tangan Tania.
"Aku masih ingat pertama kita menikah, malam itu kamu begitu sulit membuat resleting yang ada di balik punggung mu, dan akhirnya gaun itu robek. Dan kamu begitu panik. Waktu itu aku rasanya ingin sekali tertawa melihat wajah panik mu di depan cermin kau begitu lucu."Kenang Rendra sambil tersenyum, satu tangan lagi menggenggam jari lentik sang istri.
Kini wajah yang cantik dan lucu itu penuh dengan selang, bahakan untuk bernafas lega pun sepertinya tidak bisa.
Tes. Air mata mengalir dari wajah gadis cantik beranak satu itu.
Kamu tidak usah sedih aku tidak akan meninggalkan kamu sedetik pun disini. Seperti janji ku pada papa Sapto saat menghembuskan nafas terakhirnya, aku akan selalu menyayangi kamu. Kamu marah ya aku tidak seperti pria lain yang pandai merayu, ini lah aku suamimu, tapi percayalah aku sangat mencintaimu.
Rendra begitu leluasa mengungkapkan perasaannya, selama ini selalu kaku dan tidak pernah bersikap manis.
Di tempat lain. Andhra memaki semua orang yang ada di rumah, bahkan ia tidak yakin kalau papi nya berada di luar negeri tanpa pamit lebih dulu.
Bibi sudah tidak sanggup menanganinya lalu bibi menghubungi tuan Tomi.
"Halo tuan besar, den Andhra ngamuk-ngamuk menanyakan den Rendra."
"Ya sudah Bi, biar saya ke sana nanti."
"Baik tuan saya tutup dulu telponnya."
Klik.
Tanpa berpikir panjang tuan Tomi meninggalkan pekerjaannya, dan mempercayakan semuanya pada Romi.
"Romi kamu Handle semuanya, saya pulang dulu."
"Baik Tuan"
Kenapa orang baik selalu saja di timpah masalah. Gumam Romi.
Jarum Jam Dinding rumah sakit menunjukkan pukul jam 11 siang.
Nampak wanita cantik berjilbab mendorong pintu dengan pria tubuh tegap memasuki ruangan.
"Selamat siang Tuan Rendra." Sapa dokter
"Siang Dok"
"Waktu Non Tania cek ya, sebaiknya tuan tunggu di luar dulu"
"Saya tidak mau meninggalkan istri saya, tolong jangan minta saya keluar dari ruang ini, satu lagi dokter pria ini tidak boleh menyentuh istri saya."
"Perkenalkan ini dokter Nando, dokter Nando ini tuan Rendra anak dari pemilik rumah sakit ini, dokter Nando ini dokter ahli syaraf. Dan Non Tania bakal di tangani oleh dokter Nando, dan dokter Nando ini dokter spesialis kangker lulusan S2 Jerman, kami mendatang kan dokter terbaik untuk non Tania."
"Tapi dia lelaki saya tidak mau istri saya di sentuh oleh lelaki lain."
"Tuan Rendra tenang saja dokter Nando ini tidak akan berbuat macam-macam, saya akan selalu mendampingi dokter Nando." Ucap dokter Arisaka sambil tersenyum.
Terlihat garis senyum di bibir dokter Nando saat Rendra menyetujui permintaan dokter Arisaka.
Setelah mengecek kondisi Tania Dokter Arisaka dan Dokter Nando pun pamit keluar.
"Permisi tuan muda." ucap dokter Arisaka dan dokter Nando.
__ADS_1
Rendra tidak menjawab Rendra juga tak mengalihkan pandangannya hanya mengangguk kan kepalanya pelan.
KOMPLEK PERUMAHAN ELITE.
Di kediaman Rendra, Andhra menangis meraung-raung menghancurkan seisi yang ada di dalam kamarnya.
Beberapa menit kemudian mobil yang di tumpangi Tomi memasuki halaman rumah. Di sambut oleh pak Kadir mendorong gerbang.
"Selamat siang Tuan besar" sapa pak Kadir.
"Siang juga Kadir, saya ke dalam dulu ya."
"Baik tuan besar" Jawab pak Kadir sambil membungkukkan badannya tanda hormat pada tuan nya.
Tomi langsung masuk ke dalam rumah karena pintu tidak terkunci.
"Tuan besar" sapa Bibi sambil lari-lari kecil.
"Dimana Andhra?" tanya Tomi.
"Di kamarnya Tuan" kata Bibi.
Kemudian Tomi melangkah pergi meninggalkan bibi menuju kamar Andhra, tiba di kamar Andhra kamar tidur sudah berantakan seperti kapal pecah tak berbentuk.
"Hai! Cucu opa kenapa? ada apa coba ceritakan sama Opa ada apa ini?"
Tomi mendekati Andhra sedang duduk di ujung ranjang.
"Opa hantar Andhra ke tempat Tante baik, Papi kemana opa apa betul ke luar negeri? kenapa tidak pamit Andhra, kalau papi ke luar negeri Andhra bisa ke tempat Tante baik."Ucap Andhra.
Tomi mendengar ucapan Andhra hatinya seperti tersayat, kenyataannya Rendra tidak pergi kemana pun, ia menjaga Tania yang sedang sakit.
Saya harus jawab apa. Gumam Tomi.
"Andhra opa mendengar berita, kenapa Andhra bisa senekad itu? Andhra tidak tahu bahayanya di luar sana kalau bertindak gegabah." Tepis Tomi mengalihkan pertanyaan Cucu nya Andhra.
"Opa tidak tahu? Tante baik itu dalam keadaan bahaya, sementara Andhra posisi ada di tempat itu apa Andhra harus diam saja?" kata Andhra.
"Andhra yakin tidak ada kesengajaan datang ke restoran itu?"
Andhra terdiam sejenak, pasalnya Andhra memang sudah tahu kalau Tania ibu nya yang di anggap Tante baik itu, akan datang ke restoran itu, dan Andhra tidak ingin Tania bersama pria lain, Andhra berpikir kalau Tante cantik itu hanya lah milik papi nya, tidak boleh ada yang memiliki selain papi nya.
"Jawab pertanyaan Opa"
"Lalu kenapa?, bukan kah itu hak Tante, makan malam dengan siapa pun?" Tomi terus mencecar pertanyaan untuk Andhra.
"Tidak boleh!" Sungut Andhra.
Apa ini saatnya mengatakan kalau Tante yang dia anggap selama ini adalah Tania, sekarang Tania sangat membutuhkan Andhra untuk membantu membangkitkan semangat Tania dari penyakitnya. Apa Andhra bakal menerima kehadiran Tania.
"Andhra sini dekat Opa" Ucap Tomi sambil menepuk-nepuk kasur di sampingnya.
Andhra pun mendekat ke arah Tomi, dia duduk menggelayut sambil bersandar. Tomi mengusap-usap kepala Andhra.
"Opa mau tanya sama Andhra, apa Andhra siap mendengarkan pertanyaan Opa?"
Andhra mengangguk pelan."Andhra siap Opa"
"Opa lama nih, mau tanya apa sih?"
"Seandainya, tante baik itu adalah mommy, apa tanggapan Andhra?" tanya pelan.
Degh!.
"Tidak mungkin Opa, Tante ya Tante, mommy beda dengan Tante, Mommy adalah ibu yang melahirkan Andhra, mommy tidak akan tergantikan."
"Opa mengerti sayang, tapi sekarang mommy sedang melawan penyakitnya, mommy sangat membutuhkan Andhra, opa minta Andhra tidak boleh membenci mommy, seperti yang tadi Andhra katakan mommy orang tua yang sudah melahirkan Andhra."
Tanpa sadar Tomi menitikkan air matanya, bulir bening mengalir begitu saja, tanpa bisa bendung.
"Opa bohong kan?!"
Maafkan Dady Rendra Dady harus mengatakan nya pada Andhra. Andhra berhak tahu kalau mommy sedang sakit.
"Opa Hanter Andhra ke mommy, Opa...!"
"Opa.....!, hiks....hiks, Andhra sayang sama mommy....,"
Tomi pun tak tahan mendengar tangisan Andhra. Ia memeluk tubuh Andhra dengan erat."Opa akan hantar Andhra ke mommy tapi janji Andhra tidak boleh buat mommy banyak pikiran atau sedih, Andhra harus buat mommy semangat oke."
__ADS_1
Andhra mengangguk kepalanya dengan cepat."Andhra janji opa."
"Baik lah kita berangkat sekarang?"
Andhra kembali mengangguk.
Di rumah sakit. Rendra teriak memanggil dokter.
"Dokter...!"
Tania..., bertahan lah sayang....,
Dokter..!.
Tidak lama dokter pun datang memasuki ruangan.
"Tuan Rendra silahkan tunggu di luar, biar kami bekerja dengan tenang."
"Tapi Dok?"
"Percayakan pada kami"
Akhirnya Rendra menuruti perintah dokter. Rendra terus mondar-mandir di depan pintu. Rendra Mengatup kan bibirnya, merasakan sesak begitu mendera, saat ini Rendra belum siap untuk kehilangan Tania. Ia akan menebus kesalahannya selama ini pada Tania. Rendra menunduk sambil mengusap air matanya.
Tiba-tiba seseorang menepuk pundak Rendra dari belakang punggungnya.
"Ada apa dengan Tania?"
"Tania tadi sadar Dady"
"Alhamdulillah, kalau sudah sadar"
"Andhra?, kenapa ada disini?" pekiknya kaget
"Kenapa aku tidak boleh?, mommy itu yang melahirkan Andhra, kenapa papi sembunyikan ini semua sama Andhra?"Sungut Andhra.
"Ini bukan waktu bahas itu, sekarang doakan mommy semoga mommy tidak apa-apa"
Wanita yang sangat ia cintai, sekarang tak berdaya, dengan kejamnya Abercio mengabaikan teriakannya andaikan saja tidak telat ke rumah sakit mungkin Tania tidak akan mengalami ketidak sadarkan diri selama ini.
Belum cukup sampai disini, Rendra akan membalas kan dendamnya, pada Abercio yang sudah buat Tania terluka dan pingsan.
Beberapa menit kemudian dokter keluar dari ruangan. Rendra langsung menyambar dokter.
"Bagaimana? keadaan istri saya dok."
"Istri tuan muda baik-baik saja, ini mujizat dari Allah, Nona Tania sadar lebih awal."
"Alhamdulillah"
"Alhamdulillah"
"Alhamdulillah"
Menjawab serempak.
"Ibu dokter Andhra sudah boleh lihat mommy kan?"
"Anak tampan, boleh tapi tidak boleh berisik ya mommy masih perlu istirahat" Ucap Dokter sambil mencubit hidung Andhra.
"Oke ibu dokter"
Andhra pun langsung menerobos masuk ke dalam.
"Tante..., baik" Lirih Andhra. Mundur satu langkah setelah yang di lihat bukan lah wajah Tania melainkan yang dia sebut Tante selama ini.
Tania menitikkan Air matanya."Andhra sini nak"panggil Tania.
Andhra langsung mundur keluar dari ruangan itu. Ia masih belum menerima kenyataan kalau yang selama ini dia sebut Tante adalah ibu yang sudah lama meninggalkannya.
Rendra menoleh pada Andhra. Andhra terdiam dengan wajah sendu. Tomi menghampiri Andhra yang masih berdiri mematung di depan pintu."Ternyata wanita itu mommy ku, Opa?"
Tomi mengangguk pelan" Tadi Andhra sudah berjanji sama opa kan? Andhra harus buat mommy semangat."
Rendra menggiring Andhra kembali masuk menemui Tania.
Andhra mendekati ibu nya yang terkapar lemah di kasur rumah sakit, Andhra memeluk ibunya dengan kasih sayang."Mommy harus sembuh.., kita kumpul lagi seperti dulu. Ucap Andhra sambil berderai air mata.
Ada gurat kesedihan terpancar dari sorot matanya, melihat putranya menangis dalam pelukannya.
__ADS_1
...----------------...
Hai guys terimakasih ya sudah mampir di karyaku.